Kama duduk di kursi meja rias, menunggu Ode yang baru saja pergi mengambil kopi pesanan mereka. Agar Kama tidak terus kepikiran soal hubungannya dengan Ethan—Ode memutuskan untuk menyibukkan Kama dengan banyak schedule. Hari ini mereka berada gedung HJN TV menghadiri salah satu Night Talk Show yang mengundang Kama sebagai guest. Ini bukan kali pertama Kama tampil di TV. Namun ini kali pertama setelah dua tahun.
Jujur saja, Kama agak gugup. Meskipun begitu, kegugupannya tak mampu membuatnya berhenti memikirkan Ethan.
Minggu-minggu belakangan terasa sangat berat. Minggu dimana Kama tidak bisa tidur, makan dengan benar, bahkan bekerja dengan fokus karena setiap kali melakukannya—wajah Ethan selalu terbayang di dalam kepalanya. Wajah Ethan yang mungkin sedang berusaha meyakinan Mika—yang bisa sangat keras kepala dan tega bahkan pada kakaknya sendiri.
Ethan sudah melalui hari yang sulit dua tahun ini. Pria itu mungkin sama lelahnya seperti dirinya. Namun Ethan tetap berjuang. Tidak sepertinya yang diam karena merasa ia sudah berada di titik tak ingin berjuang lagi. Meskipun Mika yang meminta untuk tidak melakukan apa-apa—tetap saja, Kama merasa ini salah. Dia seharusnya tidak diam saja dan menunggu.
Menunggu tidak akan membuat sebuah perubahan.
Tidak di saat Kama tahu dia membutuhkan Ethan lebih dari segalanya.
"Tim kreatif udah mastiin nggak ada pertanyaan apapun tentang kisah percintaan lo," Ode datang dengan dua ice americano yang satunya ia letakkan di meja. "Fokusnya bakal ke clothing line sama karir lo."
Kama yang masih termenung menciptakan keheningan singkat. Ode menaikkan salah satu alisnya. Ketika gadis itu menoleh dan memandangnya, Ode bisa menebak sesuatu akan terjadi.
"Gue nggak bisa kehilangan Mas Ethan."
Ode menghela napas. "Lo nggak pernah bisa kehilangan dia."
"I can't be silent about this, De," cetus Kama dengan mata yang memancarkan gelora penuh kesungguhan. "Gue nggak seharusnya biarin Mas Ethan berjuang sendiri."
"Lo nggak berjuang bukan berarti nggak melakukan apa-apa. Biarin Ethan menyelesaikan kekacauan yang dia buat sendiri."
"Tapi—"
"Kamalia, gue tahu lo itu cinta banget sama Ethan." Potong Ode. "Tanpa lo harus ikut berjuang sama di soal ini. Itu sama sekali nggak membikin perasaan lo less sama dia. Masalahnya sekarang adalah antara Ethan dan keluarganya. Mika memang sahabat lo, tapi dia adiknya Ethan. Sebelum masalah kalian, keluarga mereka memang udah kurang komunikasi. Jadi, biarin mereka menyelesaikan itu—agar ketika Ethan membawa lo keluarganya, kondisinya udah enak. Toh, kalau lo tetap sama Ethan, lo harus menghadapi keluarganya, kan?"
Kama diam. Sebagaian hatinya menyetujui. Namun sebagai lagi tidak begitu.
"Bokap nyokap lo juga nggak akan mau menerima Ethan kembali kalau dia belum menyelesaikan masalahnya sama keluarganya sendiri." Imbuh Ode yang membuat Kama tambah tak bisa membantah.
Sang ayah sangat mengutamakan keluarganya. Meskipun kedua orang tuanya mengatakan akan menerima semua keputusan Kama—ia tahu mereka tak akan dengan mudah menerima Ethan jika pria itu meminta restu untuk menikahinya. Apalagi jika tahu hubungan Ethan masih buruk dengan keluarganya sendiri.
Masalah memang rumit dan mereka harus menyelesaikan satu per satu. Namun Kama merasa tak sanggup jika harus berpisah dengan Ethan seperti ini—tak bisa melihat senyum dengan lesung pipi Ethan yang ia gilai, pelukkan Ethan yang begitu candu, dan semua obrolan mereka yang membuatnya merasa menjadi dirinya sendiri. Kama merindukkan Ethan. Sangat merindukkannya sampai bernapas saja terasa sulit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Feel My Heartbreak
Romance[Completed] Dua tahun setelah pernikahannya batal dengan Ethan, Kama mendapatkan undangan pernikahan dari Mikaela--sahabat sekaligus adik kandung Ethan--yang akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Nicholas setelah enam tahun mereka berpacaran. Kam...
