#20 - unstoppable

40.9K 2.9K 180
                                        

Beberapa minggu setelah Ethan mengenalkan Kama pada circle terdekatnya—pria itu mendapatkan pernyataan tak terduga dari teman-temannya ketika mereka bermain golf di Pondok Indah Golf Course.

"Setelah ketemu Kama, I understand why you ended up melting down with her," ucap Keandra sembari mengatur posisi. Pria keturunan Jawa itu sedikit menekuk lututnya, lalu mengangkat tongkat ke belakang dan mengayunkannya hingga bola mendekati green. "She's lovely. For a girl her age, dia kelihatan dewasa. Kontras banget sama wajahnya yang imut."

"Indeed." Banu mengangguk menyetujui. Mengambil stick golf dari caddy lalu mulai mengambil gilirannya. "Lo juga kelihatan beda saat sama Kama."

"Beda?" Ethan mengernyitkan kening sembari memandang empat temannya tak mengerti.

"Bukannya bermaksud membandingkan Kama sama mantan-mantan lo, but when you're with her—you look more relaxed. Well, mungkin karena pembawaan dia yang positive vibe kali, ya. Gue dengar-dengar dari adik gue—Kama anaknya memang baik banget. Sama siapa aja dia baik." Terang Banu yang kemudian mengambil posisi dengan tak percaya diri.

Diam-diam Ethan menyimpan senyum. Memang yang dipuji Kama, namun Ethan senang mendengarnya. Dia sama sekali tak khawatir ketika memutuskan membawa Kama bertemu dengan teman-temannya. Ethan tahu, Kama akan mudah disukai.

"Look at him, si bangsat ini sekarang malah senyum-senyum." David—pria yang paling muda di antara mereka—dan paling tengil tentunya—mendengus sambil mendorong pelan bahu Ethan. "But I'm happy for you, dude. Daripada sama Freya, gue lebih dukung yang ini, sih." Tambahnya blak-blakan.

"Ethan sama Freya dulu bukan pasangan kekasih tapi rekan kerja." Sambung Gibran dengan tawa mengejek.

Bukan hanya bagaimana gaya pacaran Ethan dan Freya dulu—melainkan juga permainan Banu yang buruk. "Pukulan lo better lah dari pada yang kemarin." Katanya pada Banu yang mendekat dengan ekspresi kecut.

Gibran menepuk-nepuk pundak Banu menyemangati—sebelum akhirnya menyambung kalimatnya tentang hubungan Ethan dan Freya dulu. "Gue sama Yaya pernah double date sama mereka. Eh, mereka sempat-sempatnya bahas kerjaan."

"Kalau sama yang ini kalian bahas apa?" David menyeringai. "Secara perbedaan umur lo sama dia kan lumayan jauh. Apa dia nggak capek ngadepin orang tua kayak lo?"

"I'm not that old!" Ethan menyela sinis. "And I don't need to tell you what I discussed with my woman."

"Aw, my woman,"

"Jadikan aku your woman, Mas Ethan." Gibran dan Banu yang masih berangkulan langsung mengejek Ethan dengan mengeluarkan suara feminim dan manja mereka. Banu berpura-pura jadi Kama, mengelus lengan Gibran yang berotot.

Sementara Gibran menyahutinya sambil membeli pipi Banu penuh kasih. "Of, course, Dek Kama."

Semuanya tertawa kecuali Ethan yang mengernyit, memasang ekspresi jijik.

Ethan tak pernah menganggap hubungannya dengan Freya sesuatu yang mengecewakan. Terlepas bagaimana mereka berakhir—tetap saja Freya pernah menjadi seseorang yang ia sayangi. Namun harus Ethan akui—saat ia berpacaran dengan Freya, rasanya tak seindah ketika ia bersama Kama. Bisa dibilang, dia tak pernah merasakan perasaan sebesar itu pada seorang wanita sampai akhirnya dia mengenal Kama lebih jauh.

Kabar pernikahannya yang gagal membuat Freya sempat berusaha menghubunginya beberapa kali. Namun saat itu Ethan sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun—termasuk Freya. Sebelum dia pindah ke Singapura, Ethan mendengar Freya mendapatkan tawaran bekerja di rumah mode besar di Paris—dia juga mulai membangun karir sebagai modelnya di sana. Walaupun begitu, mereka benar-benar lost contact sampai Freya menghubunginya beberapa hari yang lalu.

Feel My HeartbreakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang