Question of the day: onde2 atau bakpia?
vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X akudadodado & Tiktok dadodados
Thank you :)
🌟
Satu hal yang aku sadari dari rumah Benjamin adalah insulasi yang tidak bagus. Bgaimana bisa obrolan kami terdengar saat pintunya tertutup rapat? Sudah pasti pengerjaannya buruk. Kecuali pintu itu sudah terbuka sebelum kami tiba di breakfast nook dan itu membuatku semakin yakin kalau Benjamin benar-benar mendengar seluruh obrolanku dan Karenina.
Mengingatnya membuat malu bercampur kesal. Lebih besar ke malu, tetapi aku lebih banyak memikirkan kesalnya. Kesal karena orang seharusnya tidak diajarkan untuk menguping pembicaraan orang, kan? Manner dia sangat buruk dan aku tidak yakin mau menikahi orang dengan manner seperti itu.
Bah. Kayak aku bisa mundur saja. Aku sudah menandatangi NDA (lagi) sebelum pergi ke pasar kemarin. Semuanya serba rahasia dan terbatas hanya di aku, Karenina, Eyang, Beau, dan Benjamin.
Fotoku tersebar di dunia maya. Foto dari berbagai macam sisi saat kami berada di pasar. Terutama dengan Benjamin yang sengaja memasang fotoku di media sosialnya. Foto dari belakang dengan rambutku yang dicepol. Aku tidak terlalu paham fotografi dan pengeditannya, tetapi foto itu sangat bagus dengan grain yang memberikan kesan retro.
Aku adalah santapan lezat untuk dunia pergosipan yang sepi dari berita artis, terutama dengan perhatian yang dicurahkan Benjamin di masa pemilihan ini. Beritanya bukan hanya mengenai politik, tetapi juga personal yang lebih menjurus ke kehidupan percintaan. Romansa pesohor memang selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat.
Wajah rupawan—menurut orang-orang—dan usianya yang cenderung masih muda untuk ukuran politikus yang rata-rata sudah berperut buncit, menjadi daya tarik bagi pemilih muda. Dia juga cenderung aktif di media sosial dan kanal-kanal youtube anak-anak muda.
"Le." Karenina melambaikan tangannya. "Lo sudah lihat ada akun yang doxing lo?"
Ini siang hari. Tepat saat aku membuka pintu, kabar ini menjadi sapaan sahabatku yang sedang duduk di sofa. Tablet di tangan kanan dan jari telunjuk kiri yang menunjukkan layar Twitter yang tengah dibacanya tadi.
Aku sudah melihat berita di media sosial. Asumsi bertebaran seperti garam di lautan masyarakat yang sudah heboh bergunjing, tapi belum satu pun media yang mengungkapkan namaku. Hanya wajahku saja yang hilir mudik, bersaing dengan berita-berita lain.
Mataku bergerak membaca setiap baris kata tanpa banyak bicara. Terlalu kusyuk hanya untuk membaca gosip.
"Lo sekolah di mana, lo kerja di mana, nama lengkap lo, dan semuanya yang bersifat privasi ada di sana." Karenina mengoceh. Menunjukkan poin dari utasan yang tengah aku baca. Memang hanya sedikit, tetapi itu sudah melingkupi kehidupanku secara umum.
Aku tidak senaif itu untuk berpikir kalau data-dataku tidak akan tersebar dan diketahui oleh masyarakat luas. Setidaknya di kalangan simpatisan Benjamin atau orang yang sekedar penasaran dengan siap ayang berhubungan dengan artis A, B, atau C. Aku hanya berpikir, setidaknya aku masih memiliki waktu untuk merangkai kata-kata dan menceritakan ke orang tuaku dan juga Debora. Aku hanya ingin mengulur waktu untuk meyakinkan diri kalau ini nyata dan aku tidak ada pilihan lain selain melanjutkannya. Berbicara dengan keluargaku adalah batas akhir dari penyangkalanku.
Namun, seperti biasanya, waktu tidak berpihak padaku. Tidak saat aku sebelum lulus SMA dan ibu sakit, tidak juga saat Debora tiba-tiba datang ke depan pintu rumahku, tidak juga saat aku merasa sedikit lagi dapat melanjutkan ke sekolah yang aku inginkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)