How This Story Ends - 35 - Benjamin, Wajah yang Memerah, & Mantan Pacar 16.2

9.6K 744 53
                                        


Question of the day: bisa terbang atau invisible?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟

Malam hari menjadi yang paling aku tunggu dan ingin lekas aku lalui. Semuanya karena satu orang dan mulutku yang asal bicara.

"Sini, tiduran." Aku mendengar variasi dari kalimat ini setiap malam, tapi gelenyar yang tidak asing selalu muncul di perut dan sekitar kulitku. Terutama karena penampilan santai Benjamin di atas ranjang yang seharusnya tidak menggoda iman. Dari kalimat tadi saja tidak ada yang seksi, apalagi sorot matanya yang all business mode. Tidak ada sinar menggoda atau usil. Dia serius seratus persen.

Aku bahkan tidak perlu dirayu untuk tergoda. Ini yang membuatku frustrasi.

Setiap minggu kami menambah lima menit sebelumnya. Benjamin langsung menentukan lima menit di awal, dan ini minggu ketiga sehingga kami menghabiskan lima belas menit sebelum tidur. dari Benjamin memang rileks di sebelahku, itu bikin aku kesal sejujurnya, karena bisa-bisanya dia santai sedangkan aku deg-degan setengah mampus.

Jantungku seakan mau keluar dari rongga dada hanya karena hal sederhana seperti ini. Aku berdoa agar detaknya tidak terdengar hingga Benjamin, karena suaranya sangat nyaring di telingaku. Terlebih saat kami tidur bersisian dan jari kami bertaut. Dinginnya pendingin ruangan tidak berpengaruh sama sekali. Aku tetap merasa panas dan khawatir kalau telapakku akan basah. Demi Tuhan, ini baru lima menit, kenapa terasa seperti puluhan jam.

Sisi mataku menangkap gerakan dada Benjamin yang konstan. Aku menoleh ke kanan, untuk melihat wajah cowok yang menutup matanya. Warna merah seperti dicipratkan ke wajah suamiku. Kontras sekali dengan tubuhnya yang santai.

Seketika aku merasa tolol karena hanya merasakan ini sendirian, sedangkan cowok di sebelahku bisa tiduran dengan tenang. Seharusnya dia yang gelisah, bukannya aku. Tapi, semenjak kami melakukan ini, dia tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun selain wajah yang memerah.

"Lima menit baru merah, nih."

Dia tidak memberikan reaksi selain gumaman kecil, lalu membicarakan hal yang aku tidak duga. "Kamu ada rencana jual sambal lagi?"

"Kenapa? Dana untuk dapur umum tiris?"

"Enggak. Yang kemarin beli, mau pesan lagi. Seratus jar dengan harga yang sama."

"Siapa yang pesan? Teman kamu?"

"Iya. Kimmy. Dia mau bikin bungkusan untuk apa nggak ngerti."

Dari mana ya aku pernah dengar namanya. Aku coba menggali ingatanku, tapi tidak menemukan petunjuk tentang nama itu. "Aku tanya Kare dulu dia bisa bantuin kapan. Ada dikasih tahu nggak acaranya kapan?"

"Dua minggu lagi, tapi kasih kepastian lusa."

"Okay. Kamu mau tidur? Kalau iya, kita sudahan saja."

"Belum. Kamu tidur duluan saja. Ntar aku yang matikan timer-nya." Tangan kami yang bertaut menyenggol timer yang Benjamin beli untuk aktivitas ini.

"Enggak. Aku belum ngantuk." Yang dia tidak tahu, aku sudah menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara ketika menguap. Aku menutup mulut hingga mataku berarir dan diam-diam mengelapnya dengan ujung jari sebelum mengalir.

Aku memang mengatakan itu, tapi tidak tahu sejak kapan mataku tertutup dan aku terbangun di subuh dengan tangan yang masih menggenggam Benjamin.

**

"Siapa yang pesen sambel lagi?"

"Kimmy." Aku mengulangi nama itu setelah mematikan blender. Mengira kalau itu yang membuat Karenina bertanya untuk yang kedua kalinya, tapi pertanyaan yang sama keluar lagi dari mulutnya untuk yang ketiga kali.

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang