Question of the day: pizza atau chips?
Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟
Karenina menarik bantal yang menjadi sandaranku dan melipat tangannya di dada. "Bangun. Laki lo bilang jangan dibangunin, tapi gue tahu perut lo dan naga-naga di dalam sana nggak bisa kalau nggak sarapan."
"Lo memang yang paling paham dan pengertian." Karenina membusungkan dadanya dengan bangga. Aku buru-buru menambahkan, "Sayangnya jomlo akut."
"Masak sarapan lo sendiri." Karenina sudah berjalan keluar kamar dan aku mengekori dengan kekehan.
"Jangan, dong. Gue nggak sanggup kalo harus masak lagi."
Karenina mengeluarkan overnight oat yang kemarin malam dibuatnya di rumah dan dibawa pagi ini. Dia memakai potongan buah yang selalu tersedia di konter dapur Benjamin sebagai toping. Strawberi, pisang, bluberI, dan kacang mede.
"Benjo bilang lo lagi sakit. Terus dia juga aneh pagi tadi."
"Bukannya dia aneh dari dulu?"
"Sama anehnya sama lo. Dia nanyain lo beli koyo di mana, soalnya yang dikotak P3K lo sudah mau habis. Gue disuruh nggak ke dapur umum juga hari ini, temenin lo di rumah doang sampai dia pulang katanya. Dia bayar overtime juga. Gue jadi nggak bisa nolak kalau sudah bawa-bawa uang, pada gue ada janji kopi darat sama orang dari Twitter."
"Gue baru tahu kalau Twitter bisa gantiin fungsi Tinder juga."
Aku menerima mangkok dari Karenina dan baru menyadari kalau tanganku ada tempelan koyo, padahal semalam sudah aku lepaskan sebelum mandi. Tanganku spontan meraba pinggang dan punggung yang kini juga tertempel koyo. Hal sederhana ini membuat jantungku berderap lebih kencang dari normal. Terlebih, aku ingat Benjamin juga memakaikanku pelembab wajah.
"Yang paling penting hari ini bukan itu." Di tengah kebingunganku, aku memaksakan diri untuk fokus ke pembicaraan saat ini dengan Karenina. Sahabatku mengeluarkan sendok dari dalam mulutnya dan menggunakan itu untuk menunjuk dadaku. "Sejak kapan lo ada di hubungan yang pakai baju suami lo buat tidur?"
Aku mencoba tenang dan tidak memberikan reaksi yang Karenina mau; panik, respons tidak berlebihan, dan sejenisnya yang menjadi pertanda kalau terjadi sesuatu. Poker face.
"Jangan berlagak pilon. Lo nggak bisa bohong kalau muka lo aja semerah tomat."
"Gue lagi nggak enak badan. Panas. Iya, panas."
"Panas, ya?" Punggung tangan Karenina sudah menempel di dahiku. "Enggak. Ini normal. Hangat juga nggak sama sekali."
"Panas dalam. Mana bisa lo cek dari dahi."
"I can smell your bullshit from Mars."
"Gue nggak tahu indra penciuman lo setajam itu sampai bisa cium antar planet."
"Stop beating around the bush. Kalau ada sesuatu juga nggak apa-apa, kok. Kalian suami-istri, biarpun nikah bukan karena cinta, tapi kalian sepakat buat nggak cerai." Karenina menyendokkan oat ke mulutnya. "Gue tadi hubungin Beau buat bilang soal lo yang nggak masak, terus nggak bisa ke dapur umum juga disuruh sama Benjo. Terus dia ngomel-ngomel soalnya Benjo sudah mau dua bulan ini lebih banyak kosongin jadwal malamnya, padahal banyak orang yang cuma punya waktu malem buat ketemuan. Dia di mana malam-malam? Ikutan prepping bahan buat besok di dapur umum. Padahal kalau dia mau, dia bisa aja sibuk urusin kerjaannya sendiri."
Karenina menyenderkan bahunya di punggung kursi meja makan. "Dia nggak buruk-buruk amat. Kalau pun dia nggak ngelakuin itu karena punya perasaan sama lo, itu berarti dia beneran care sama apa yang dia jalanin. Nggak kayak yang selama ini kita kira; dia hanya peduli sama angka dan hasil pemilihan nanti. Memanfaatkan orang-orang supaya bisa menang pemilihan."
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)