Question of the day: mending nggak sarapan atau nggak makan malam?
vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X akudadodado & Tiktok dadodados
Thank you :)
🌟
Aku memaksa ujung bibirku untuk tertarik ke atas. Berjalan ke arah Benjamin lalu mengalungkan lenganku di lengannya. Sedikit menarik cowok itu supaya mengikuti arahanku untuk berhenti di depan Ibu. "Ini Benjamin. Benjamin, ini Ibu." Aku melepaskan lengannya agar dia menyalami Ibu, tetapi dia menarik punggung tangan ibuku ke dahinya.
"Benjamin, Bu."
Ibu tersenyum singkat lalu mendorongku ke arah meja makan dengan satu tangannya yang tidak memegang pisau. Beliau tengah memotong mangga dan aromanya menggugah seleraku. "Makan dulu. Kalian belum makan siang, kan?"
Aku melirik Benjamin karena ini tidak sesuai urutan yang aku sebutkan di awal. Makan seharusnya bagian paling akhir sehingga kami bisa kabur dengan alasan banyaknya pekerjaan Benjamin. Dari cerita Karenina mengenai bosnya yang pickyeater, dan bagaimaan bahan makanannya yang hanya menggunakan kualitas terbaik. Aku tidak mau melihat bagaimaan dia menolak ajakan makan orang tuaku yang berprinsip semua orang harus makan sebelum pulang.
Otakku bekerja keras memikirkan alasan yang tepat untuk menolak ajakan Ibu, tetapi dia memilih untuk mogok bicara. Padahal saat aku tidak perlu dia untuk mengoceh, dia justru tidak berhenti. Aku tidak ada hati untuk menolak, terutama melihat jumlah lauk yang ada di atas meja. Memikirkan seberapa banyak waktu yang dibutuhkan oleh Ibu memasak ini semua seorang diri, karena adikku sudah pasti memilih untuk ngorok dibandingkan bangun menyaingi matahari di hari libur.
Aku tahu ini akan terjadi saat aku menghubungi Ibu dua hari lalu untuk mengabari kalau aku akan pulang dan membawa seseorang. Ibu sudah pasti menyiapkan segala macam. Selama itu pula aku memikirkan alasan yang tepat. Menyusunnya berdasarkan yang paling sempurna hingga tidak masuk akal, tetapi tidak ada satu pun yang tidak membuatku sedih jika membayangkan wajah Ibu dan bagaimana letihnya beliau saat memasak.
Dengan Benjamin yang sama diamnya denganku, aku mengambil sikap dengan menolak meskipun ini meremat hati. "Boleh bungkus aja nggak, Bu? Benjamin sedang sibuk keliling. Biar kita bisa sempat untuk bicara." Aku melongo ke dalam kamar, ke pintu kayu yang sedikit terbuka. Sejujurnya aku akan melihat ke arah mana pun agar tidak menanangkap kekecewaan yang tampak jelas di mata tua yang dikelilingi keriput itu. "Ayah di kamar?"
"Ayah! Mbak Lele dateng." Debora berteriak sambil berlari kecil ke dalam kamar. Dia melirik lalu tersipu sendiri saat melewati Benjamin.
Dasar bocah ingusan.
"Kamu tidak usah teriak. Ayah bisa dengar kalian bicara dari tadi."
"Kalau dengar, ngapain di dalam kamar saja? Minta dicariin sama Mbak Lele?" cibir adikku yang berdiri di daun pintu dengan Ayah yang muncul menggunakan salah satu dari dua kemeja yang dimilikinya. Beliau tidak suka memakai kemeja karena gerah menurutnya. Kemeja lain yang dipunya Ayah juga seragam kerja kalau beliau sedang menyetir bosnya. Pantalon yang juga hanya dikenakan saat bekerja kini melapisi kakinya. Begitu pun dengan rambut yang tersisir rapi.
Jika hubunganku dengan Ibu berangsur membaik, hubunganku dengan Ayah masih jalan di tempat. Tidak ada pembicaraan bila tidak ada hal yang penting-penting amat. Semua komunikasiku bersama Ayah melalui perantara Debora.
Tanpa banyak bicara, Ayah langsung menyambangi Benjamin dan mengangsurkan tangannya tanpa menatapku.
Harus aku akui kalau Benjamin mudah beradaptasi. Dia tahu harus menempatkan dirinya di dalam stituasi dan lingkungan baru denan cepat. Perbincangan dengan Ayah mengalir ringan, terutama saat dia menangkap kegemaran Ayah menonton berita mengenai politik Indonesia.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)