How This Story Ends - 9 - Offering On Silver Platter 5.2

11.3K 949 77
                                        


Question of the day: fav superhero kamu siapa?

vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X @akudadodado tiktok dadodados
Thank you

🌟

"True. True. True. Memang lebih baik nggak kejadian. Kagok nanti."

"Speaking of the devil," bisikku saat melihat siapa yang menelepon di malam hari, "Eyang hubungin. Halo, Eyang?"

"Jemput di bandara dua jam lagi."

"Tapi—lha dimatiin."

"Kenapa?" Karenina membawa piringku dan miliknya ke sink.

"Eyang minta dijemput di bandara dua jam lagi."

**

"Kenapa jemput pakai mobil kecil gini, sih? Sempit banget." Gerutuan ini tidak berhenti sepanjang satu jam perjalanan dari bandara hingga sebentar lagi tiba di rumah.

Sudah tidak terhitung juga berapa kali aku, yang duduk di bangku penumpang sebelah supir, menggumamkan permintaan maaf baik secara langsung atau pun tatapan, bahkan bahasa isyarat. Tapi tidak ada satu pun yang membuat Eyang berhenti mengoceh mengenai mobil yang tidak bersalah dan supir baik hati yang sudah berusaha untuk sabar hingga kami turun.

"Biasanya juga nggak pernah minta jemput. Tumben banget." Karenina mendorong koper besar milik Eyang yang berwarna silver.

"Kamu nggak lihat koper besar itu? Saya sudah tua begini kamu harap buat angkat-angkat itu?" Eyang menunjuk kopernya dengan dagu lalu melenggang memasuki pekarangan rumah hanya membawa diri saja. Handbag yang dibawanya saat di bandara tadi sudah berada di tanganku sejak kami bertemu. Lebih tepatnya, beliau langsung menyodorkan tasnya ke arahku tanpa basa-basi. "Lagian, itu isinya untuk kalian berdua juga, kok."

"Wow, tas LV?" canda Karenina, tapi aku tahu dia sedikit berharap.

"Jangan matre."

"Yang ngomong jandanya tuan tanah," ejekku yang berjalan paling belakang dan diganjar dengan "Sshhh!" oleh Eyang. Tipikal orang tua yang tidak mau dibantah.

"Buka kopernya di ruang tengah saja."

Ruangan tengah Eyang lebih mirip seperti ruang kerja dengan lemari yang berisikan buku di salah satu sisi dinding, sehingga aroma buku tua tercium jelas saat membuka pintu. Ada meja dari kayu jati yang berhadapan langsung dengan french door dari kaca yang dibingkai kayu. Di tengah-tengah ruangan ada karpet dan tiga buah sofa. Satu sofa three-seater dan dua lainnya single sofa. Semuanya berwarna krem. Beberapa sisi lantai kayunya berderit saat kami injak.

Dari semua ruangan di rumah Eyang, aku paling suka ruang tengah ini. Rasanya hangat dan berbau familiar: bau buku yang kertasnya menguning dan sedikit ditambah dengan bau parfum beraroma powdery, bergamot, dan entah apalagi milik Eyang yang menandakan kalau beliau juga sering berada di sini.

"Gue berasa kayak pelayan tiap Eyang sekarang," bisikku kepada Karenina yang fokus memasukkan kode yang diteriakkan Eyang dari dalam kamarnya. "Lagian, kalau pergi bisa bawa koper segede ini, masa baliknya enggak?"

"Gue mau jadi pelayannya Eyang kalau dibawain tas high brand. Jangan bawel, hitung-hitung bantu orang tua."

Aku memicingkan mata. "Lo tadi habis kasih ceramah soal trade soul ke devil."

"Yeah. But this devil," Karenina menunjuk kamar Eyang dengan ibu jarinya, "I can handle. Eyaaang, mana yang punyaku mana yang punya Lele?"

Si empunya rumah sudah berganti baju dengan blouse biru dongker dan celana kain berwarna hitam. Eyang tidak sempat menjawab karena Karenina sudah memekik lebih dulu.

"Ah! Ini dress YSL yang sempet kita omongin waktu belanja kemarin!" Sahabatku itu sudah memeluk selembar kain berbahan satin berwarna hitam dengan erat. "Ini buatku. Iya, kan? Kalau ini buat Lele, anggap aja ini hilang di lemarinya."

"Ini untuk Lele." Eyang melemparkan kain yang juga berwarna hitam ke arahku. "Kamu perlu satu baju yang bagus di antara yang buruk rupa itu."

"Gee, terima kasih, Eyang. Ini ada blazer laki-laki."

"Biarin saja di sana. Ada yang mau datang untuk ambil hari ini."

Karenina menaik turunkan alisnya, "Wow, pacar baru. Okay, karena kita nggak mau ganggu happy endingEyang, kita pulang dulu."

"Di sini dulu. Camilannya dibawa semua sama kalian. Itu ada perintilan lain juga untuk mandi."

Karenina berseru dan meraup semuanya untuk dimasukkan ke dalam totebag besar yang diambil dari dapur Eyang. Dia bersenandung kecil saat kegirangan, seperti sekarang.

"Eyang ke Singapur?" Aku menunjuk pada tag yang ada di koper.

"Iya. Jalan-jalan. Nggak kayak kalian yang duit saja nggak punya, jadi harus kerja terus."

"Wow, menohok sekali."

"Bagaimana kerjanya?"

Aku menjawab karena sahabatku masih sibuk meraup camilan. "Ok. Bosnya baik. Duitnya lebih baik lagi."

"Beau baik memang," Eyang seperti berbicara kepada dirinya sendiri, "kamu gimana Kare?"

"All good. Aku nggak bermasalah sama sekali, tapi Lele yang punya masalah sama Benjo."

"Oh, ya?" Eyang meluruskan celananya yang tidak kusut dengan telapak tangan. "Kenapa?"

Karenina bercerita dengan lancar dan tertawa di sela-selanya. Tawa yang menular ke Eyang yang kini menutup mulut dengan tangan, meninggalkan aku manyun sendirian. "Bukan salahku. Aku sering lihat yang muda-muda keluar masuk rumah Eyang."

Eyang batuk kencang sekali. "Ada yang harus saya bicarakan sama kalian, tapi tunggu yang mau datang dulu."

"Nggak mau kasih kisi-kisi dulu buat bahasannya?" tanyaku.

Decakan keluar dari Eyang yang lagi-lagi meluruskan celananya yang tidak kusut dengan telapak tangan. "Nggak ada, tapi kalian harus berpikiran terbuka."

"Sekarang aku takut buat denger tawaran Eyang. Boleh tolak di awal nggak?"

Wanita tua yang duduk dengan anggun di single sofa berwarna krem itu hanya menggedikkan bahu sekali. "Kamu yang rugi kalau tolak tanpa pikir panjang. Makanya, saya bilang pikir-pikir dulu. Ambil waktu sebelum kasih jawaban."

12/7/23

Wkwkwk eyang janda tuan tanah

Wkwkwk eyang janda tuan tanah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang