How This Story Ends - 19 - Payback's a Bitch 8.2

9.4K 792 62
                                        





Question of the day: angkat telpon dari no gak dikenal gak?

vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X akudadodado & Tiktok dadodados

Thank you :)

🌟

"If you would call me daddy."

Aku menatap Benjamin seperti apa yang keluar dari mulutnya adalah kegilaan dan memang dia tidak waras menurutku.

"Apa salahnya kamu datang ke rumah orang tua saya untuk bilang kalau kita akan menikah? Itu sudah sewajarnya kan?"

Lagi-lagi cowok itu menatapku ngeri. "You scream crazy in 20 different language. Itu hal yang sulit untuk dilakukan sekarang ini. Jadwal saya sedang penuh-penuhnya. Kamu pikir saya pengangguran?"

"Memangnya bukan?" Kalimatku ini disambut pelototan oleh Benjamin. "Secara harafiah, kamu pengangguran karena masih dalam masa pencalonan, kan? Memangnya ada jabatan calon gubernur, gitu?"

Dia menggumamkan sesuatu seperti "Gue nggak tahu kenapa gue setuju nikahin ini manusia satu."

Aku menahan diri untuk tidak melemparnya dengan gelas minuman di tanganku. Kami berada di rumah Karenina dan ini adalah TKP yang tepat jika aku ingin melaksanakan niatanku. Tidak ada saksi mata dan aku dapat menguburnya di taman belakang. Aku hanya perlu memastikan melalui CCTV kalau tidak ada orang yang melihat kedatangannya malam ini. Pukul sebelas malam lebih tepatnya.

"Kalau kamu tidak meyebarkan data pribadi saya ke akun twitter bodong yang hobi doxing, saya tidak perlu mengambil langkah ini," ketusku. "Saya sudah bilang kalau saya perlu waktu untuk kasih tahu orang tua sebelum data saya tersebar. Ini pernikahan betulan, bukannya sekedar pacaran."

Sejujurnya, aku tidak mau memperkenalkan Benjamin ke orang tuaku. Meskipun itu tidak mungkin karena calon mertua macam apa yang tidak pernah bertemu dengan calon menantunya? Dan Benjamin sudah masuk tahap delusional akut jika berpikir aku akan membiarkannya kabur begitu saja. Juga, dia tidak memberikan tanggapan atau mengatakan tidak, itu berarti apa yang aku duga benar. Si brengsek satu ini yang menyebarkan dataku.

"Kamu mau kalau tiba-tiba ada tersebar berita kalau kamu bahkan belum pernah bertemu calon mertuamu?"

Mata Benjamin menyipit dan bibirnya membentuk satu garis lurus. "Kamu mengancam saya?"

"Nope. Giving you the taste of your own venom."

"Saya dapat dengan mudah mengubur berita yang kamu buat."

"True. Tapi saya dapat dengan mudah pergi ke akun gosip ternama yang akan dengan senang hati menaikkan beritanya. Persona orang baik yang kamu bagun dengan susah payah akan..." Tanganku bergerak dari atas dan turun ke bawah seperti roket sambil bersiul. "Lalu boom!" kataku lantang dengan gerak tangan yang melebar ke samping secara berlebihan.

Aku tidak mungkin pergi ke medan perang dengan tangan kosong. Jadi, aku sudah menyiapkan rencana A sebelum memanggil Benjamin ke sini. Senyum pongahku hanya bertahan sesaat sebelum diganyang oleh Benjamin.

"Kamu lupa kalau orang-orang mudah lupa dengan berita. Perputaran gosip di sini terlalu cepat untuk diam terlalu lama di satu orang saja. Cancel culture juga tidak berlaku di sini. Kamu bisa lihat banyak public figure yang masih wara-wiri di televisi terlepas berita buruk yang melanda mereka." Dia mengangkat bahu santai. Sangat tidak peduli dengan ancamanku dan itu membuatku kesal bukan kepalang.

Tanganku menggenggam gelas terlalu kencang untuk melampiaskan emosi. Ok, ini rencana B. "Kalau begitu, saya akan bilang ke Eyang soal ini. Kita lihat kamu bisa melakukan apa kalau Eyang sudah bicara."

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang