Question of the day: kopi atau teh?
vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X @akudadodado, TikTok dadodados. Thank you
🌟
Aku mengusir Benjamin kemarin. Otakku berpikir aku setengah tidak waras karena melewatkan kesempatan untuk jalur cepat ke cita-citaku sekaligus adikku. Tapi aku perlu waktu untuk memikirkan ini semua.
Tidak ada perceraian adalah yang paling memberatkanku. Bukannya aku punya calon juga, tapi apa aku mau terjebak di pernikahan yang tanpa landasan cinta? Kalau ini selamanya juga, berarti ada kemungkinan aku harus memiliki anak dengan Benjamin, kan?
Is it worth it?
Suara dalam kepalaku berteriak lantang, WORTH IT!
Ini seperti ada dua pengacara di dalam kepalaku dan keduanya sibuk mengeluarkan argumen untuk memenangkan kasusnya. Atau malaikat dan iblis yang bertengger di bahu. Yang satu merayu untuk mengambil jalan pintas, yang lain tidak. Yang mana pun perumpamaan yang tepat, kepalaku tetap saja pusing.
Karenina mengetuk pintuku tiga kali sebelum membukanya. "Lele, Benjo datang lagi."
Aku menarik headset yang menyumpal kedua telingaku."Bilang gue nggak di rumah."
"Saya bisa dengar," sahut cowok itu.
Aku melotot kepada Karenina yang hanya meringis dan menggumamkan maaf. "Lo kenapa nggak bilang kalau si behemoth ada di sini?" bisikku.
"Kan gue bilang kalau dia datang."
"Gue kira dia di luar rumah." Aku menutup pintu dan keluar setelah merasa pakaianku cukup baik—termasuk memakai bra—karena siapa yang berpakaian rapi jika berada di rumahnya?
Karenina memberikan tinjunya kepadaku sambil berlalu dengan nampan di pelukan.
"Husband me up." Hanya itu—dan lagi-lagi itu—yang dikatakan oleh Benjamin begitu wajahku dapat dilihatnya. Aku tahu dia semakin terdesak, mengingat waktu yang diberikan oleh Eyang tinggal tiga hari lagi.
"Untuk ukuran politikus yang biasanya pandai memakai kata bersayap, kamu sangat tidak kreatif."
"Saya nggak tahu kalau mau melamar orang perlu kata besayap." Satu tangan Benjamin merogoh saku dan mengeluarkan kotak beludru dari sana. "Saya kira hanya perlu bawa cincin," sambungnya sambil membuka kotak itu.
Aku rasanya hampir mengeluarkan kacamata hitam saking berkilaunya batu yang terikat di cincin itu. Otakku langsung bekerja mentaksir harganya lalu lima detik kemudian aku tersadar kalau ini pasti akal-akalan Benjamin untuk menarikku lagi.
Sulit mengatakan aku tidak tertarik kalau di hadapanku ada bukti betapa mudahnya hidupku nanti perihal uang. Matre? Sue me. Aku hanya lelah berjuang sendiri, sedangkan tanda-tanda membaik tidak ada. Aku menjauhi media sosial karena tidak mau iri melihat kehidupan teman-temanku yang tampaknya mudah-mudah saja, sedangkan aku harus merangkak secara perlahan.
Aku memutuskan pandanganku dari cincin indah itu dan fokus ke pemberinya. "Dengar, saya perlu banyak waktu untuk memikirkan hal ini. Kalau ini pernikahan yang ada batas waktunya, saya bakalan lebih tenang. Ini kayak meneken kontrak penjara seumur hidup. Iya kalau saya mati beberapa tahun lagi, kalau hidup sampai delapan puluh tahun? Masa saya harus sama kamu terus selama lima puluh lima tahun?" Aku benar-benar memikirkan ini. "Mana biasanya orang jahat kan umurnya panjang," lanjutku dengan gumaman.
Aku melipat kedua tanganku di dada. "Bagaimana kalau kamu selingkuh? Atau kamu ternyata psikopat yang suka memukuli istri tapi pura-pura baik di publik? Masa saya nggak bisa minta cerai hanya karena kamu punya ambisi karier politik?"
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)