TAMAT & PART LENGKAP
May contain some mature convos and scenes.
Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai.
Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar.
Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
Question of the day: travel ke masa lalu atau masa depan?
Vote, komen, share cerita ini, dan followakun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :) 🌟
"Kamu jual sambal?" Adalah pertanyaan pertama yang diajukan Benjamin begitu bokongku menempel di jok mobil.
Karenina diantar pulang oleh Beau, sehingga kini hanya kami berdua di dalam mobil. Aku ikut membersihkan dapur, sehingga kami pulang terlambat. Dan Benjamin, seperti manusia baik dan suami yang rajin menolong, dia ikut mencuci dan mengepel lantai. Anehnya, dia tidak tampak terpaksa melakukan keduanya, meskipun ganjarannya adalah baju yang basah karena keringat. Yang dikenakan oleh suamiku sekarang hanya kaos dalam putih, sedangkan kemejanya sudah ada di jok penumpang belakang.
"Keuntungannya untuk dapur umum," terangku sebelum dia berpikir yang paling buruk mengenaiku, "kalau nggak gitu, cabainya terbuang percuma. Besok nggak usah jemput. Saya mau beres-beres dan prepping bahan makanan, biar relawan nggak terlalu repot."
Benjamin tidak menjawab, dia justru melontarkan pertanyaan lain. "Kamu ganti menunya juga?"
"Ricebox-nya perlu lauk kering, supaya nggak cepat basi lantaran enggak semua orang punya kulkas untuk menyimpan makanan. Kamu harus pikirkan ini juga kalau mau kasih nasi kotak ke orang-orang yang memang perlu."
Dia menavigasi mobil dengan luwes di jalanan yang masih juga ramai, meskipun kini sudah pukul delapan malam.
Aku menikmati AC mobil setelah setengah hari ini terpapar panas di sekitar kompor, juga tubuhku yang sedikit terbiasa dengan kerja ringan selama beberapa bulan ini memasak untuk Beau. Tubuhku terasa pegal, bahkan lapar pun tidak aku rasakan lagi. Terakhir aku memasak dalam jumlah besar adalah ketika di katering dulu, dan kini tenagaku terkuras. Kulitku juga terasa lengket perpaduan keringat dan debu yang menempel. Aku perlu mandi. Aku perlu dipijat. Aku perlu tidur.
Sebelum aku lupa, aku mengirim pesan kepada Karenina dan membuat janji untuk spa di hari minggu. Dengan mengatakan "Gue yang bayarin" di akhir kalimat ajakan yang aku kirimkan karena itu akan membuat sahabatku melunak setelah seharian aku paksa kerja rodi.
"Nasinya langsung ludes. Ide kamu untuk kasih nomor antrian supaya orang-orang nggak antri kelamaan dan hanya dibagikan sesuai kuota lumayan berhasil. Nggak ada keributan karena nggak kebagian jatah. Membagikan ke media sosial juga bisa dikatakan berhasil, karena sekarang ada beberapa rekan saya yang tanya rekening untuk transfer karena mereka mau jadi donor. Terlepas ini kegiatan politik atau bukan."
"Masih berpikir kalau saya cukup senyum dan muncul aja di dapur umum?"
Ujung bibir kiri Benjamin terangkat sedikit. "Enggak. Ternyata istri saya lumayan berguna juga. Kamu sudah hubung katering yang saya bilang?"
"Sudah. Dua katering setuju untuk menghubungi kalau ada makanan sisa yang layak. Hope you don't mind, tapi saya juga sempat hubungin beberapa café sekitar dapur umum dan tanya soal makanan sisa yang mereka punya. Biasanya ini dibuang karena memang peraturan perusahaannya, tetapi saya tanya apa bisa untuk dibagikan saja, terus mereka bilang kirim proposal dulu untuk dikaji."
Benjamin langsung menangkap nama perusahaan yang aku maksud tadi. "Food waste dari mereka nggak sedikit."
"Yep. Saya mau masukin itu ke proposalnya. Seberapa besar sumbangsih mereka ke persentase food waste di sini."
"That's going to be hard."
"Moonshot, I know. Perusahaan-perusahaan begitu pasti punya backing orang kuat, tapi seenggaknya saya nyoba. Saya cuma takut ini berpengaruh ke pemilihan kamu, jadi saya kepikiran untuk coba setelah pemilihan aja."
"Coba aja."
Satu kalimat itu sudah membuatku bersemangat untuk membuat proposal, meskipun aku tidak pernah melakukannya sebelumnya. Aku tidak pernah bermimpi untuk mengirimkan proposal ke perusahaan, atau bahkan dilirik saat mengajukan sesuatu. Bahkan, kemungkinan besar aku akan diberikan tatapan gila jika mengatakan memiliki proposal. Jurang perbedaan status ini sangat kentara setelah aku menikahi Benjamin.
"Kenapa bikin nasi kotaknya untuk makan malam?" Aku sudah berniat bertanya mengenai ini semenjak tahu adanya dapur umum, tapi selalu terselip begitu saja.
"Kalau filosofi kamu itu menjemput rezeki perlu tenaga, filosofiku perut kenyang itu dibutuhkan untuk istirahat yang maksimal. Susah buat tidur kalau perut kamu nggak berhenti minta untuk diisi."
"Memangnya kamu tahu rasanya tidur kelaparan? Atau paksain tidur karena nggak punya uang untuk beli makanan?" cibirku tanpa bisa aku tahan.
"Kamu nggak tahu ya kalau manusia dikasih Tuhan yang namanya empati?"
"Empati memangnya cukup? Kamu kan nggak pernah merasakan kesusahan orang-orang menengah ke bawah. First hand experience hits different. Apalagi dari sekedar yang kamu lihat di media sosial, atau kamu baca di koran."
"Enggak. Makanya saya nikahin kamu. Biar saya punya insight kehidupan orang menengah ke bawah kayak bagaimana. Jadi, gimana rasanya? Pernah paksain tidur padahal lapar?"
Berengksek. Behemoth satu ini tahu betul caranya bersilat lidah. Aku akan memberikan jawaban yang membuatnya kehilangan kata-kata.
"Pernah. Lulus SMA harus kerja supaya bisa sekolah kuliner, karena Ayah dan Ibu nggak bisa biayain. Tapi harus kirim ke orang tua juga, jadi pernah yang namanya sehari makan satu bungkus indomie campur nasi. Terutama waktu Bora mau masuk SMP. Waktu masuk SMA rada mendingan, sih. Dia dapat beasiswa dan waktu itu juga sudah dapat pekerjaan tetap di restoran. Plus, bayar kosan di rumah Kare lebih murah ketimbang kos-kosan biasa dari segi ongkos juga.
"Kalau kamu tanya rasanya gimana, ya hopeless banget. Malem mau tidur kelaparan, pagi mau pergi kerja perut keroncongan. Sampai perut perih banget dan diisi air putih doang juga pernah. Obat maag kayak permen juga pernah. Mau tidur nggak bisa karena kelaparan, mau makan nggak bisa karena nggak punya uang. Masalahnya kayak lingkaran setan yang susah buat keputus."
Aku mengoceh tanpa henti, membiarkan rasa bersalah memasuki dada Benjamin yang kesulitan memberikan respons atas ucapanku. Dia hanya diam sambil menyetir dan obrolan kami berhenti sampai di sana.
Rasain.
⭐️⭐️
Haloo, aku repub cerita ini yaa. As usual ekstra part dan atau buku kedua akan ada di WP jika target bintang 3.2K dan komen 1.2K per part tercapai 6 bulan setelah part terakhir up. Jadi, ada atau enggak tergantung yang baca mau komen dan pencet bintang atau enggak yaa, jangan protes ke aku :( Met baca!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.