Question of the day: pizza atau spaghetti?
vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X & Tiktok @akudadodado. Thank you
🌟
Bertanya kepada Karenina mengenai hal ini adalah hal yang percuma karena dia sudah berat ke arah uang. Dia belum benar-benar bisa melepaskan gaya hidup lamanya.
"Ya, kalau lo tanya sama gue, jawaban gue sudah pasti ambil kesepakatannya Eyang." Dia menyeruput cocktail yang baru saja selesai dibuat. "It's not that bad you know. Eyang bilang bisa sekolahin lo, kuliahin Bora, hidup orang tua lo juga lebih baik. Kalau pakai akal sehat buat berpikir, gue nggak melihat hal buruk dari itu. Win-win solution for everybody."
Ini lebih buruk lagi kalau aku memasukkan akal sehat ke dalam pembicaraan mengenai topik pernikahan ini. Lo menikah sekarang. Kalau pemilihan sudah selesai lo bisa sekolah keluar. Tanpa lo perlu menunggu beberapa tahun lagi, itu pun belum tentu kalau uang lo nggak kepakai untuk hal lain.
Hal lain yang aku garis bawahi dan aku khawatirkan di sini adalah uang kuliah untuk Deborah dan juga dana kesehatan untuk orang tuaku. Biarpun ada BPJS, ada beberapa penyakit yang tidak dapat dijaminkan oleh kartu ajaib itu, dengan perubahan peraturan yang konstan terjadi setiap gantinya pemimpin pemerintahan, aku juga harus menyiapkan dana darurat untuk berjaga-jaga.
Satu lagi untuk dimasukkan ke keranjang kenapa-menikahi-Benjamin-adalah-pilihan-yang-tepat yang semakin berat di tiap detiknya.
"Bagaimana sama moral gue? Gue ngerasa bersalah ikutan dalam kebohongan orang lain yang dipublikasikan secara besar-besaran. Seenggaknya satu kota tahu pernikahan ini dan kalau sesuai yang lo omongin mengenai keluarganya, satu negara bakalan tahu juga. Bagaimana kalau nanti ketahuan sama orang banyak? Gue yang bakalan jadi bulan-bulanan mereka, bukannya Benjamin."
"Moral lo sudah longsor begitu lo jualan foto kaki buat puasin kinks orang lain demi uang."
Ouch. Tepat sasaran.
Karenina memajukan bibir bawahnya, "Posisi lo memang lebih rentan buat dikunyah sama masyarakat kaalu sampai mereka tahu, tapi kalau nggak ketahuan gimana? Ini kayak kesempatan sekali seumur hidup. Lo bukannya bakalan jadi super kaya dalam satu malam dan bisa kuliahin Bora dengan kemampuan memasak lo. No offense, masakan lo enak banget, tapi perlu keajaiban buat hal ini terjadi.
"Lo harus rasional, Le. Lo sudah ngelakuin ini selama bertahun-tahun dan sekarang harus ditambah lagi karena lo dan rasa tanggung jawab lo untuk kuliahin adik lo? Kita berdua tahu kalau itu nggak bakalan berhenti di kuliah. Gimana dengan biaya tugas-tugasnya Bora? Gimana dengan ongkos, jajan dia selama kuliah? Lo nggak bakalan punya uang sisa buat ditabung, karena kita tinggal googling biaya semesteran kedokteran—bahkan di universitas negeri—nggak murah."
"Berapa Benjamin bayar lo untuk rayu gue?"
"Dia bahkan nggak ngomong sepatah kata ke gue. Sejujurnya, gue ngira gue bakalan dipecat karena ngomong kayak kemarin."
Bayangan hitam yang tinggal di pojok hatiku bergerak secara lambat namun pasti ke seluruh tubuh. Memikirkan masa depan yang tidak pasti selalu membuatku merasa seperti terombang-ambing di tengah lautan hanya dengan satu kayu sebagai pegangan. Aku tahu aku harus bertahan, tetapi aku tidak punya ide bagaimana melakukannya dengan benar. Tawaran Eyang—meskipun Benjamin belum setujui—ibarat pelampung yang dilemparkan oleh yacht.
Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri apakah pilihan ini tepat saat Benjamin mengetuk pintu rumah.
"Husband me up." Adalah kata pertama yang langsung dilontarkan oleh cowok bertubuh besar di depanku. Tidak ada halo, tidak ada apa kabar. Hanya "Husband me up," ulang Benjamin lagi. Seolah-olah aku tidak mendengar yang pertama dengan suara besarnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
Storie d'AmoreTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)