How This Story Ends - 23 - Lele Dipretelin 10.2

9.4K 758 56
                                        




Question of the day: FL dan ML seumuran ok?

vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X akudadodado & Tiktok dadodados

Thank you :)

🌟


Jika tidak ingat kalau ponsel itu harganya tidaklah murah, aku akan melemparnya ke tembok untuk meluapkan amarah. Aku celingukan mencari benda apa yang tidak pecah belah dan pilihanku jatuh ke cushion sofa yang kini sudah berlabuh di lantai selepas mencium tembok.

Api amarah masih bergulung di dalam dadaku. Tidak puas. Jadi aku berteriak hingga suaraku habis sambil meremas tanganku hingga gemetar. Emosiku tumpang tindih, berebut menjadi nomor satu untuk aku pikirkan lebih banyak, tapi khawatir menjadi juaranya kali ini. Wajah adikku muncul dan menekan amarahku.

"Ibu Calon Gubernur, sabar! Gue bisa lihat napas lo berapi."

"Ini sudah diliput media nasional, gimana gue bisa sabar?!" Aku buru-buru mencari kontak Debora, tapi jempolku tertahan di atas layar sebelum memencet tompol panggil. "Bora sudah lihat pasti, ya? Terus kalau sudah, gue mesti bilang apa ke dia, Kareee? Di situ jelas banget ceritanya."

"Adek lo dan ponselnya kayak kembar dempet, nggak mungkin dia belum lihat."

"Iya, kan? Terus gue harus bilang apa ke dia? Gue mesti bilang apa ke Nyokap dan Bokap?"

"Gue heran kok mereka bisa tahu soal ini juga, Le?"

Aku mendengkus. Sudah ada satu nama yang pasti menjadi biang kerok dari utasan ini. "Siapa lagi selain si Behemoth."

"Benjo?"

"Dia tahu dari mana soal ini?"

"Dari Bora dan mulut lemesnya."

Mulut Karenina terbuka, tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. "Adek lo bilang ke Benjo soal apa?"

"Soal gue sama dia yang beda ibu, makanya kami berdua nggak mirip. Dia bilang cantikan dia ke mana-mana." Mulut sahabatku semakin terbuka lebar dan aku harus mendorong dagunya ke atas untuk menutupnya. "Jangan gede-gede mangap lo. Laler masuk entar."

Tanganku dipukul oleh Karenina yang nyawanya sudah kembali memasuki tubuhnya. "Gue nggak paham kenapa adek lo yang pinter, kadang-kadang suka bloon. Tapi, itu bukan berarti Benjo yang kasih tahu juga, Le. Bisa aja saudara-saudara lo yang lain. Informasi kayak gini dijual jadi lumayan banget. Apalagi kalau informannya bisa pastiin kebenarannya."

"Siapa yang mau keluar duit buat gosip kayak gini? Pasti ini kerjaan bos lo supaya dia kelihatan kayak orang baik yang terima istrinya apa adanya. Lagian, lo nggak baca narasi beritanya menggiring banget?"

"Iya, sih. Tapi, ini bisa juga dibuat sama lawan politiknya Benjo. Hal-hal kayak gini kan sensitif banget. Termasuk buat citra Benjo sendiri."

Aku mencoba teknik pernapasan yang konon dapat membuat orang merasa lebih baik saat emosi berlebihan. Saat itu tidak juga berhasil, aku menghitung hingga dua puluh, membayangkan hal lucu, tapi tidak satu pun membuat amarahku mereda. Jadi, aku mengabaikan akal sehatku dan menggunakan emosi yang meluap ini untuk mengirimkan pesan penuh cinta kepada calon suamiku.

"Le, layar HP lo bisa jebol kalau lo mencetnya pakai tenaga gorila gitu."

Aku mengabaikan ocehan Karenina dan fokus ke ibu jariku yang membayangkan wajah Benjamin di atas layar ponsel. Setiap huruf yang aku pencet membentuk kata yang berisikan kalimat penuh warna dan tidak untuk didengar telinga anak-anak.

Cukup puas dengan rentetan makian di sana, aku menekan tombol kirim.

"Kare, bantu gue monetasi akun media sosial gue. Emangnya dia doang yang bisa manfaatin situasi? Ngapain gue ikutin peraturan kalau dianya juga main di luar garis terus?"

Karenina menyuarakan setujunya melalui tepuk tangan yang tidak berhenti dan senyum yang merekah di bibirnya, baru dia bersuara. "Gitu, dong. Jangan mau dimanfaatin terus sama Benjo. Ini situasi yang bagus juga buat lo. Bentar, gue kayaknya punya foto-foto makanan yang lo buat. Gue nggak nyangka, ada juganya gunanya hobi gue fotoin makanan." Karenina sudah bersemangat mengutak-atik ponselnya. "Tapi, Bora sama bonyok lo gimana?"

"Gue hubungin mereka nanti malam."

**

Aku membuka seluruh akun media sosialku. Memasukkan konten masak yang pernah aku buat, tapi nyaliku terlalu ciut untuk memencet tombol post. Malu untuk dilihat orang dan mendapatkan komentar yang merendahkan. Kali ini aku bersikap tidak peduli dan membiarkan akun media sosialku dipenuhi komentar. Toh, itu bagus untuk engagement. Pengikutku meluncur bak roket. Sudah pasti setelah aku mengurasi isinya terlebih dulu.

Foto-foto yang tidak lulus sensor Karenina langsung masuk arsip.

Kedua orang tuaku dan Debora sudah aku hubungi malam itu juga. Adikku bilang dia tidak apa-apa, tapi suaranya tidak dapat mengelabuiku. Suara Debora yang lesu membuat sedih menggelayuti hatiku lagi. Ayah dan Ibu pun setali tiga uang.

"Itu bukan hal baru. Bapak dan Ibu tahu risiko seperti ini pasti ada kalau kamu dekat dengan orang seperti Benjo. Bapak tadi bilang di musim pemilihan seperti ini memang rawan banget untuk berita-berita tersebar."

Benjamin menghubungi ponselku, tapi aku abaikan. Pesannya pun tidak ada yang aku balas. Isinya mengenai akunku yang terbuka, bukan perihal berita mengenai adikku. Itu membuatku semakin yakin kalau dia yang menyebarkannya.

Aku tahu dengan membuka akun, berarti spotlight yang semula terarah kepada Benjamin, kini ada padaku. I just dance to the music he's conducting, tidak ada yang salah, kan? Kalau dia kesal karena aku tidak bertingkah sesuai dengan rencananya, itu berarti dia harus belajar menurunkan ekspektasinya terhadapku. Memangnya aku boneka yang bisa dimainkan seenaknya?

Mau dia mengamuk dan berubah menjadi Behemoth beneran pun aku tidak peduli. He can kiss my arse.

⋆˚✿˖°

Haloo, aku repub cerita ini yaa. As usual ekstra part dan atau buku kedua akan ada di WP jika target bintang 3.2K dan komen 1.2K per part tercapai 6 bulan setelah part terakhir up. Jadi, ada atau enggak tergantung yang baca mau komen dan pencet bintang atau enggak yaa, jangan protes ke aku :(
Met baca!

 Jadi, ada atau enggak tergantung yang baca mau komen dan pencet bintang atau enggak yaa, jangan protes ke aku :(Met baca!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang