#37 - say don't go

31.1K 2.7K 271
                                        

Kama memperhatikan Mika dalam diam. Mengamati perubahan mencolok dari sahabatnya yang kini telah berbadan dua.

Orang pertama yang Mika beritahu jika ia tengah hamil bukan lah Nicholas—melainkan dirinya. Pagi-pagi sekali Kama mendapatkan telpon dari Mika dengan suara wanita itu yang terisak menahan tangis. Kama tentu panik. Ia langsung bangkit bangun dan membuka matanya lebar-lebar. Bertanya apa yang terjadi sampai Mika yang jarang menangis sampai tersedu-sedu seperti ini?

"I-I'm pregnant, Kam," isak Mika. Suaranya pecah dan serak. "There is a baby in my belly. Oh my God, Kamalia! I am going to be a mother. Can you believe that?"

Mika adalah sahabat pertama dan akan menjadi selamanya untuk Kama. Karakter mereka yang berbeda justru membuat keduanya bisa saling mengerti satu sama lain.

Kama selalu merasa beruntung bisa mengenal Mika. Bukan karena Ethan. Meskipun Mika bukan adik Ethan sekali pun—Kama tetap akan merasa beruntung. Menemukan sahabat rasanya seperti menemukan permata yang berharga. Kama yakin, semua orang yang sudah bertemu dengan sahabat sejatinya akan sependapat dengannya.

Selama ini mereka selalu terbuka akan semua hal. Tidak ada rahasia antara ia dan Mika. Bahkan untuk hal-hal nakal sekali pun. Mereka mempercayai satu sama lain melebihi dari percaya pada keluarga sendiri. Kama mengerti kekecewaan Mika. Namun di saat yang sama, ia tidak memiliki pilihan selain menunda memberitahu Mika.

Sekarang Kama menyadari. Betapa sulitnya posisi Ethan dulu.

"I'm sorry," bisik Kama memecah keheningan. Aneh rasanya melihat Mika menjadi begitu pendiam padahal ia tahu betapa banyak bicara wanita itu. "Lo boleh marahin gue. Lo boleh maki-maki gue. Apapun itu yang mau lo sampaikan,  just show me. Nggak ada pembelaan yang bisa gue katakan karena gue memang sangat mengecewakan lo."

"This makes me very disappointed, you know. I though we were friends."

"We are, Mik!" Kama berkata tegas. "Please, jangan pernah mikir gue nggak menganggap lo sahabat karena hal ini."

"Then why?" sambar Mika. Matanya menunjukkan ketidakpahaman atas sikap Kama. "Kenapa lo balikkan sama Mas Ethan dan nggak memberitahu gue?!"

"Cause," Kama membasahi bibir. "I don't know how to tell you. Gue juga nggak menduga akan balikkan sama Mas Ethan. I don't want to do anything that will hurt you. But ... everything just happened and it was difficult for me to prevent it."

Mika melongos. Melipat tangannya. "Don't know how to tell me? Really, Kama? Memang gue sesulit itu buat diajak bicara?"

"..." Kama merapatkan bibir. Dadanya terasa begitu sesak melihat tatapan Mika yang terlihat begitu kecewa padanya.

"You know what, you've disappointed me. Gue marah sama Ethan bukan hanya karena dia udah nyakitin lo—my bestfriend. Tapi karena dia, gue kehilangan sahabat gue."

"You never lost me, Mika," Kama tercekat. Seperti ada gumpalan yang menyangkut di tenggorokannya.

"I lost you," bisik Mika serak. Mata wanita itu sudah memerah dengan kepedihan yang tak pernah Kama bayangan. "Persahabatan kita nggak pernah sama lagi sejak lo dan Mas Ethan batal nikah. Lo menjadi begitu tertutup sama gue. Lo menolak ketemu gue. Lo ... menjauh ... and then ... I lost you."

Kama bangkit berdiri, berpindah duduk di sebelah Mika dan memegang tangan wanita itu sambil menggelengkan kepala. Wajah mereka berdua telah basah oleh lelehan air mata. Ia tak pernah menyangka jika apa yang dilakukannya dulu akan meninggalkan luka di hati Mika. Saat itu Kama hanya ingin menjauh dari semua hal yang berkaitan dengan Ethan. Dia sama sekali tak bermaksud meninggalkan Mika.

Feel My HeartbreakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang