Question of the day: mie rebus atau mie goreng?
Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟
"Dapur umum?" tembakku langsung saat Benjamin berjalan memasuki kamar hotel kami. Jas putih gading yang seharian ini dipakai bergantung di lengan kirinya. Dua kancing teratas kemeja putih itu terbuka dan lengan kemejanya juga sudah dilipat hingga siku.
Dia baru memasuki kamar kami di pukul tujuh malam. Aku tahu bukan karena aku menunggunya, tapi itu lebih karena Karenina baru kembali ke kamarnya kurang lebih sepuluh menit yang lalu. Dan aku kesepian sendirian di kamar yang besar ini.
"Oh, itu." Benjamin langsung mengenyakkan tubuhnya di sofa panjang sebelahku. Satu tangannya naik menutupi mata. "Mulai lusa ada dapur umum di tanah yang sudah disiapkan oleh relawan. Bahan-bahannya diambil dari pedagang sekitar supaya ekonomi juga bergerak dan mereka merasa ikut terlibat di kegiatannya. Kamu nggak perlu masak, cukup bantu-bantu saja. Ada banyak relawan di sana yang akan masak. Tapi kamu kalau bisa ke sana setiap hari."
"Menunya?"
"Menu? Kamu pikir ini restoran? Relawan juga yang tentukan seminggu sekali. Tergantung ketersediaan bahan yang ada di pedagang."
"Jadi, saya ke sana cuma jadi pajangan aja?"
Benjamin menoleh dan menatapku. "Apalagi memangnya? Kamu menikah supaya hidupmu lebih mudah, kan? I give you the easiest thing to do. Just to be present and smile to everyone. Itu masih sulit juga buatmu?" Suaranya pelan, tetapi nada merendahkan yang digunakannya tidak mungkin luput aku dengar. Kalau suaranya tidak cukup, matanya yang setengah tertutup dengan ekspresi bosannya itu sudah menjelaskan semuanya.
Ugh, aku benar-benar tidak suka dengan manusia bertopeng malaikat satu ini.
"Saya nggak mau denger kalimat itu dari orang yang kariernya lebih mudah karena menikah," balasku sengit. "Saya perlu tahu dasarnya supaya sewaktu ke sana saya nggak buat salah, yang rugi kamu juga."
"Enggak akan. Kamu sengaja saya taruh di belakang layar supaya tidak ada salah-salah. Kalau pun ada, yang tahu hanya internal saja, tidak sampai keluar."
Gah. Dia pikir aku akan membuat kesalahan? Di dapur? Area yang aku kuasai dengan mata tertutup? Aku bertekad akan membuatnya mengakui kesalahannya dengan bekerja ekstra keras di dapur umum nanti.
"Skemanya bagaimana? Orang-orang akan datang untuk ambil lalu kamu foto untuk kepentingan dokumentasi di media sosialmu?"
Ini adalah pertanyaan untuk menyindir dan Benjamin tahu itu. "Kamu pikir saya perlu kayak gitu? Buat apa? Biarin media-media yang liput soal ini."
Aku hampir termakan bualannya dan menanggap dia tulus melakukan ini, jika bukan karena kalimat terakhir yang membuatku sadar kalau dia sudah pasti merencanakan semuanya sejak awal. Semuanya tidak jauh-jauh demi meraup simpati dan yang lebih penting suara sebanyak-banyaknya. Tapi karena kami kini dalam topik makanan, aku merasa perlu menyampaikan ide yang sudah ada di dalam kepalaku, meskipun ragu kalau cowok ini akan mendengarnya. Tapi karena dia mengadakan dapur umum, setidaknya dia ada kepikiran untuk menyediakan makanan.
Untuk melancarkan topik yang akan aku angkat, aku mengubah intonasiku ke sedikit lebih pelan. "Pernah kepikiran untuk kumpulin makanan dari restoran atau acara-acara juga nggak?"
Benjamin diam, jadi aku lanjut mengutarakan ideku.
"Dulu, waktu lagi kerja di katering gitu, suka ada makanan sisa yang semuanya masih bagus dan layak banget dimakan. Tapi karena pemilik acara nggak ada waktu untuk bagi-bagi, jadi banyak yang kebuang gitu aja. Food waste dan food loss juga isu yang lagi marak dibahas, kan? Food loss mungkin bukan ranah kamu, tapi food waste termasuk dengan tingginya kasus stunting. Kamu juga pasti punya banyak koneksi untuk orang-orang yang sering adain acara-acara, pasti lebih mudah buat dikontak untuk kumpulin makanan ini. Kalau kamu ribet, bikin kontak khusus untuk yang terima panggilan jemput makanan, terus ada orang yang bagi-bagi ke yang memang butuh makanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)