Question of the day: bisa terbang atau invisible?
Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌶️
Rumah Beau tata letaknya mirip dengan Benjamin. Satu lantai. Bedanya dia punya wine cellar dan dapurnya sedikit lebih luas dan menjadi center dari rumah ini.
"Kemarin nggak sempat. Seharian di luar." Beau menjawab dengan teriakan yang berasal dari kamarnya di ujung lorong.
"Aku panasin meatballs dan mashed potato aku buat jadi hashbrown, ya? Kamu sukanya itu, kan? Buat brunch. Sayang banget kalau dibuang-buang."
"Dibungkus aja buat bekel nanti. Aku bawa ke kantor."
"Pagi ini smoothies saja?"
"Iya."
"Ok." Aku mengeluarkan buah dari kulkas dan berbalik untuk melihat Benjamin duduk di kursi meja makan, memerhatikanku di dapur. "Apa? Kalau mau minum ambil sendiri."
"Beau disiapin," protesnya kecil.
"Aku digaji sama dia."
Aku memotong buah untuk smoothies Beau, memasukkan sedikit bubuk kale yang tidak dia sukai dan menyamarkannya dengan nanas. Di belakangku ada suara laci-laci konter yang dibuka. Mataku otomatis melirik melewati bahu.
"Cari apa? Gelas? Laci konter atas sebelah kiri kulkas."
Benjamin ngedumel sendiri, sekilas terdengar seperti "Hafal banget." Tapi aku tidak terlalu yakin juga karena suara juicer yang sudah menyala lebih kencang. Aku juga sudah sibuk membuat hashbrown dan memanaskan meatballs. Menatanya di kotak bekal stainless yang aku beli dan simpan di lemari dapur. Beau lebih sering meminta bekal untuk dimakan selama perjalanan atau ketika dia di kantor.
Aku baru berbalik sebentar untuk memasukkan hashbrown ke airfryer untuk kembali menata kotak bekal Beau dan melihat Benjamin memasukkan satu meatballs ke dalam mulutnya. Keterkejutanku menghasilkan bengong dan hanya dapat melihat suamiku memasukkan bola-bola daging kedua ke dalam mulutnya.
Insting karyawan yang ogah dimarahi bos memasuki tubuhku setelah dia sempat mengawang. "Behemoth, kenapa kamu makan bekal Beau?!"
"Oh, ini buat bekal? Aku pikir bisa dimakan," jawabnya sok polos. Tidak mungkin dia tidak dengar pembicaraanku dengan Beau tadi. Dia ada di sini dan telinganya menempel dengan sempurna di kepalanya.
"Aku nggak sempat masak buat bekel Beau lagi kalau kalian berangkat sekarang." Panikku berada di level maksimal. Aku kesetanan mengeluarkan semua bahan yang aku perlukan untuk menu hari ini yang cocok dengan hasbrown yang masih berada di airfryer. Sementara itu si sialan yang menyebabkan ini semua asyik mengganyang meatballs.
Mau aku sumpahi sakit perut, tapi itu masakanku sendiri.
"Berangkat baru sejam jam lagi, kok."
Jawaban Beau menjadi kalimat terakhir yang aku dengar sebelum telingaku tertutup rapat dari suara-suara dan fokus ke makanan yang sedang aku siapkan. Para orang di belakangku bisa pergi ke neraka, terutama penghuninya yang berstatus suamiku, dan aku tidak akan mengedipkan mata ketika mendengar beritanya.
Aku berakhir membuat brussel sprouts dengan bacon. Semuanya sudah siap, aku tidak membiarkan kotak bekal ini berada di jangkauan Benjamin dan hilang dari jarak pandangku. Aku masih memberikan tatapan sinis ke cowok itu yang ditanggapi dengan wajah sok polos. Dasar iblis berbulu domba.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)