How This Story Ends - 6 - Sial. Kami Bertemu Lagi 4.1

16.5K 1K 63
                                        




vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X & Tiktok @akudadodado. Thank you

🌟

Minggu pertama bekerja sebagai Personal Chef nggak buruk-buruk amat. Meskipun aku harus datang dengan duffle bag yang berisikan pakaian kerja, lantaran Karenina memaksaku memakai kemeja dan rok span hitam untuk berangkat dan pulan kerja, jangan lupakan high heels yang membuatku jalan terseok-seok.

Aku tidak perlu bekerja hingga makan malam, jika tidak ada permintaan. Itu pun mendapatkan uang lembur dan tambahan lagi karena aku bekerja sebagai Private Chef yang memasak langsung untuk permintaan klien dan memberikan pengalaman lebih intim. Ini biasanya memerlukan pengalaman dan jam terbang yang sangat tinggi. Aku sendiri sedikit heran ada yang mau memperkerjakanku sebagai Personal Chef dengan pengalamanku yang belum banyak. Bahkan sejujurnya, ini gig pertamaku sebagai Personal Chef.

Aku cukup datang pagi-pagi dengan bahan makanan yang sudah dikonsultasikan ke ahli gizi. Membuat sarapan, makan siang, makan malam, serta camilan sekaligus dan klienku tinggal memanaskannya nanti saat dia mau. Jadi, setelah aku selesai mengerjakan semuanya dan memasukkan hasil masakanku ke kulkas, aku bisa langsung pulang.

"Gila, gue nggak biasa sama sekali kerja cuma setengah hari," ocehku ke Karenina kemarin saat matahari sedang tinggi-tingginya di langit, tapi kami sudah berada di sofa. "Kayak otak gue masih nyuruh gerak buat peelkentang atau bersihin udang, atau sikat kerang."

"Sama. Gue tadi pulang lebih dulu dari lo, dan karena gue nggak ada kerjaan, gue masak di dapur. Lo bayangin aja, kita biasanya kecapekan untuk masuk dapur dan berharap buat waktu luang, tapi begitu dapet kerjaan kayak sekarang yang siang sudah nganggur, malah bingung mau ngapain."

Aku memencet remot TV tanpa tahu apa yang aku cari, sehingga layar TV kami hanya berpindah dari satu channel ke channel lainnya. "Kayaknya insting hidup susah gue nggak bakalan bisa hilang, deh. Gue ngerasa bersalah kalau nggak ngapa-apa gini. Apa gue cari kerja tambahan, ya?"

"Klausul kontraknya nggak ngizinin kita buat kerja di tempat lain. Kecuali lo mau cari gara-gara dan bikin dipecat dari tempat kerja sekarang."

Aku meneguk ludah kasar. Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Terutama karena Ayah sedang tidak bekerja, sehingga hanya Ibu yang mendapatkan penghasilan dari jualan nasi uduknya. Aku harus membantu keuangan mereka. Apalagi adikku akan masuk perguruan tinggi dua tahun lagi. Pekerjaan yang sekarang membuatku mudah melakukannya, sekaligus menyisihkan tabungan untuk cita-citaku.

"Lo kira-kira butuh berapa lama buat kumpulin duitnya dengan gaji sekarang?" tanya Karenina sembari memasukkan satu sendok schotel ke dalam mulutnya.

"Nggak tahu. Bora bulan lalu bilang mau coba kedokteran."

"Gue mau mengumpat, tapi adik lo pinter, sih. Sayang aja kalau dia nggak masuk sana karena perkara uang."

Aku mengangguk, "Dia juga coba cari beasiswa. Tapi gue sudah bilang ke dia, kedokteran dengan keuangan bokap dan nyokap itu nggak mungkin. Jadi, dia harus punya opsi kedua. Dia bilang lagi mikirin itu juga sekarang."

"Emangnya lo diharapin buat bayar uang kuliah Bora?"

"Bokap dan nyokap nggak pernah bilang, sih. Tapi gue ngerasa tanggung jawab sebagai kakak aja."

Kereta peristiwa kemarin terputus sewaktu ada suara yang menyapaku. Suaranya masih asing di telinga karena kami hanya berbicara sekali saat aku masuk di hari pertama. Itu pun kebetulan karena bosku baru saja pulang. Ketampanannya hanya menyita perhatianku selama sepuluh detik sebelum dapur di rumah ini mengambil seluruh fokusku.

Countertop dari stainles steel, peralatan dapur yang penataannya sangat ergonomis dan teroganisir sehingga semuanya dapat mudah dijangkau serta eye level, sink yang besar di sebelah kompor di kitchen island, dan yang paling penting, pantry storage-nya juga sangat rapi. Secara umum, tempat ini sangat industrial, tetapi juga homeydengan sentuhan kayu di kabinet bawah dan juga lantainya.

"Aku kira kamu sudah pulang."

Beau Julian, bosku, mengambil minuman dari dalam kulkas. Air mineral. Aku tahu karena setiap hari botol-botol kaca itu selalu aku isi dan tidak ada lagi varian di dalam sana kecuali itu. Jadi, hari ini aku sedikit menambah variasi warna di dalam sana.

"Kamu buat jus?" kata bosku lagi setelah dia menutup pintu kulkas.

"Iya, green juice."

Beau meringiskan wajahanya. "I swear to God, Mary is trying to kill me with this green thing."

Mary adalah ahli gizi yang bertukar email denganku. Rasanya dia sudah lama bekerja di sini karena semua makanan yang di-acc lebih banyak yang tidak disukai oleh bosku dan dia sama sekali tidak peduli.

"Ini nggak terlalu buruk. Sa—aku tambahkan nanas di dalamnya." Aku memakai bahan batang seledri, timun, kale, apel, perasan lemon, dan terakhir nanas karena aku sadar di keesokannya, jus yang aku tinggalkan hanya diminum tidak sampai setengah gelas.

Dia terkekeh pelan. "Hampir keceplosan bilang saya, ya?"

Aku menggigit bibir. Masih kikuk kalau harus berhadapan dengan Beau dan keramahan yang ditunjukannya sejak hari pertama. Aku terbiasa dengan bos yang memerintah seperti militer dan berteriak di tengah keriuhan dapur saat jam makan siang atau malam. Juga dengan permintaannya untuk tidak kaku dan berbicara tanpa saya-kamu atau dengan panggilan Bapak yang membuatnya merasa sangat tua.

"Aku suka salmon lemon dengan herbs kemarin, bisa buatkan untuk makan malam hari ini?"

Kepalaku langsung berpikir bahan masakan malam ini apa yang bisa dipakai untuk permintaan dadakan. Tapi, kalau Beau meminta daging mamoth pun aku akan mencoba mencarinya.

"Masak langsung, karena aku punya tamu dan dia rewel banget masalah makanan. Jadi, kamu jangan heran kalau dia rikues aneh-aneh atau kasih tatapan menghakimi waktu kamu masak." Beau kembali tertawa.

Aku hanya tersenyum sembari menyalakan juicer dan bertekad mau sesusah apa pun tamu Beau malam ini, aku akan memenuhi seluruh permintaannya.

"Oh, sekalian pilihkan wine yang ada wine cellar untuk malam ini. Bisa?"

Aku mengangguk lagi.

"Thank you. Aku mau sarapan. Kamu juga ikut makan, ya. Aku nggak suka makan sendiri."

9/7/23

Hayolhooo wkwk

Hayolhooo wkwk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang