ENHYPEN | GIRLS
Akhirnya yang cowok berhasil naklukin hati yang cewek
Note: ada baiknya baca yang S1 dulu biar tahu gimana susahnya anak-enak enha ngejar mbak crushnya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Situation: ketika game membuat perkara di antara mereka
"Nik, gue mau jajan."
"Jajan apa?"
"Nggak tahu, mau lihat-lihat dulu ke minimarket. Mau ikut nggak?"
Dapat Zoa lihat, laki-laki itu menggeleng dengan sorot mata yang masih terarah pada layar televisinya. Zoa tidak ambil pusing, pacarnya ini memang maniak game. Kedua tangannya saja sudah sibuk memencet tombol-tombol di stik playstation yang Zoa pun nggak ngerti.
Selesai dengan perjajanannya, Zoa kembali pergi ke rumah Ni-ki. Dengan posisi yang tidak berubah, Ni-ki masih setia dengan gamenya. Zoa memutuskan untuk duduk di sampingnya.
"Habis dari mana?" Tanya Ni-ki sambil merilekskan otot-otot tubuhnya.
Zoa mengerjapkan matanya lalu tertawa, "Gue nggak salah denger? Tadi gue udah izin ke lo. Mau ke minimarketi, Ni-kiiiii."
Ni-ki menyengir dan menggaruk tengkuknya, "Hehe, maaf."
"Istirahat dulu sana," Zoa membuka bungkusan snack berwarna merah kesukaan Ni-ki. Ia melihat snack itu sudah habis ketika Ni-ki bermain.
"Lo nggak marah gue main game? Gue nyuekin lo lebih dari sejam kayaknya."
Zoa tersenyum dan menghembuskan nafasnya, "Ngapain marah? Gue nggak bisa ngelarang lo ngelakuin apa yang lo suka. Asal lo tahu waktu aja."
"Beneran nggak marah?" Tanya Ni-ki sekali lagi. Tangannya meraih snack yang telah dibukakan oleh pacarnya.
"Iya. Lo mau gue marahin atau gimana?" Tangan Zoa sudah mengepal dan tinggal melayang ke wajah Ni-ki. "Syukur-syukur gue nggak marahin lo, ya."
"Ya...kalau mau dimarahin juga nggak apa-apa, sih. Kita kan sering berantem, tuh. Siapa tahu lo mau ngajak berantem gitu."
"Lo ngomong gitu, kesannya gue yang sering ngajak berantem. Padahal lo yang sering banget gue bikin emosi."
Ni-ki tidak menjawab dan malah membawa Zoa dalam rangkulannya. Dengan mulut mengunyah, Ni-ki berbicara, "Nggak berantem sama lo itu nggak asyik. Gue harus cari masalah sama lo dulu, baru bisa ribut."
Zoa tersenyum dalam diam. Untungnya Ni-ki sudah sibuk kembali dengan gamenya. Posisi mereka berangkulan, dengan Zoa yang terjepit oleh kedua tangan Ni-ki yang memegang stik PS-nya.
"Gue main sepuluh menit lagi. Marahin gue kalau udah kelebihan batas main," ucap Ni-ki dan diangguki Zoa.
Ni-ki, kalau main game, malah lebih adem. Katanya nggak berantem nggak rame, padahal game bisa mengundang emosi pacarnya juga.