Question of the day: bisa ngomong sama hewan atau baca pikiran orang?
Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟
Aku bangun dengan perasaan lega seperti ketika mengetahui kalau beban keuanganku sudah terangkat, meski harus menikah. Rasanya plong setelah beberapa hari sembelit. Jadi, pagi-pagi aku langsung memasuki dapur. Memasak sesuai menu yang disiapkan oleh Karenina dan memotong sayur-sayuran dengan presisi. Aku tidak mau mendengar ocehan Benjamin mengenai potongannya yang berantakan di pagi hari yang indah ini.
Setelah aku pikir-pikir, apa pun yang Benjamin lakukan hari ini, tidak akan ada yang dapat memantik emosiku untuk naik. Hari ini terlalu cerah dengan sinar matahari membentuk bayangan ganjil setelah ia memasuki celah dedaunan di taman belakang. Kepakan sayap burung yang mencari makanan dari biji-bijian yang ada di taman. Tanah yang basah selepas hujan subuh tadi. Semuanya sempurna.
Aku sudah menghabiskan sepuluh tahun usiaku kemarin untuk mengkhawatirkan mengenai karier politik orang lain yang kemungkinan akan hancur karenaku. Hari ini aku ingin menikmati ketenangan.
"Kamu tidur nyenyak kayaknya semalam." Aku tahu itu suara Benjamin, jadi aku tidak perlu menoleh. Tapi setiap syaraf tubuhku langsung siaga dan menyadari keberadaannya lalu memutar memori semalam.
"Iya, dong. Memangnya kamu enggak? Kemenangan kamu sudah bisa dipastikan."
"Nggak ada yang pasti di politik, tapi aku hargai optimismemu."
"Nggak bisa tidur karena pikirin dua hari lagi?" Benjamin tidak menjawab. Aku hanya mendengar suara kursi yang beradu dengan lantai. "Kira-kira aku bisa daftar sekolah kapan, ya? Setahun atau dua tahun lagi?"
Benjamin menderamkan jarinya ke atas meja makan. "Kamu mau ambil di mana?"
"Aussie mungkin. Programnya setahun, tapi ada kerja praktik setelahnya. Kalau ada perlu apa-apa juga lebih dekat. Nggak sampai tujuh jam terbang. Asal tiketnya dibayarin." Imbuhku dengan cengiran kuda.
"Kamu kayaknya lebih bersemangat buat pergi dibanding saya menang pemilihan."
Aku mengibaskan tangan. "Don't be silly. Tentu aku lebih senang karena bisa pergi sekolah ketimbang kamu menang pemilihan." Aku tertawa dan menoleh untuk mendapati Benjamin melirikku judes. "Sisi baiknya kalau aku aku pergi: kamu bisa punya rumah ini buat kamu sendiri. Nggak ada yang usilin kamu lagi. Atau kamu harus pusingin kalau aku bikin masalah lagi dengan jual foto kaki."
"Soal itu," Benjamin menuangkan air minum ke gelasnya, "permintaan apa yang paling aneh yang pernah kamu dapat?"
"Kamu nanya buat antisipasi kalau ada berita lagi, ya?" Aku melihat ke Benjamin melalui bahuku. Dia hanya menggeleng. "Ada yang minta kaos kaki dan celana dalam bekas pakai."
"Terus kamu kasih?"
"Ya, enggak lah. Aku tahu batasan. Kalau nanti dia meninggal dan ada tes DNA dari celana dalam atau kaos kakiku, aku bisa-bisa dijadiin tersangka. Should leave no trace."
Benjamin batuk dengan heboh. Aku tertawa melihat wajahnya yang sedikit merah.
"Kamu kebanyakan nonton series pembunuhan."
"Makanya jangan macem-macem. Aku bisa nonton crime series tanpa berkedip, terus tidur nyenyak setelahnya. Referensiku ada banyak untuk dipraktikkan." Aku membawakan jus apel dan kale ke Benjamin. "Oh, semalam aku bikin kamu nggak nyaman, ya? Sori, itu kebiasaan and I'm a hugger. So..." Benjamin menungguku menggenapi kalimat, "aku nggak mau bikin kita aneh." Aku menunjuk pada diriku dan Benjamin yang duduk sehingga kini dia perlu menengadah untuk menatapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)