Question of the day: wfo atau wfh?
Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟
"Kok masih di sini? Kan, tadi aku bilang pulang duluan aja."
Menu sayur besok adalah tumis kubis tahu kering. Karena porsi yang ditambah itu, aku otomatis menghabiskan waktu lebih banyak prepping bahan untuk esok harinya. Ototku bekerja tanpa aku perlu berpikir, memotong kubis ke ukuran kecil. Sebenarnya ini bukan perkara sulit. Tapi karena jumlahnya yang terlalu banyak, aku jadi cepat bosan dan pegal. Terlebih, aku melakukan ini setiap malam, meskipun tidak setiap hari juga sebanyak sekarang, tapi akumulasinya membuat tidak hanya tanganku harus ditempeli koyo, tetapi pinggang dan juga punggung. Aromaku seperti nenek-nenek.
Aku kira sudah terbiasa dengan pekerjaan berat sejak bekerja di restoran, tetapi dapur umum membawa kata kerja keras ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
"Kamu biasanya kerjain ini sendirian?"
Beau duduk bersila di sebelahku, lengkap dengan talenan dan pisau di depannya.
"Biasanya ada Kare, tapi hari ini ibunya ulang tahun, jadi dia pulang cepet. Kadang juga Benjamin bantuin, tapi sekarang dia lagi ada meeting, ya? Tumben nggak kamu tempelin."
Jeda cukup lama hingga aku hanya mendengar suara pisauku yang beradu dengan renyahnya kubis dan bermuara dengan suaranya yang beradu dengan talenan. Suaranya yang konstan dan stabil terdengar seperti musik untuk pengantar tidur.
Aku tidak kunjung mendengar jawaban dari Beau, tetapi suara pisaunya menjadi pertanda kalau dia masih ada di sana dan mendengarkanku.
"Capek lihat muka dia terus," jawab Beau akhirnya.
"Kalian bareng dari lama?"
Percaya atau tidak, aku tidak pernah mencari lebih banyak informasi mengenai Benjamin dari internet, karena semua yang ada di sana belum tentu benar. Semua yang ada di internet tergantung siapa yang menarasikannya sehingga apa yang dituliskan di sana dilihat dari sudut pandang orang lain. Jadi, aku memilih menggunakan cara lama: bertanya langsung ke orangnya dan memberikan penilaian sendiri di dalam kepalaku.
"Dari kuliah. Dari dulu kami sudah aktif di organisasi dan Benjo memang selalu vokal dan mengkritik pemerintahan dari luar."
"Terus dianya sekarang jadi orang dalam? Hipokrit sekali."
"Terjun langsung ke politik itu pilihan yang berat buat dia."
"Berat gimana? Ayahnya di politik, kan? Begitu juga yang sebelum-sebelumnya." Sampai sini aku cukup paham mengenai suamiku. Keluarganya sudah cukup lama berkecimpung di politik negara ini, bahkan semenjak proses kemerdekaan. Nama keluarganya, yang tidak dia gunakan, tidak asing di telinga orang-orang.
Beau menipiskan bibirnya. "Itu ... kamu bisa tanya sendiri ke dia." Beau mengesah. "Sebanyak itu yang perlu dipotong lagi?" Dia menggunakan pisaunya untuk menunjuk pada tumpukan kubis. Cara yang baik untuk mengalihkan pembicaraan.
Aku menggunakan empat puluh kubis dan baru memotong sepuluh. "Tiga puluh lagi, lebih jelasnya. Setelah ini juga ada tahu yang masih perlu dipotong. Tenang, kita bakalan habisin waktu sampai tengah malam buat selesai. Ini saat yang tepat kalau kamu mau kabur."
"Enggak. Ini doang, gampang."
Aku mendengkus untuk menyembunyikan tawa. Kesombongan Beau tidak akan bertahan lama. Aku tidak yakin kalau cowok ini melakukan banyak pekerjaan fisik, selain menjaga dirinya tetap rupawan dan bermain strategi di dalam kepala besarnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)