How This Story Ends - 36 - Cemburu Jilid 2? 17.1

8.5K 701 62
                                        


Question of the day: kolam renang atau pantai?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟

"Ini tempat tidurnya sempit. Kamu balik ke alammu sana." Aku menendang kaki Benjamin lalu mendorong tubuhnya agar berguling ke lantai, tapi tubuhnya seperti batu. Tidak berkutik. "Benjamin, ini beneran sempit. Kasurku bukan size king kayak di rumahmu. Queen aja bukan."

"Berisik, Leah. Aku mau tidur. Kita juga masih harus menguji teori kamu." Benjamin mengangkat tangan kami yang bertautan dari atas ranjang. Stopwatch masih belum juga berbunyi. "Aku bayar mahal buat ini."

Aku menyengih. "Kamu belum keluar duit sepeser pun. Yang mau nginep di sini itu aku. Ngapain kamu ikutan segala," keluhku. Niatanku buat kabur dari suamiku sendiri gagal total. Padahal aku sudah merancang alasan paling masuk akal tadi.

"Aku kan sudah bilang kalau aku nginep di sini pagi tadi. Kamu lupa, ya?" Aku tidak mengatakan menginap, hanya bilang kalau akan datang ke sini. Hanya separuhnya yang bohong.

Benjamin mengedipkan matanya sekali, dia tidak kehilangan momentum untuk menjawab atau menunjukkan kebohonganku. "Ah, iya. Aku lupa." Aku baru akan senang, tapi Benjamin lanjut berbicara. "Aku ambil baju dari mobil dulu."

"Lho? Buat apa?"

"Nginep juga."

Dan itu yang akhirnya membuatku tidur di ranjang full dengan Benjamin. Mana aku tahu kalau dia selalu membawa baju ganti di dalam mobilnya. Aku juga tidak berpikir kalau dia akan ikut menginap bersamaku. Otak nyinyirku sudah berpikir kalau dia akan pergi lagi bersama mantan pacar tersayangnya itu.

Dia begitu karena ada Kimmy, masa suami biarin istrinya nginep di tempat lain. Hitungannya masih pengantin baru pula. Dia nggak mau kebohongannya kebongkar saja, suara di dalam kepalaku yang rasional itu membuatku mengangguk pelan. Tapi itu berarti dia nggak bilang ke Kimmy dong perihal nikah ini karena apa?

Laju pikiranku terhenti saat Benjamin membuka mulutnya. "Kamu nggak lihat berita hari ini? Eh, kamu nggak nonton TV, ya. Berita-berita dibaca dari linimasa media sosial."

"Malem-malem masih aja ngajak ribut. Berita apa?"

"Aku ditimpuk telur waktu ke pasar."

"Hmm."

Dia menoleh ke arahku. "Sudah? Itu aja reaksinya? Nggak tanya kabar suamimu sehabis ditimpuk telur di depan umum bagaimana? Nggak ada respon apa pun?"

Aku sudah melihat berita ini di Twitter. Reaksiku pertama adalah ingin menghubunginya dan menanyakan kabar, tapi setelah aku canggung sendiri setiap malam, menanyakan kabar Benjamin hanya membuatku kesal sendiri. Karena itu berarti aku menunjukkan bahwa aku khawatir. Bah, I'm not crossing that line.

"Kenapa kena timpuknya sekali aja? Padahal kan dia ngelemparnya banyak. Dia harus belajar melempar lagi." Nada yang aku gunakan penuh dengan penyesalan. Sedikit kesal juga karena sekarang aku berharap setidaknya tiga telur mengenai kepalanya baru aku puas.

"Woah, mulut kamu memang sebelas-dua belas sama sambal buatanmu."

"Itu bukan cabai organik, mana bisa kamu makan. Ntar kamu diare lagi."

"Kalau nggak ngejek orang lain, kayaknya kurang puas ya hidupmu?"

"Cuma yang layak buat dihina aja. Aku perlu pastiin kakimu jejak di bumi, biar kepalamu yang besar itu nggak melayang karena pujian orang-orang. God sent me to humble you."

How This Story Ends [FIN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang