TAMAT & PART LENGKAP
May contain some mature convos and scenes.
Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai.
Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar.
Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
Question of the day: mending disuruh ngepel atau nyetrika?
vote, komen dan followakun WP ini + IG & X akudadodado & Tiktok dadodados Thank you
🌟
"Lo mau nikah gimana?" Karenina mengorek telinganya dengan kelingking, seolah-oleh dia tidak mendengar apa yang baru aku ucapkan, padahal aku duduk tepat di sampingnya.
"Tanpa pesta. Sederhana aja. Sebelum Gereja ada tanda tangan untuk catatan sipil, kan? Setelah itu pemberkatan, dan selesai."
"Lo kan punya cita-cita nikah di villa pinggir pantai, Le."
"Nikah beneran. Bukannya nikah sama behemoth." Aku melirik Eyang karena bagaimana pun—yang ternyata baru aku ketahui dari hasil googling—Benjamin adalah cucunya. Beliau tidak memberikan respon apa-apa terhadap ucapanku barusan. Atau kepada Benjamin yang melotot di sofa lainnya dan Beau yang terbahak hingga memegangi perut.
Karenina melanjutkan ocehannya. "Tapi lo nikah sama Benjo, Lele!" Seru Karenina gemas.
"Lo nggak denger ocehan Benjo sama Beau kemarin? Mereka mau cari pemilih dari kalangan menengah ke bawah. Kalangan menengah ke bawah mana yang bisa relate sama pernikahan di hotel bintang lima yang pengisi suaranya artis papan atau ... atau ..." aku melirik buku catatan Karenina lalu memekikkan satu nama yang ada di sana, "Beyonce?! Lo mau nikahan apa mau party? Sejak kapan juga Beyonce terima acara kondangan? Dibayar pakai nasi kotak, gitu?"
"Beyonce pernah nyanyi di acara prewedding anak orang terkaya di India," ketus sahabatku seakan informasi yang diberikannya adalah imu yang seharusnya dimiliki oleh semua orang, "Tapi lo juga lupa kalau orang-orang suka drama. Suka cerita cinderella. Harapan untuk masuk ke kalangan mereka kelihatan tergapai lewat lo. Ini tepat banget buat narik simpati orang-orang. Terutama cewek-cewek di luar sana."
"Bukannya malah kebalikan? Bakalan banyak yang nyinyir."
Karenina menggigit es krim dan menodongkan tangkainya ke arahku. "Buat lo. Mereka nggak sukanya sama lo. Lo tahu lah cewek-cewek. Iri, ngerasa lebih cakep, lebih pinter, lebih segala macem. Tapi sentimen ke Benjo bakalan bagus." Karenina menjentikkan jarinya. "Dia bakalan dilihat sebagai kesatria di novel-novel romance itu. Kalau lo mah, pasti dilihatnya jadi gold digger."
Kepalaku meneleng ke kanan, "Dan gue harus merasa tersinggung kalau dipanggil itu? Lagian ini lebih mirip Beauty and the Beast. Beast punya banyak duit, gue kalau jadi Belle mau juga." Kalau bisa menjadikan gold digger sebagai pekerjaan sampingan, kayaknya aku akan melakukannya. Sayang saja dari segi wajah dan penampilan tidak mendukung.
Karenina melipat bibirnya ke dalam kemudian menganggukkan kepala, "Lo merusak dongeng kesukaan gue, tapi nggak apa-apa. That's my girl. Jangan peduli orang mau bilang apa." Karenina menggigit bibir sambil melihat daftar chekclist di bukunya. Dia sudah mempersiapkan itu semenjak mendengar tawaran Eyang tanpa menunggu jawabanku. "Ini kerja efisien," jawabnya saat aku menanyakan perihal daftar panjang yang siap diberikan centang.
"Bapak maunya gimana?" Semua pasang mata kini tertuju pada Benjamin yang ditanyai oleh Karenina.
"Terserah dia aja." Wajah Benjamin terlipat delapan karena masih ditertawakan oleh Beau.
Beau melanjutkan. "Dia hanya perlu beberapa foto untuk dimuat di media waktu pilih cincin, ikut pilih gaun, dan sejenisnya. Biar kelihatan kalau dia peduli." Kalimat terakhir membutku mendengkus. "Untuk cerita awal mula kalian ketemu bisa dari sini." Beau membuat bentuk lingkaran dengan jari telunjuknya.
"Benjo nggak sengaja ketemu Leah waktu main ke rumah Eyang. Semenjak itu mulai dekat. Frekuensi lo ke sini lumayan, kan?" Beau menyenggol kaki Benjamin.
"Iya."
"Nah, itu pas. Ini bisa gue sebar ke reporter buat bahan terbaru." Beau langsung mengeluarkan ponsel dan menarikan jemarinya di atas layar dengan lincah sembari lanjut mengoceh. "Setelah menikah kamu perlu datang waktu Benjo—"
Benjamin menghentikan Beau sebelum kalimatnya selesai, "Gue sudah kasih tahu dia. Lo brief aja jadwal gue."
"Nggak bisa langsung kabar nikah aja?" selaku sebelum pertemuan ini berakhir.
"Aku nggak merasa itu ide bagus. Kalau tersebar berita kamu hamil duluan, bukan hanya Benjo yang namanya buruk, tapi kamu juga. Berita di media berpengaruh besar sekarang ini. We have to control our narrative to make sure what people heard is what we want. Kita bisa mulai dengan satu atau dua foto kalian yang tersebar di media sosial, biar orang-orang penasaran dan cari tahu soal kamu sendiri."
"Itu berarti aku harus jalan sama dia?" Aku menunjuk Benjamin yang tidak berhenti lebih banyak menjadi observer ketimbang terjun di dalam pembicaraan yang melibatkan nasibnya.
Beau mengangguk. "Sekali aja. Makan di tempat yang sederhana, yang bikin Benjo ada di luar boks yang selama ini ada di kepala masyarakat: orang berduit."
Aku memelintir rambutku dengan jari telunjuk yang semula mengarah ke Benjamin. "Dibandingkan makan di luar. Mending ke pasar tradisional aja, pura-pura belanja bahan makanan. Lebih banyak ibu-ibu yang jadi niche dia di pasar." Aku tahu ini karea saat berbelanja ke pasar dengan Karenina minggu lalu, ada sekumpulan ibu-ibu yang heboh menggosip mengenai Benjamin. "Lagian, kalian para politikus bukannya sering kunjungan ke pasar untuk narik simpati orang-orang?"
Akhirnya calon suamiku membuka suara. "Untuk orang yang sok jual mahal, kamu kayaknya sudah memikirkan hal ini masak-masak."
Aku tersenyum manis sebelum memberikan serangan balasan kepada Benjamin. "Bukan berarti saya nggak punya otak buat mikir, kayak yang maksa-maksa nikah tapi nggak punya rencana apa-apa." Dia pikir aku akan diam saja kalau diejek seperti itu? Hah! Mau dia anak presiden juga aku tidak peduli.
Beau menengahi adu tatap kami. "Kalau nggak ada masalah dengan pernikahan yang disebutkan oleh Lele, kita mulai bisa atur jadwal untuk kelian kencan. Tempatnya mungkin bisa di rumah Benjo saja. Jadi selepas dari pasar, kalian bisa langsung ke sana. Kamu punya mendia sosial, Le?"
"Punya."
"Dikunci dulu supaya orang-orang makin penasaran. Semakin banyak orang mau tahu soal kamu, semakin bagus untuk publisitas Benjo."
21/7/23
Beauty and the beast adalah panutan wkwk Haloo, aku repub cerita ini yaa. As usual ekstra part dan atau buku kedua akan ada di WP jika target bintang 3.2K dan komen 1.2K per part tercapai 6 bulan setelah part terakhir up. Jadi, ada atau enggak tergantung yang baca mau komen dan pencet bintang atau enggak yaa, jangan protes ke aku :( Met baca!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.