How This Story Ends - 39 - Foto Kaki & Malapetaka 18.2

9.3K 758 53
                                        


Question of the day: punya rumah pohon atau igloo?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟

"Saya nggak paham itu apa."

"Iyalah, Eyang kan pahamnya dunia per-cougar-an." Di akhir kalimat, pahaku langsung terasa perih akibat tangan Eyang. Tangan orang tua jaman dulu memang terlatih untuk memukul.

"Panggilin Beau, saya mau pulang."

"Idih. Datang tak dijemput, pulang tak diantar, Eyang."

Eyang menghujaniku dengan pukulan di paha dan punggung sedangkan Karenina menertawai nasibku yang menjadi punching bag dari perempuan tua yang kekuatannya bak bison.

"Eyang, aku anter pulang." Beau menghentikan laju pukulan Eyang. "Kare juga."

Posisi kami yang membelakangi lorong membuat kami bertiga menoleh bersamaan. Beau dan Benjamin berdiri di sana. Mukanya tidak sekusut siang tadi. Secercah lega menyelinap masuk ke dadaku, memberikan sedikit tenang di antara kegaduhan yang aku sembunyikan dengan gurauan.

Eyang berdiri lalu memperbaik blouse bunga yang dikenakannya. Satu tangan sudah memegangi lengan Karenina.

"Yah, Kare nginep saja."

Aku tidak bisa berdua saja dengan Benjamin. Mungkin bulan depan, itu juga kalau aku masih berstatus istri dan tidak diceraikan kalau dia kalah di pemilu. Suasanya akan terlalu kikuk jika hanya kami berdua, aku perlu buffer. Karenina adalah orang yang tepat karena dia dapat berpindah dari satu topik ke topik lainnya. Itu dan juga karena aku tidak punya opsi lain. Bora? Bah, aku saja tidak mengangkat teleponnya, takut dia bertanya yang aneh-aneh dan tahu alasan di balik foto kaki laknat itu.

"Tidur di mana dia? Kamar tamu kalian nggak ada kasurnya begitu." Eyang menarik lengan sahabatku hingga dia berdiri.

"Dia biasa tidur di lantai kalau lagi mabuk. Ya, kan, Kare?"

"Idih. Itu mah elo kalau lagi kobam."

"Duit buat maboknya aja nggak ada."

"Eh, iya juga. Kita seringnya diajakin Eyang buat minum."

Aku menggelengkan kepala dramatis dan memicingkan mata ke arah Eyang. "Eyang memang pengaruh buruk buat anak muda."

Eyang mengambil kipas, yang entah didapatnya dari mana, untuk memukul kepalaku. "Kare pulang sama saya. Kamu jangan cari tameng."

Wajahku langsung panas mendengar tuduhan Eyang. Orang tua satu ini memang tidak pernah menyaring ucapannya. "Si-siapa yang cari tameng?" Aku membalas dengan terbata-bata dan sedikit sewot.

Eyang menarik tangan Karenina menuju pintu masuk. Beau mengekori di belakangnya dengan patuh, dan di belakangku ada Benjamin yang masih diam seribu bahasa. Lebih mudah buatku kalau dia mengoceh atau mengeluarkan kartu gen z yang selalu dikeluarkannya setiap adu argumen bersamaku. Benjamin yang diam seperti sekarang bukan yang biasa aku hadapi sehingga canggung tidak dapat dihindari saat kami tinggal berdua saja.

Atau hanya aku yang berpikiran seperti itu. Soalnya Benjamin bersikap biasa saja, meski wajahnya sekusut kemeja yang belum disetrika. Dia berjalan di belakangku tanpa membuka mulutnya. Aku ragu untuk masuk kamar atau tidur di sofa saja. Tapi Benjamin menentukannya untukku dengan menarik lengan bajuku untuk mengikutinya berjalan ke kamar.

"Tidur. Kamu perlu istirahat," tutur Benjamin. Di sendiri sudah ke lemari pakaian dan mengambil baju tidur.

Aku bahkan tidak tahu malam ini bisa memejamkan mata atau tidak, tapi aku mengikuti perkataan Benjamin. Mengambil baju ganti dan menggantinya di kamar mandi. Aku tidak berani menatap wajahnya, bagaimana aku bisa tidur di sebelah Benjamin? Apa aku langsung kabur saja ke sofa? Iya, kayaknya itu lebih baik dibanding harus tidur dengan suasana kaku.

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang