How This Story Ends - 34 - Benjamin, Wajah yang Memerah, & Mantan Pacar 16.1

9.5K 754 56
                                        


Question of the day: 4 tangan atau 4 kaki?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟

Untuk mengetes teori yang tidak terbantahkan dariku, aku menyentuh Benjamin di berbagai kesempatan. Lebih sering di rumah karena dia tidak bisa kabur ke mana-mana, dan aku tidak perlu menjaga perilaku karena adanya orang yang tidak aku kenali, juga dengan reaksi suamiku yang terkadang berlebihan. Entah dia yang langsung kabur dan mengunci diri di kamar atau lari menghindar. Untung saja dia tidak sampai tahap refleks melemparku. Setiap itu juga wajahnya semerah kepiting rebus. Bukan karena kesal, seperti dugaanku pertama, karena wajahnya tidak menunjukkan kemarahan. Di justru ingin menyembunyikan wajah dengan menggunakan apa pun yang dapat diraih.

Minggu kedua, dia tidak bisa menghindariku terus-terusan dengan alasan meeting, sehingga tidak bisa menjemput. Kami harus menempel seperti perangko karena pemilihan yang semakin dekat. Minggu ketiga, dia sudah kembali ke jadwalnya seperti sedia kala; menjemputku di dapur umum.

Aku tidak pernah berpikir mengenai kemungkinan Benjamin yang tidak mau skinship karena malu. Siapa juga yang bisa percaya? Ditertawai sampai terkencing-kencing iya.

Aku menautkan jemari kami di atas meja makan. "Jadi, kalau kamu pegangan lama sama cewek, muka kamu bakalan merah?" Tidak sampai satu menit, seluruh wajah Benjamin, yang tidak tertutup tangan besarnya memerah. Iya, dia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya menggunakan telapak tangan karena aku sudah melempar cushion sofa ke ujung ruangan.

"You are annoying."

"You are cutie pie. Baru ini lihat aki-aki mukanya bisa merah karena pegangan tangan sama anak gadis."

Dia tertawa mengejek. "Kamu nggak semuda itu buat panggil aku aki-aki."

"Kamu kelas 4 SD, aku baru berojol. Itu kalau bukan kategori tua, apalagi memangnya?"

Benjamin menggerutu di helaan napas panjangnya.

"Dari dulu sudah kayak gini?" Aku menarik tangan Benjamin, hingga tubuh suamiku itu menempel dengan sisi meja. Tangan kanannya aku buka, menengadah ke langit rumah lalu aku rentangkan dengan kedua tanganku.

"As far as I remember."

Aku jadi membayangkan Benjamin kecil yang-tidak-bertubuh-kecil dengan pipi serupa apel saat diajak berkenalan bocah perempuan lainnya.

"Ah, jangan-jangan ini respons trauma waktu kecil yang diejekin sama teman-teman ceweknya ya? Waktu kecil kamu korban intimidasi cewek-cewek karena badan kamu kecil, terus kamu baru bebas dari itu setelah growth spurt."

"Kamu lagi bikin skenario apa, sih, di sini?" Benjamin menyeberangi tubuhnya di atas meja hingga kini jari itu bisa menyentil dahiku cukup kuat. "Ini otak yang sama dengan yang mau nyingkirin dan ambil hartaku." Sekali lagi dia melakukannya.

"Kan aku harus siap-siap kalau mau jadi janda kaya raya kayak Eyang. Biar nggak kagok. Harus latihan dulu dari sekarang."

"Usia pernikahan belum seumur jagung, kamu sudah kepikiran jadi janda."

Tanganku yang tidak lagi menggenggam Benjamin terasa sedikit kosong, dan aku tidak mau keinginan impulsifku adalah menarik tangannya kembali, jadi aku menyembunyikan milikku di bawah meja. Mengunci kesepuluh jari sebagai pengaman tambahan.

"Balik ke muka kamu yang memerah. Itu  jadinya karena apa?"

"Dari kecil sudah begini. Bukan kayak drama picisan yang kamu pikirin."

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang