Question of the day: jadi penyihir atau superhero?
Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟
Malu terlambat datang ke tengah obrolan semalam, tetapi di pagi hari dia menghantam seperti topan.
Aku menghindari Benjamin layaknya dia penyakit menular dengan berpura-pura tidur di ujung ranjang dan membelakanginya, hingga aku ketiduran beneran.
Benjamin memang suamiku, tetapi bukannya aku juga mau dipakaikan baju olehnya. Atau bagian paling buruk dari sebelum itu: dia melihatku tidak dengan sehelai benang yang menempel di kulit. Biarpun dia suami yang aku nikahi karena keuntungan, aku juga ingin tampil maksimal saat dia melihatku dalam keadaan seperti itu. Bukan karena aku peduli pada tanggapannya, lebih ke arah egoku yang ingin tampil prima dan puas melihat pantulanku sendiri di cermin. Benjamin yang menatap penuh tertarik juga menjadi tambahan yang menyenangkan.
Bukannya aku peduli juga dia tertarik atau tidak. Dia mendapatkan apa yang dia lihat dan tidak ada refund, tapi pengembangan bisa dibicarakan. Terima kasih.
Aku memasang telinga untuk memastikan mataku tidak tertangkap tengah terbuka saat Benjamin keluar kamar mandi.
Aku membuka selimut, menatap tubuhku yang masih berbalut kaos Benjamin. Perutku sedikit menyembul akibat makan yang terlalu banyak untuk mengimbangi aktivitasku yang bertambah. Tidak rata seperti para influencer yang berdiet, atau kotak-kotak layaknya orang yang rajin olah raga.
Taringku menancap pada bibir bawah. Memikirkan kebodohanku semalam dan juga konsekuensi yang harus aku hadapi hari ini. Aku ingin mengubur diri sendiri atau memasukkan tubuh ini ke dalam peti dan dikirim ke kutub selatan.
Kepalaku ruwet sendiri karena tidak tahu harus bersikap seperti apa saat nanti mau tidak mau aku bertatap muka dengan Benjamin. Aku tidak mungkin berpura-pura tidur terus, kan? Bisa-bisa nanti dia melarikanku ke rumah sakit.
Pintu kamar mandi terbuka dan tirai mataku melakukan yang sebaliknya. Memaksakan tubuhku untuk rileks di balik selimut tebal yang menutup hampir ke hidung. Telingaku terbuka lebar, mendengarkan langkah kaki Benjamin. Sedikit panik saat suaranya mendekat, refleks aku menahan napas menunggunya untuk keluar kamar.
Tidak ada suara lagi hingga sesuatu yang dingin menyentuh dahiku. Aku sedikit terlonjak di atas ranjang, tapi tetap memainkan peran pura-pura baru bangun tidurku dengan membuka sebelah mata saja. Ada punggung tangan yang berjarak tidak sampai satu jengkal dari dahiku. Beralih ke atas sedikit aku dapat melihat Benjamin yang sudah mengenakan kemeja batik dan lagi-lagi pantalon hitamnya.
Dia ngecek suhu gue?
"Kenapa?" tanyaku karena Benjamin langsung menarik tangan dan berjalan menjauh, seolah pencuri yang ketahuan hendak mengambil sesuatu.
Dia berdeham. "Aku mau cek kamu hidup atau enggak."
"Sejak kapan hidungku pindah ke dahi?"
Benjamin tidak menjawab. Dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya lalu melakukan ritual merapikan rambut dengan gel. Sesekali tatapan kami beradu melalui cermin seukuran tubuh di samping lemari. Entah aku yang melengos atau dia duluan yang mengalihkan pandangannya.
Jadi kami tidak membahas kejadian semalam? Apa yang subuh tadi sudah cukup? Tapi tidak adanya obrolan mengenai semalam membuatku sedikit lega.
Aku kini sudah duduk menyandar di dipan ranjang. Berpura-pura tidur juga sudah tidak bisa. Tapi aku masih terikat dengan ranjang dan bantal empuk yang menyanggah tubuh bagian bawahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)