#4. but it's over, why is it over?

63K 4.3K 101
                                        

Kama tahu hari dimana ia bertemu dengan Ethan akan tiba.

Hanya saja, dia tidak menyangka akan secepat ini. Di saat dia belum menyiapkan apa-apa untuk meneguhkan hatinya.

Bukan hanya Kama yang terkejut, Mika pun begitu sampai dia langsung melotot pada Nicholas dan menyeret pria itu keluar dari restoran. Sudah jelas untuk memarahinya. Artinya Mika juga tidak tahu Ethan akan bergabung dengan mereka malam ini.

Sungguh, Kama tidak bermaksud membuat Mika berada di posisi sulit. Meskipun Mika mengaku akan berada di pihaknya alih-alih Ethan—kakak kandungnya—tetap saja, mereka keluarga. Kama tidak mungkin tega merusak hubungan Mika dengan Ethan hanya karena dirinya.

Sebab itu, meskipun sebenarnya Kama ingin kabur dan menghilang dari hadapan Ethan—dia tidak melakukannya. Hal itu hanya akan memperburuk keadaan.

Dengan tubuh sekaku patung, Kama kembali duduk di kursinya. Menghindari kontak mata dengan Ethan yang ikut menarik kursi dan duduk di hadapannya tanpa diundang.

Angin laut sebelumnya tidak membuat Kama menggigil. Namun kini, tubuhnya seperti akan membeku karena dingin. Mungkin karena hari sudah malam, atau bisa jadi karena keberadaan Ethan mempengaruhi suhu tubuhnya.

Kama mendesah dalam hati. Setelah dua tahun berlalu, bagaimana bisa Ethan masih memiliki pengaruh sebesar ini pada dirinya?

"Nic didn't say you'd come." Suara bass Ethan langsung menggetarkan hati Kama—membuat Kama tanpa sadar meremas dress yang ia kenakan.

Ada perih yang menggores hatinya ketika mendengar suara itu.

"Mika juga nggak bilang," balasnya dengan suara yang mencicit seperti tikus. Menyebarkan rasa malu yang menyebabkan pipinya memerah. Ada apa dengan suara lo, Kamalia?

Keheningan terjadi. Kama membasahi bibir. Masih tidak ingin memandang Ethan meskipun dia tahu pria itu sejak tadi tak mengalihkan tatapan darinya. Seolah ingin menantang; sampai kapan Kama bertahan untuk tidak menatapnya.

Sebab mereka berdua tahu, Kama selalu menyukai memandang Ethan.

"How long you going to stare at me, Kamalia?" Ethan menoleh. Mengangkat alis menatap wanita yang tengah duduk di sebelahnya sambil menopang dagu. Matanya berbinar seperti bintang dengan bibir yang melengkungkan senyum manis.

Ya, seperti itulah dulu Kama memuja Ethan.

Kama memandang Ethan seolah Ethan adalah lukisan terindah yang pernah ia lihat.

"Kenapa sih, Mas? Aku kan nggak ganggu. Kamu bisa kerja, and I will watching you," Senyum Kama makin lebar. Dia menelengkan kepala lalu berkata, "Kamu ganteng banget sih, Mas? I can look at you all day long and never get bored."

Sakarang Kama menyadari betapa norak dirinya dulu. Namun Kama tak memungkiri jika itu adalah masa paling bahagia dalam hidupnya.

Mengingatnya membuat jantung Kama seperti diremas kuat. Dua tahun dia mencoba mengenyahkan semua kenangannya bersama Ethan—melupakan masa lalu dan kembali melanjutkan hidup. Namun bagaimana bisa dia begitu naif? Tidak peduli sejauh apapun ia pergi, tak peduli selama apapun waktu berjalan. Akan ada masa Kama mengingatnya lagi. Entah karena seseorang kembali mengingatkannya atau karena Kama ingin mengenangnya.

"You want me to go?" pertanyaan itu dilontarkan setelah helaan napas pendek. Suaranya datar, tapi ada sesuatu yang membuat Kama mendongak, dan akhirnya menatap Ethan. Dan Kama melihatnya ... kepedihan. Meskipun samar, Ethan menatapnya sama seperti ketika mereka berpisah. Pedih, rasa bersalah, kecewa. Emosi itu bagaimana masih tertinggal setelah dua tahun berlalu?

Feel My HeartbreakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang