How This Story Ends - 28 - Cucu Eyang yang Sotoy 13.1

8.7K 742 60
                                        


Question of the day: pancake atau waffle?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟

Aku dan Karenina langsung ke dapur umum begitu masak kami selesai. Karena bagaimana pun, aku dan Karenina masih menerima gaji sebagai personal chef.

Membuat sambal untuk dijual menjadi prioritasku hari ini, sehingga siang nanti bisa memasak untuk nasi kotak yang akan dibagikan. Aku tidak tega meminta relawan untuk datang lebih cepat, jadi pagi ini aku dapat pastikan hanya kami berdua di sana.

"Selain spa day, gue juga minta uang buat belanja." Karenina tidak berhenti ngedumel semenjak tiga puluh menit yang lalu kami mulai memisahkan batang cabai dari tumpukan yang tidak ada habisnya.

"Lo pikir gue bank berjalan apa?"

"Bukan lah. Lo masih itik buruk rupa yang kere bin melarat. Maksud gue duit suami lo."

"Emang lo berani minta ke dia?"

"Enggak. Lo yang minta, gue yang nikmatin."

"Kalian jangan banyak omong. Banyakin kerja," omel seseorang yang aku tidak sangka tadi datang bersama Karenina. Terakhir bertemu beberapa hari lalu, saat pernikahan, tapi itu pun hanya sebentar karena Eyang pulang lebih cepat dengan alasan kelelahan. Aku sedikit khawatir dan berniat menghubungi, tetapi dengan watak Eyang yang menyebalkan, menanyakan melalui sambungan telepon sama dengan penutupan panggilan sepihak karena beliau malah berlama-lama menelpon. Jawaban yang akan aku dapatkan pun hanya berupa "Nggak usah tanya-tanya."

"Ngapain lo ajak Eyang, sih?"

"Siapa yang mau ngajak Eyang? Gue pagi-pagi mau pergi ke rumah Benjo, Eyang sudah ada di depan pintu dan mau ikutan."

Aku manyun dan melirik kesal ke arah Eyang yang sedari tadi berlagak seperti mandor. "Bantuin kalau mau cepet."

"Kamu nyuruh Eyang mertuamu buat kerja? Dasar cucu menantu nggak tahu diri."

"Terus, Eyang ngapain ke sini kalau nggak mau bantuin?" Eyang diam, tidak membalas ucapanku. Beliau malah menggesekkan telapak tangannya ke celana katun berwarna biru dongker yang dikenakannya. "Kangen sama aku, ya? Bilang kalau kangen, jangan marah-marah doang kerjanya. Susah amat buat jujur."

Beliau memalingkan wajahnya dengan raut bosan yang lalu aku sadari pasti diturunkan ke cucunya. Sudut bibir yang tertarik ke bawah, tirai mata yang setengah tertutup dan tatapannya yang seolah mengatakan kalau lawan bicaranya sangat bodoh. This bored face game is too strong in this family.

"Saya mau tahu hal nggak berguna apalagi yang kamu lakuin." Eyang menunjuk dengan jarinya ke arah tumpukan cabai.

"Ini karena cucu Eyang sotoy. Gimana bisa aku cuma tampil cantik doang kalau yang sederhana kayak gini aja dia nggak bener ngerjainnya?" Aku memetik tangkai cabai sembari membayangkan kalau itu adalah leher Benjamin.

"Siapa yang sotoy?" Suara Benjamin terdengar, bahkan sebelum wajahnya dapat aku lihat karena aku membelakangi pintu.

"Istrimu lagi ngomongin kamu." Eyang langsung mengadukanku bahkan tanpa mengedipkan mata.

Pantalon dan sepatu hitam Benjamin yang pertama aku lihat, disusul dengan bagian tubuhnya yang lain dari balik pintu gudang yang terbuka. Dia mengenakan kemeja putih, seperti yang aku lihat di pagi hari tadi.

"Eh, Mas Suami ngapain di sini?"

Punggungku lalu bertemu dengan dengkul Benjamin, pelan. "Jangan sok manis. Kamu ngatain saya apa tadi?"

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang