#14 - back for you

45.2K 3.3K 126
                                        

Setelah hampir seminggu mengurung diri di apartemen dan menghabiskan waktu dengan menyesali perbuatannya—Kama menyadari dia tidak bisa terus-terusan begitu. Living alone after breakup or heartbreak sometimes can be toxic. Kama sudah membuktikan sendiri ketika menghadapi kegagalan pernikahannya. Menarik diri dari lingkungan dan terbenam dalam kesedihan sama sekali tak membuatnya lebih baik.

Tidak apa-apa bersedih, asalkan jangan sampai kesedihan itu membuatmu tenggelam dalam kegelapan.

Well, easy to say than done.

Tapi setidaknya pemikiran itu membuat Kama akhirnya bangkit dan kembali menjalani aktivitasnya dengan normal. Apa yang terjadi di Bali, biarlah tetap tinggal di Bali. Kama hanya perlu kembali menjalani rutinitas seperti biasa dan melupakan kejadian malam itu.

Kama bangun pagi-pagi sekali. Memulai aktivitas produktifnya dengan jogging di treadmill. Setelah itu, dia mandi, membuat sarapan lalu duduk di kitchen bar sembari menggulir iPad-nya untuk mengecek email yang masuk. Begitu selesai, Kama bertelponan dengan Mika yang sedang di Hawaii menikmati bulan madunya dengan Nicholas. Tentu tidak ada pembicaraan soal Ethan. Mereka berdua sepakat untuk tidak membahas dan melupakannya.

Emir sempat beberapa kali menelponnya. Tapi karena kemarin Kama sedang tidak ingin bicara dengan siapapun yang mengingatkan pada kejadian malam itu—dia pun mengabaikan panggilan Emir. Dan sebaiknya dia menghubungi pria itu agar tak ada salah paham di antara mereka.

"Hmmm," suara Emir terdengar serak dan mengantuk ketika menjawab

"Mas Emir masih tidur?" tanya Kama seraya mendongakkan kepala untuk melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.

"Kama?"

"Wake up, sleepyhead! Bangun siang ntar nggak ada cewek yang mau, lho."

"Kalau nggak ada yang mau, kamu aja."

Kamu mendecih. "Aku nggak suka cowok yang nggak morning person."

Suara kekehan Emir terdengar renyah. "Akhirnya kamu nelpon aku juga. Rencananya aku mau pesen tiket ke Jakarta siang ini kalau kamu masih nggak ada kabar."

Kama tersenyum. "I'm fine, Mas. Justru aku yang khawatir sama keadaan muka ganteng kamu yang kena pukul."

"Ah, ini mah nggak sebanding sama apa yang aku kasih ke Ethan."

Kama sedikit meringis saat mengingat lagi betapa parahnya keadaan Ethan. "Actually you don't need to do that."

"Aku cuma ngasih apa yang pantas Ethan dapatin."

Kama membuang napas. "Nggak sepenuhnya salah dia."

"Salah dia karena maksa kamu ngelakuin sesuatu yang nggak kamu mau."

"Dia nggak maksa aku," Kama tahu Mika mengatakan pada Emir jika ciuman itu terjadi karena paksaan. Di awal memang begitu, tapi pada akhirnya kama goyah dan menikmatinya. "I kiss him back."

Hening sebentar. Kama mendengar suara gemerisik kain bersama suara helaan napas Emir. "Lupain soal Ethan. Gimana keadaan kamu?"

"Like I said, I'm fine."

"Aku masih di Bali,"

"Aku udah dengar dari Mika kamu nggak mau ke Jakarta karena takut dijodohin sama mama kamu." Kekeh Kama.

"Setelah ngeliat Mika nikah, Mama jadi punya ide buat cariin aku jodoh." Suara Emir terdengar malas. "Kamu aja yang nikah sama aku mau nggak? Biar Mama nggak riber nyarrin aku jodoh lagi. Sekalian kamu bisa balas dendam sama Ethan."

Feel My HeartbreakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang