How This Story Ends - 45 - Akhir Cerita 23.1 - END

49.7K 2.8K 803
                                        


Question of the day: baca buku atau denger musik?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟

Aku banyak membaca mengenai cerita ibu yang kehilangan anak yang masih di dalam kandungan. Setiap orang melalui tahapan yang berbeda. Tidak ada yang sama.

Banyak yang sudah melalui fase bahagia mengetahui kalau mereka mengandung sebelum kebahagiaannya direnggut dan menjadi semu, kemudian mereka melalui fase berduka. Tidak sedikit juga yang sepertiku. Langsung kehilangan dan tidak tahu apa berada di fase berduka atau hanya mati rasa karena terlalu syok.

Dari yang aku baca, syok itu akan berubah menjadi kesedihan, rasa bersalah yang mendalam. Ini hari kedua semenjak kehilanganku, dan aku masih berada di fase syok. Tidak tahu kapan akan bergeser atau aku akan stuck di fase ini.

Aku ingin berbagi perasaan gamang ini, jadi aku membaginya ke orang yang juga kehilangan sebagian dari dirinya juga. Aku mengabari Benjamin mengenai keguguran kami. Aku ingin menyiksanya dengan mengetahui sedikit informasi. Saat dia menemani orang lain dan menghilang tanpa kabar, dia juga kehilangan sesuatu.

I want him to feel the agony.

Setelahnya, ponselku penuh dengan panggilan dan pesan dari Benjamin yang tidak aku balas atau aku buka. Ponsel Karenina juga tidak kalah hebohnya. Benjamin menghubungi hampir setiap saat seakan dia lupa kalau dia memiliki pekerjaan yang sangat sibuk, juga gosip yang harus diurus.

Kareina hanya membalas pesan Benjamin sekali untuk mengabari Eyang dirawat. Setelah itu dia radio silent, sepertiku.

"Kalau lo pulang ke rumah gue, lo tahu kan kalau Benjo ada kemungkinan datang juga?"

"Gue ikut dia balik. Mau kabur juga nggak bisa."

Benjamin datang lebih cepat dari yang kami kira. Dia sudah ada di depan rumah Karenina saat kami tiba. Dia tidak serapi biasanya. Wajahnya yang selalu bersih dari bakal janggut, kini dipenuhi titik-titik hitam di sekitar rahangnya. Dia langsung keluar dari mobil begitu melihat kami turun dari taksi online. Wajahnya lebih lusuh dibanding baju yang dikenakannya.

"Gue masuk, ya?" Sahabatku menepuk punggungku pelan. Dia selalu memihakku jadi kini Karenina mengabaikan Benjamin yang menyapa. Meskipun secara hirarki, suamiku yang dibencinya sekarang adalah bosnya.

"Kita pulang?" Ragu mengisi suara Benjamin.

Dia memberikan jarak di antara kami. Bukan jarak yang dapat aku tutup dengan melangkah mendekatinya, tetapi sesuatu yang tidak dapat aku seberangi. Pun aku tidak tahu apa aku mau melakukannya, sehingga aku mencipta jarak yang lebih jauh lagi di antara kami.

Setiap hari yang berlalu, jarak yang merentang semakin jauh. Semakin sedikit pula kalimat yang tertukar antara aku dan Benjamin. Aku kehilangan minat untuk berada di rumah.

Pertama kali aku menginjakkan kaki di rumahnya, Benjamin berusaha untuk menjelaskan. "Aku dan Kimmy nggak ada apa-apa. Dia stres berat lalu perutnya sakit." Benjamin mengeluarkan banyak kata lagi. Yang aku tangkap hanyalah "Dia bukan ayah dari anak yang dikandung Kimmy. Kimmy dan ayah dari anak yang dikandungnya sudah mengadakan jumpa pers. Semalam dia terlalu lelah dan langsung tidur di sofa karena tidak mau menggangguku yang dikira tertidur di kamar." Tidak ada yang menjelaskan mengenai alasannya bertemu dengan Kimmy dan kebohongan dulu.

"Do you even read the proposal that I gave you?"

"No."

"Are you even have any intention to read it?"

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang