How This Story Ends - 2- Lele, Kare, dan Eyang 2.1

51.2K 2K 91
                                        




Jangan lupa vote, komen, share cerita ini dan follow akun WP ini + IG @akudadodado.

Thank you :)

🌟

Pernah ada yang mendengar lagu Que Sera, Sera? Kalau sudah, pasti familiar dengan lirik "Whatever will be, will be. The Future's not ours to see." Pertama kali mendengarnya sewaktu kecil, aku tidak banyak memikirkan maknanya. Yang aku tahu pasti adalah suara penyanyinya sangat enak di telinga dan lagunya pun pendek, sehingga mudah untuk kuhapal.

Semakin bertambahnya usia dan aku kembali mendengar lagu dengan nada lembut ini setelah sekian lama. Lirik itu menempel tidak hanya di telinga, tetapi juga di kepalaku yang memutarnya beberapa hari terakhir.

Masa depan memang tidak pernah ada yang bisa menebak. Bisa saja kamu merencanakan untuk menikah pada usia 25 tahun dengan pacarmu selama bertahun-tahun, lalu setahun kemudian sudah memiliki bayi yang lucu dan menggemaskan. Faktanya: aku, Leah, tidak juga disematkan cincin oleh pacarku yang sudah tujuh tahun bersama. Yes, kalau cicil mobil sudah lunas. Sayangnya, mobil pun tidak sanggup untuk kucicil dan janji sehidup semati pun tidak kunjung kudapat.

Pun dengan cita-citaku untuk bersekolah di Le Cordon Bleu. Sekolah kuliner tertua di dunia yang tidak hanya jauh di benua, tapi juga dari jangkauanku.

Ini mungkin bukan masalah pelik untuk para cewek masa kini dengan banyaknya kaumku yang semakin terdepan meskipun usianya yang sudah di kepala tiga. Tapi, untukku yang beberapa hari lalu tepat menginjak usia 25 tahun dengan target yang tidak juga dapat aku centang, ini sedikit membuatku gusar.

Terutama karena percakapan dua orang terdekatku yang menjadi kompor meledug.

"Dump his stupid ass. Lo lagi ulang tahun kok malah nggak kasih apa-apa selain ucapan ulang tahun lewat whatsapp." Ini adalah ucapan Karenina, sahabat yang sudah bersamaku semenjak kami sekolah kuliner lima tahun lalu. Dia lebih muda dariku dua tahun, jadi aku sedikit curiga dia belum merasakan kegalauanku di quarter life crisis.

Orang terdekatku yang lainnya, Raya atau biasa aku dan Karenina panggil Eyang, hanya mendengkus lalu menyeruput wine yang kubawakan setelah pulang kerja tadi. Dari kerutannya yang bertambah di dahi, aku tahu dia akan mengeluarkan protes.

"Kamu mengaku kerja di kuliner, tapi nggak tahu kalau wine ini rasanya nggak enak? Selera laki-laki dan winemu sama-sama sangat buruk."

Tawa Karenina lepas, berbanding terbalik dengan aku yang cemberut dan tidak bisa menyauti Eyang karena itu hanya akan makin menyulut api omelannya. Tanpa itu pun aku sudah duduk di kursi panas.

"Waktu seusia kamu, saya nggak pernah pacaran lebih dari satu bulan, boro-boro pacaran dengan orang yang sama."

"Itu bukannya sampai sekarang?" cibirkui iri. Aku tidak bisa menghitung sebarapa banyak cowok yang hilir mudik ke dalam rumah Raya yang sudah berusia 81 tahun. Dan usianya masih muda-muda. Aku tidak tahu kalau sekarang sedang tren untuk mengencani perempuan yang kelewat matang dan siap untuk menjadi kompos. Aku tidak mungkin mengatakan hal ini dengan lantang jika tidak ingin berakhir di tangan Eyang.

Eyang mengernyitkan hidungnya lagi di sesapan kedua lalu menjauhkan gelas wine ke tengah meja yang berbentuk lingkaran lalu menyeka sudut mulutnya. "Pacar macam apa yang mengucapkan ulang tahun hanya dari pesan singkat? Kamu harusnya juga menyingkat hubunganmu."

Aku memicingkan mata melihat tingkah perempuan yang setiap bulan menyuruhku untuk mengecat rambutnya itu. Eyang memang sangat nyinyir, tapi hari ini tingkah menyebalkannya naik satu tingkat dan sudah pasti ada penyebabnya. "Eyang ngajak ribut karena wine-nya nggak sesuai selera, ya?"

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang