#5 - place we won't walk

60.1K 4K 61
                                        

Bali tidak hanya terkenal dengan distinasi pantainya, melainkan juga budaya yang menarik untuk dikulik. Kama senang, alih-alih mengajaknya berenang di pinggir pantai atau duduk santai di beach club, Aren malah membawanya ke daerah Ubud—yang mana tidak terlalu jauh dari resort tempat mereka menginap—untuk menikmati waktu berwisata kesenian dan budaya di Bali.

Mereka sempat menonton tari kecak lalu berjalan-jalan ke pasar seni Ubud yang sekalian membeli oleh-oleh. Awalnya Kama agak khawatir pergi ke tempat ramai bersama Aren. Dia sangat tahu betapa terkenalnya pria itu—bahkan anak tujuh tahun pun mengenal siapa itu Arendra Fabian.

Terlebih gosip soal kedekatan mereka berdua bahkan sudah sering masuk akun gosip dan infotaiment. Namun karena hubungan mereka memang hanya sekedar teman, dan Kama selalu membantah, serta Aren yang membenarkan apa yang Kama katakan—orang-orang perlahan mulai mengurangi atensi pada mereka, dan beralih dengan cepat begitu ada gosip lain yang lebih menarik muncul.

Namun Kama takut mereka akan kembali dibicarakan bila media tahu ia dan Aren berada di Bali dan jalan-jalan berdua.

Tapi bukan Aren namanya jika tidak berhasil mengusir kegelisahan Kama.

"Nggak, Kama. Kita nggak akan sembunyi atau pakai atribut kayak penjahat yang mau ngerampok bank cuma buat nyembunyiin identitas kita." Aren menggeleng tegas, namun dengan nada jenaka.

Kemudian pria itu merunduk, melepas topi dan kacamata Kama. "Dan aku nggak suka kamu nyembunyiin kecantikan kamu kayak gini. Orang-orang harus iri karena aku jalan sama cewek cantik." Sambungnya, merayu seperti Aren yang ia kenal.

Kama memutar bola matanya. Namun tak memungkiri terhibur mendengar ucapan Aren hingga akhirnya tak melakukan tindakan preventif demi mencegah ada orang yang mengenali mereka lalu memfoto diam-diam untuk dikirimkan ke lambe turah.

Seperti biasa, Aren selalu berhasil membuat orang nyaman dan betah bersamanya. Selalu ada komentar-komentar menghibur dan tindakan konyol Aren yang membuat Kama tertawa. Salah satunya ketika pria itu terlibat tawar-menawar dengan penjual.

"Nggak bisa kurang nih, Bli? Memang Bli nggak kenal sama saya?" tanyanya dengan nada tidak terdengar sombong.

"Tau kok, Mas. Mas yang sering ada di TV-TV itu, kan?"

"Nah, cakep!" Aren bertepuk tangan. "Nggak ada harga spesial buat orang yang ada TV-TV itu? Saya ganteng lho, Bli. Saya bolehin foto sama saya, deh."

Sang penjual tertawa. Hanya geleng-geleng kepala. "Iya ganteng kok, Mas. Cuma saya nggak suka cowok ganteng. Lebih suka cewek cantik, kayak mbak yang itu. Halo, Mbak Kama," sapanya ramah pada Kama yang berdiri di belakang Aren. "Saya follow mbak di IG sama tiktok, lho."

Kama mengerjap ketika dirinya menjadi perhatian. Dia tersenyum tipis, sementara Aren langsung menghalangi pandangan si penjual dari sosok Kama. "Wah, Bli. Nggak usah goda-godain calon pacar saya, ya!" katanya sok galak.

"Ya ampun, Mas. Nggak godain, saya fansnya Mbak Kama. Lagian Mas Aren sama Mbak Kama lagi pedekate, ya?"

Aren cengengesan. "Doain aja ya, Bli. Semoga usaha saya membuahkan hasil."

"Iya, semangat, Mas."

"Makasih, Bli. Tapi harganya boleh kurang dikit lagi, kan?" tanyanya kali ini sambil merengek dan tatapan sok imut.

Meskipun sesekali ada fans yang mencegat untuk meminta foto ketika mereka berbelanja di pasar seni—hal itu tidak terlalu jadi masalah. Kama pun hanya tersenyum ketika para fans mendoakan agar mereka cepat jadian.

Aren sudah berusaha keras membuat Kama senang dan nyaman. Dia tidak ingin merusak suasana—meskipun sejujurnya, sesekali dia masih teringat soal Ethan.
Mustahil berkeliaran di Bali tanpa mengingat Ethan. Banyak kenangan bersama Ethan di sini, dan Kama berusaha menepisnya.

Feel My HeartbreakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang