Ethan sedang duduk di sisi tempat tidur memandanginya ketika ia terbangun. Kama aslinya bukan gadis yang suka bangun siang. Namun harus diakui aktivitas mereka semalam cukup banyak merenggut tenaganya. Kama tidak terlalu ingat mereka tidur jam berapa ... sepertinya sudah dini hari karena ia masih mengantuk meskipun matahari sudah tinggi.
"Good morning, Sunshine," sapaan manis Ethan begitu sempurna. Cahaya matahari menyorot wajah pria itu dengan dramatis. Meskipun masih sedikit mengantuk. Kama bisa melihat dengan jelas Ethan sudah tampak segar. Rambutnya tidak acak-acakkan khas orang yang baru bangun tidur. Wajahnya pun bersih dan bersinar. Hal itu membuat Kama semakin menyadari jika hari cukup siang sampai pria itu sudah membersihkan dirinya.
"Sekarang jam berapa, Mas?" tanya Kama sambil mengucek mata dan melemparkan pandangan ke meja nakas.
"Sepuluh," Ethan menurunkan sedikit tubuhnya. "Masih ngantuk, ya?" tanya pria itu perhatian. Jemarinya bergerak merapikan rambut Kama. "Sarapan dulu habis itu lanjut tidur gimana?"
Kama menggeleng. "Aku langsung bangun aja," katanya mengembuskan napas panjang dan menggeliatkan tubuh.
"This Sunday, Sayang," ucap Ethan lembut. "You can sleep if you want to. Moreover, you must be tired, right?"
Kama mendengus. "Memangnya siapa yang bikin aku capek?"
Ethan tersenyum kekanakkan. "Capek aku bikin kamu ketagihan."
Kama tak menanggapi kalimat menggoda Ethan dan memutuskan untuk bangkit duduk agar ia tak terbuai untuk melanjutkan tidur. Kama mengangkat tangan merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Akan tetapi ia lupa, bahwa di balik selimut, dirinya tak mengenakan sehelai benang pun.
"What a great view," Ethan bersiul dengan arah mata ke dada Kama.
Kama mengerjap. Matanya yang semula masih terbuka kecil kini melebar. Dengan panik gadis itu langsung meraup selimut guna menutupi dadanya. "Mas Ethan, jaga mata!" tegurnya.
Ethan tergelak. "What can I do? Dada kamu sendiri yang muncul di depan mataku."
Kama menyipitkan mata. Semakin erat memeluk selimut lalu mengedarkan pandangan ke sekitar dan menyadari baju-baju mereka sudah tak ada lagi di atas lantai. "Bajuku mana?"
"Lagi di laundry," jawab Ethan kemudian beranjak dari tempat tidur mengambilkan kaos baru miliknya. "Kamu pakai bajuku dulu sampai pakaian kamu kering."
"Mas boleh minta tolong ambilin handuk biar aku sekalian mandi nggak?" pinta Kama.
Bukannya memberikan handuk pada Kama—Ethan malah bersandar di lemari sambil memegang handuk di tangannya. "Sini, ambil sendiri," tantangnya dengan seringai jail.
"Mas Ethan," rajuk Kama. "Nggak usah jail dulu bisa nggak?"
"Sayang, nggak boleh manja." Sahut pria itu yang semakin semangat menjahili Kama. "Udah gede, kan? Masa handuknya musti aku anter, sih?"
Kama cemberut. "Aku nggak suka deh kamu kayak gini."
"Sukanya aku kayak semalam?"
"Mas!" hardik Kama merasakan pipinya memanas.
Ethan terkekeh senang.
Kama membuang napas panjang menyadari Ethan tak akan membuatnya mudah. Gadis itu melilitkan selimut ke tubuhnya lalu menurunkan kakinya ke karpet lembut bewarna grey sambil membenarkan letak selimut yang membalutnya seperti kepompong. Tubuh Kama yang kecil membuatnya jadi semakin sulit. Kama harus berjalan super pelan menghampiri Ethan yang sudah menyeringai seperti iblis.
Begitu berdiri di hadapan Ethan. Kama mengulurkan tangannya hendak menggapai handuk di tangan Ethan—tetapi, pria itu yang memang sudah dari awal ingin mengerjainya dengan sengaja mengangkat tangannya tinggi-tinggi yang membuat Kama tak mampu mengambilnya meskipun sudah berjinjit sekalipun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Feel My Heartbreak
Romance[Completed] Dua tahun setelah pernikahannya batal dengan Ethan, Kama mendapatkan undangan pernikahan dari Mikaela--sahabat sekaligus adik kandung Ethan--yang akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Nicholas setelah enam tahun mereka berpacaran. Kam...
