How This Story Ends - 5 - Sayonara, Sayonara. Sampai (Tidak) Berjumpa Lagi 3.2

17.3K 1.1K 67
                                        

Jangan lupa vote, komen, share cerita ini dan follow akun WP ini + IG @akudadodado.

Thank you :)

🌟

Karenina baru meninggalkanku setelah dia memberikan ceramah mengenai betapa pentingnya berpakaian rapi untuk pekerjaan. Padahal selama ini kami selalu bekerja di belakang layar, contohnya mengupas ratusn kentang yang membuat pinggangku perlu diganti seminggu sekali. Aku tidak mungkin memakai pakaian fancy di dapur 'kan? Selain masalah seragam, itu akan membuatku langsung dipecat karena menyangkut higienitas.

"Le, pastiin Eyang sudah siap. Kita berangkat lima belas menit lagi. Gue mau pesen taksi online."

Aku mematut diri di depan cermin. Mataku masih bengkak dan merah setelah sesi meratapi nasib. Aku sudah menggunakan sendok untuk mengompresnya sebelum mandi tadi, sesuai instruksi Karenina, tetapi itu tidak banyak membantu. Mataku masih sebesar bola pingpong dan tidak ada tanda-tanda akan menyusut.

"Ok!" Aku meneriakkan balasan untuk Karenina, tidak yakin kalau dia mendengarnya di tengah dengungan hair dryer yang harganya setengah dari gajiku.

Mataku menyusuri cermin, memastikan penampilanku tidak akan mendapatkan celaan dari dua orang yang mentahbiskan dirinya sebagai hakim untuk masalah berpakaianku. Kaos lengan pendek polos berwarna putih yang dipadu dengan celana jeans baggy yang warnanya sudah pudar masuk dalam hitungan aman.

Aku menaruh dompet ke dalam totebag bergambar kucing yang Eyang berikan padaku beberapa bulan yang lalu dan membawanya keluar rumah.

Rumah milik Eyang tepat berada di sebelah kami. Lebih tepatnya rumah orang tua Karenina yang secara diam-diam dikontrakkan oleh ibunya kepada kami dengan harga super murah sehingga kami sanggup membayarnya. Hubungan sahabatku dengan Ayahnya sama rumitnya dengan ayahku, meskipun beda kasus.

Komplek perumahan ini sudah ada bahkan sebelum aku lahir. Orag tua Karenina tidak lagi tinggal di sini sejak menikah sehingga saat Nenek dari temanku itu meninggal, rumah ini dikontrakkan.

Gerbang Eyang selalu terbuka, begitu juga dengan pintu utama yang membuatku berdecak. "Kan, dibuka lagi. Percaya amat kalau nggak ada orang yang bakalan masuk?" gerutuku sambil berjalan memasuki rumah. Ponsel di tangan kananku menujukkan pesan masuk dari Karenina sehingga aku memeriksanya sambil berjalan ke pintu utama dengan langkah lebar hanya untuk menabrak sesuatu yang membuat bokongku mencium lantai teras Eyang. Tepat di tulang ekor yang membuatku berteriak tanpa kata-kata dan mata yang terbuka lebar saat rasa sakitnya sampai ke kepala.

"I'm so sorry." Dua tangan besar memegangi sikuku, memberikan sedikit tarikan hingga aku berdiri, masih dengan ngilu di antara bokongku. "Saya tadi lagi buka email dan jalan tanpa lihat-lihat."

Cara ini otomatis membuatku melihat ke arah cowok—aku yakin cowok dari suaranya yang serak dan sangat ngebas—yang membuatku terjatuh. Tampilannya sangat parlente, terutama dengan suits three-piece. Aku pernah melihatnya di suata tempat.

Aku mengeram untuk meratapi kesialanku dua minggu terakhir. Terutama hari ini; sudah bangun karena teringat Edo, dicela oleh Karenina, akan mendapatkan hinaan dari Eyang (aku yakin akan hal ini), dan kini aku ditabrak oleh truk tronton dengan jas mewahnya yang sibuk melihatku dari atas ke bawah lalu memutar tubuhnya untuk melihat bumper belakangku.

"Ada yang sakit? Perlu ke dokter?"

Pertanyaan ini hanya memantik rasa jengkelku, terutama karena dia melakukan sembari mengecekku, sehingga aku menjawab judes tanpa dapat ditahan. Lalu aku ingat pernah melihat cowok ini keluar-masuk rumah Eyang beberapa kali. "Saya nggak punya uang, jadi nggak perlu baik-baikin saya."

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang