How This Story Ends - 29 - Cucu Eyang yang Sotoy 13.2

8.6K 774 84
                                        


Question of the day: kopi atau teh?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟

Tanganku dan Karenina tidak berhenti sama sekali. Entah kami mencampurkan semua bahan, entah mengaduknya di baskom, lalu menumisnya. Aku fokus dengan apa yang aku lakukan hingga semuanya selesai dan tinggal memindahkannya ke dalam toples kaca yang sudah dibeli kemarin. Kami perlu menimbangnya agar sesuai takaran lalu menambahkan stiker dengan logo dapur umum. Dan yang paling akhir, aku tinggal menyimpannya di lemari es dan dikirim saat ada yang memesan.

Ini sedikit gambling karena kami belum pernah menawarkan di media sosial mana pun, tapi dengan publisitas dapur umum yang cukup besar dari banyak media, aku cukup yakin kalau ini akan terjual setidaknya dalam beberapa hari.

"Kare, tolong ambilin toplesnya di gudang." Aku tengah menumis batch terakhir. Kami sedikit terburu-buru karena sebentar lagi para relawan akan memenuhi tempat ini dan aku tidak mau mengganggu pekerjaan mereka.

"Sudah diambil sama Benjo," jawab Karenina sembari dia membawa baskom ke tempat penimbangan di belakangku.

Aku tidak tahu kalau Benjamin masih ada di sini karena dia tidak mengeluarkan suara, atau mengejekku, jadi asumsiku kalau dia sudah menghilang dari sini. Tapi, aku justru melihatnya, masih dengan kemeja, pantalon, sepatu mengilatnya itu, tengah menimbang sambal seakan itu adalah emas yang perlu perhitungan akurat. Dia duduk di lantai dengan kaki terlipat. Alisnya bahkan hingga menyatu di tengah dan kepalanya mendekat ke timbangan dengan mata yang fokus. Lalu aku menyadari ada yang berbeda dari wajahnya. Ada kacamata yang belum pernah aku lihat sebelumnya, tengah bertengger di hidungnya.

Ada toples berjejer rapi yang tinggal diberi stiker dan disimpan di kulkas di sebelah suamiku yang masih giat menimbang sambal.

"Aku kira kamu sudah pergi," kataku kikuk. Timbangan hanya ada dua dan satunya tengah dipakai oleh Karenina. Tidak ada tempat lain di lantai itu selain di sebelah Benjamin, jadi aku duduk di sebelahnya.

"Tanggung. Sebentar lagi selesai."

Aku melihat sekitarnya. Tidak ada kata tanggung dan selesai sebentar lagi juga tidak tepat untuk menggambarkan toples yang masih harus diisi. Tapi mulutku justru memilih pertanyaan lain untuk ditanyakan secara berbisik agar tidak ada orang lain yang dapat mendengar. "Pakai kacamata?"

"Iya. Plus."

Aku menggigit bibir agar tidak tertawa mendengar potongan info baru mengenai Benjamin. "Aku baru pertama kali kenal orang, selain Ayah, yang punya mata plus. Emang usia nggak bisa bohong." Tapi melihat Benjamin yang melotot, aku justru terkikik geli.

Aku tercenung sesaat ketika sadar kalau aku terkikik seperti gadis ingusan. Kenapa aku terkikik? Kenapa aku melakukannya? Kepalaku menggeleng kencang untuk mengembalikan kesadaranku.

"Sambalnya jangan dimasukin ke kulkas. Nanti bakal ada yang datang dan ambil semuanya."

"Semuanya?" Tanganku menyapu lantai yang penuh dengan toples sambal. "Aku bahkan belum kasih harga per toplesnya."

"Seratus ribu."

Air liurku spontan menyedak diriku sendiri dan aku terbatuk selama beberapa saat. "Siapa yang jualan sambal bawang 250ml seharga seratus ribu?" Suaraku parau karena masih tidak dapat berhenti terbatuk. Tanganku juga mencoba bekerja sama dengan otakku yang masih terlalu kaget untuk diajak menghitung jumlah toples yang ada.

"Kamu."

"Siapa yang tentuin harganya?"

"Aku."

Aku menutup mataku rapat, menghitung sampai sepuluh di dalam kepala. "Kamu tahu harga cabai dan bawang nggak, sih?"

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang