Question of the day: board game atau video game?
Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟
"Selamat, Pak!"
"Selamat, Benjo!"
Hanya sedikit dari ucapan yang disampaikan kepada Benjamin setelah hasil sementara diumumkan oleh beberapa lembaga quick count. Rentang suara yang terlalu jauh membuat perayaan lebih dulu tiba di kantor relawan, tempat Benjamin dan banyak orang berkumpul untuk menonton bersama. Wakilnya, yang biasanya lebih banyak melakukan kampanye terpisah dengan Benjamin, berdiri di sebelahnya. Senyumnya tak kalah lebar.
Padahal bukan aku yang ikut berkontestasi pada pemilihan ini, tapi jantungku berdetak tidak sistematis semenjak pagi. Belum lagi perutku tidak berhenti terpelintir dan kantung kemihku meminta untuk segera dikosongkan setiap aku minum. Ini pasti lebih mendebarkan bagi Benjamin. Bahkan dari sehari sebelumnya dia sudah gelisah dan tidak fokus untuk melakukan apa pun.
"Lo nggak mau dampingin Benjo di perayaannya?" Aku dan Karenina berdiri di paling belakang dari orang-orang yang mengelilingi Benjamin dengan nuansa perayaan yang kental. "Gue lihat Kimmy di sekitaran sini tadi. Sama teman-teman mereka yang gue lihat di media sosial. Padahal sebelum ini mukanya nggak pernah kelihatan di sini."
Tidak sulit untuk menemukan gerombolan yang tidak membaur bersama orang lain dan tampak sangat berbeda dengan penampilannya yang mahal dari kepala hingga ujung kaki. Aku meneriakkan "Jangan nyinyir." Di dalam kepalaku.
"Enggak. Biarin dia seneng-seneng hasil kerja kerasnya sama orang-orang yang memang bantu dia dari awal." Aku harus menjadikan meja di pojok ruangan sebagai jangkar agar tidak berteriak ke orang-orang agar aku dapat memeluk suamiku dan merayakan saat ini.
"Tapi banyak media."
"Media juga bosen kali lihat gue mulu."
"Lo masih takut sama media, ya, makanya ngumpet di sini," tebak Karenina.
Aku tidak bisa mengelak karena yang dikatakannya benar. Berada di sektiaran orang yang memegang kamera besar dan blitz yang tidak berhenti berpendar di sekitar Benjamin membuatku takut. Alasanku menghadiri acara ini adalah karena Beau mengatakan betapa pentingnya pasangan dari pemenang untuk ikut merayakan kemenangan.
"Itu, itu lihat. Kimmy datengin Benjo." Karenina berbisik di telingaku. Tidak bisa berlagak tidak peduli, padahal mataku sudah tertuju ke tempat Benjamin. Melihat mereka berdua menempelkan pipi di kelilingi teman-temannya yang bergiliran melakukan hal serupa. Tidak ada yang memberikan reaksi dadaku yang memanas seperti saat kedua mantan itu melakukannya.
Aku sudah tidak bisa mengelak kalau aku cemburu atau ini hanya sekedar crush. Crush tidak ada yang membuatku uring-uringan seperti sekarang. Semua yang aku rasakan sama seperti apa yang pernah aku alami saat jatuh cinta ke Edo. Aku memang hanya memiliki satu mantan, tapi bukan berarti aku buta dengan perasaanku sendiri.
Benjamin celingukan seakan tengah mencari sesuatu. Mudah baginya untuk melihat sekitar, jika rata-rata orang yang berada di sana hanya setinggi dagunya. Dia baru berhenti saat mata kami bertumbuk. Dia tersenyum ke sekitar dan mengucapkan terima kasih dan berjalan melintas sekumpulan manusia hingga berhenti tepat di depanku. Setiap jarak yang dipangkas Benjamin, membuat jantungku melambatkan detaknya hingga aku takut dia lupa caranya bagaimana.
"Kamu belum ucapin selamat," katanya. Matanya yang tertuju ke arahku seakan hanya aku yang berada di ruangan penuh dengan manusia yang merayakannya. Senyum Benjamin menular kepadaku, tapi intensitasnya lebih parah karena kini aku mau menyengir lebar, tapi harus menahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)