Kafi keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah, memakai kaos oblong dan celana selutut. Lelaki itu berjalan pelan menuju kamarnya untuk mengambil baju koko serta sarung andalannya yang akan digunakan untuk pergi ke masjid.
"Sep, bangun! Sebentar lagi azan subuh." Kafi menepuk bahu Septian beberapa kali untuk membangunkan temannya itu.
"Nanti, Kaf." Septian masih enggan membuka matanya, ia memutar posisi tidurnya membelakangi Kafi.
Kafi hanya menghela napas pasrah, Septian memang selalu begitu. Sulit sekali untuk dibangunkan.
"Sep, sebentar lagi azan. Aku ke masjid, ya," pamit Kafi yang hanya dibalas gumaman oleh Septian.
Kafi melangkah keluar dari kantor desa, suasana pagi di desa seperti ini memang sangat disukainya. Membuatnya jadi teringat kampung halamannya.
Sesampai di masjid, Kafi langsung melaksanakan salat qabliyah subuh usai azan subuh berkumandang. Setelah itu, ia sempat berdoa sebentar sampai terdengar suara ikamah yang dilantunkan oleh muazin yang tadi melantunkan azan.
Kafi segera merapatkan barisan bersama para warga yang hadir untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.
"Mau langsung balik?" tanya Pak Syarif - yang kebetulan duduk di samping Kafi - usai salat subuh berjamaah.
"Sebentar lagi, Pak," jawab Kafi seraya tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu. Saya duluan, ya," pamit Pak Syarif yang dijawab anggukan oleh Kafi.
Kini, hanya tersisa 4 orang di masjid, termasuk diantaranya Kafi dan Teungku Abdullah.
"Kafi," panggil Teungku Abdullah seraya menoleh ke belakang.
Kafi mendongak, "Iya, Teungku?"
"Hari ini kegiatan kalian apa? Jadi ke dayah nanti sore?" tanya Teungku Abdullah.
"Insya Allah jadi, Teungku. Kami hari ini mau pasang stiker nomor rumah di dusun Pinus yang terakhir, terus ada beberapa teman yang akan menjalankan proker individu juga."
Teungku Abdullah mengangguk, kemudian melanjutkan kegiatannya berzikir, begitu juga dengan Kafi.
***
"Guys, hari ini siapa yang ikut pasang stiker nomor rumah?" tanya Amanda seraya menggulir layar ponselnya.
"Ikut semua aja lah, lagian 2 hari lagi udah selesai KKN. Kapan lagi bisa keliling desa ini, 'kan?"
Ana mengangguk setuju, "Iya, Syil. Nggak nyangka kita udah mau selesai aja KKN, ya?"
"Iya, An," jawab Syila lirih.
"Tapi kamu masih ada 1 bulan lagi di sini, Syil, sahut Giska.
Syila mengangguk. Ia memang masih berada di desa ini 1 bulan lagi, namun rasanya pasti akan berbeda karena temannya tidak lengkap lagi.
"Udah, besok lagi sedih-sedihannya. Kafi sama Septian udah di depan tuh." Amanda meletakkan ponsel di kasur, kemudian beranjak ke kamar seberang untuk berganti pakaian.
Dengan terpaksa, Syila, Ana dan Giska ikut mengambil baju yang digantung di belakang pintu. Kemudian mereka bergantian untuk berganti pakaian di kamar seberang.
"Kafi sama Septian udah sampai, Syil?" tanya Nafiza yang baru kembali dari kamar mandi.
"Udah, Bos. Itu mereka lagi di depan," jawab Syila seraya memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tasnya.
"Aku ke depan dulu, ya." Syila bergegas keluar kamar begitu Kafi mengirimkan pesan padanya, meminta agar ia segera keluar.
"Ada apa, sih, Kaf?" tanya Syila dengan nada setenang mungkin saat menemui Kafi dan Septian di teras. Kedua lelaki itu sedang duduk di atas dipan kayu dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kafi menggulir layar ponsel, sementara Septian memegang sapu yang dijadikannya sebagai gitar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sandyakala Terindah
RomanceDipertemukan karena Kuliah Kerja Nyata (KKN), diam-diam Nasyila Eiliya mulai mengagumi sosok Alkahfi Pratama, lelaki yang merupakan teman sekelompoknya. Awalnya Syila-begitu orang-orang memanggilnya-berpikir hanya sekadar kagum pada lelaki yang akra...
