How This Story Ends - 17 - Perkongsian 7.3

9.1K 833 85
                                        



Question of the day: martabak manis atau martabak telor? 


vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X akudadodado & Tiktok dadodados

Thank you :)

🌟

Benjamin dapat dengan luwes berakting begitu mobil berhenti di depan rumahnya dan pintu dibuka. Tanpa ba-bi-bu setelah turun, dia membukakan pintuku dengan senyum, seolah dia senang melihatku. Bah, sepanjang perjalanan saja dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sedangkan aku yang berbohong sama sekali tidak ada dalam DNA, ini adalah pekerjaan sulit. Aku tidak senang bertemu dengan Benjamin, jadi melenturkan seluruh otot wajahku hanya untuk tersenyum sudah seperti angkat beban. Dia bahkan memegangi bagian atas pintu mobil agar kepalaku tidak terantuk.

Aku mulai memperkirakan seberapa banyak barisan patah hati yang mendoakannya agar tidak memenangi pemilihan gubernur ini. Aku berdoa semoga doa itu dijamah, siapa tahu dengan begitu aku bisa lekas melanjutkan sekolah.

Benjamin membawa belanjaan kami ke dalam rumah setelah mengatakan: "Saya taruh ini dulu ke dalam. Saya lapar dan dia nggak sabar mau masak." Sembari mengangkat seluruh kantong dengan satu tangan dan wajah semringah. Lalu, sesuai arahan Beau, aku memegang lengan Benjamin yang kosong dan mengangguk sekali sembari tersenyum ke arah wartawan yang menghujani kami dengan blitz kamera. Aku rasanya hampir buta karena kilatan cahaya di tiap jepretan.

"Itu siapa, Pak?"

"Pacarnya?"

"Sudah ada hubungan sejak kapan, Pak?"

Dan teriakan pertanyaan lainnya. Jika tidak ada gerbang yang menghalangi mereka, sudah pasti mereka akan mengikuti kami memasuki rumah. Aku baru bisa bernapas lega saat pintu di belakangku tertutup. Begitu juga dengan senyum yang sedari tadi dipamerkan oleh Benjamin. Dia langsung berjalan lebih dulu memasuki dapur yang berada tepat di sebelah kanan pintu masuk. Karenina sudah menunggu di sana untuk mulai memasak hidangan rumahan yang akan masuk ke dalam Instagram Benjamin nanti.

Dapur di rumah Benjamin berbentuk U dengan konter dapur berlapis granit hitam yang mengelilinginya. Di ujung, tepat di depan jendela, ada kompor dengan downdraft hood yang tidak mengurangi estetika ruangan ini. Tanpa kabinet atas, dapur Benjamin terlihat sangat simple. Selain kompor tadi, hanya ada kulkas empat pintu, built in oven, dan dishwasher. Pagi tadi aku menyangka akan melihat mesin kopi terwahid yang nangkring di atas konter, ternyata tidak ada sama sekali.

Benjamin hilang di ujung lorong sebelah kiri, yang pagi tadi aku sadari sebagai kamar utama. Dia tidak tampak ada niatan untuk keluar lagi sesuai janjinya tadi. Hah. Dasar politikus.

"Beau bilang nggak ke lo kalau gue harus foto lo yang pura-pura masak opor ayam?Dari belakang aja. Buat masuk ke Instagram story Benjo juga," jelas Karenina.

"Ribet amat pura-pura. Sini, gue aja yang bikin opornya." Aku sudah membuka plastik, mengeluarkan bahan-bahan segar yang kami dapatkan dari pasar tadi, tapi Karenina menunjuk ke arah nampan di atas konter dapur yang menghadap ke ruang makan dan dapur. Hanya dipisahkan oleh konter dengan banyak laci di kabinet bawahnya. "Gue sudah siapin semua."

Aku melongo melihat bahan-bahan yang sudah terpotong rapi, berikut dengan ayamnya. "Terus, buat apaan gue keringetan di pasar dan senyam-senyum nggak jelas lebih dari sejam?"

"Nggak tahu. Lo pikir si Benjo makan bahan-bahan dari pasar? Dia cuma makan sayuran yang impor dan hidroponik. Jangan bikin gue mulai ngomongin masalah proteinnya yang dipesan khusus." Karenina melengos setelah menjawab pertanyaanku. Dia mengambil celemek berwarna salem dan mengangsurkannya kepadaku. "Lo rapihin rambut dulu, terus mulai masak biar gue foto-foto. Entah mana yang bakalan Beau ACC buat ditaruh ke medsos Benjo."

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang