#39 - cry for love

30.3K 2.6K 238
                                        

Berada di Bali—yang mana dikatakan sebagai surga dunia karena memiliki pemandangan menawan nyatanya tetap tak membuat Ethan berhenti gelisah dan merana. Ia boleh saja berada di tempat paling indah di dunia. Akan tetapi situasi menyiksa sekarang malah membuatnya serasa berada di neraka.

Terpaksa harus menjaga jarak dengan Kama—dimana ia tak dapat melihat senyum cerah gadis itu, mendengar tawanya yang semanis madu, dan memeluk tubuhnya yang menyebarkan kehangatan—Ethan merasa seperti sedang dibiarkan mati perlahan-lahan. Padahal mereka baru sebentar menikmati kebahagiaan. Ia pun sudah memiliki rencana menyelesaikan masalah mereka tanpa membuat ia dan Kama berjauhan—tapi dunia memang tak berjalan seperti yang ia mau belakangan.

Sekarang Ethan hanya dapat menghibur dirinya dengan membayangkan kenangan-kenangan indah mereka. Meyakini jika semua ini akan berlalu dan mereka akan kembali bersama. Namun itu saja tetap tidak cukup. Ethan ingin tahu kabar Kama. Sebab itu, ia memeriksa sosial media Kama setiap harinya seperti seorang fans setia.

Sayangnya, sejak malam itu, Kama tidak pernah membuat postingan apapun. Bahkan story-nya pun kosong. Satu-satunya cara Ethan untuk mengetahui keadaan Kama hanya berpaling pada sosial media Ode yang untungnya sekali-kali masih membuat postingan kebersamaannya dengan Kama.

He miss her so much.

Ethan tidak tahu ia dapat bertahan lebih lama tanpa Kama berada di sisinya. Ia tentu ingin berjuang sampai titik darah penghabisan. Hanya saja, rasa rindu ini sungguh menyiksa sampai Ethan tak sanggup menghadapinya.

"Udah lama gue pengin banget ngalahin lo di ring," ucap Emir begitu selesai memasang sarung tinjunya. Mata pria itu memancarkan ambisi begitu kuat.

Ethan sama sekali tak gentar meskipun ia tahu Emir lebih mahir dalam olahraga tinju dibanding dirinya. Hanya saja, ia bukan tipe orang yang suka menyelesaikan masalah dengan cara begini. Ia pikir alasan Emir menelponnya ingin mengajak bicara. Namun darah Kusuma yang mengalir di tubuh mereka tidak lah salah—tidak ada satu pun dalam keluarganya yang tidak ambisius untuk menang.

Emir tahu ia akan berhasil mengalahkan Ethan dengan tinju.

"Mir, lo bilang cuma mau sparing doang?" Nicholas yang berdiri di luar ring menyela dengan cemas. Ia sudah curiga saat Emir tiba-tiba mengambil jaketnya terburu-buru seusai berbincang dengan Mika. Kedua kakak-adik itu suka sekali membuat rencana gila. Mika juga tidak dapat ditebak dan selalu menggunakan kehamilannya untuk membuat Nicholas tak berdaya.

"Sparing doang gue tetap harus serius dong?" balas Emir sambil tersenyum tengil.

Nicolas memijat keningnya. "Gue nggak mau hari ini jadi saksi kunci atas kematian seseorang."

"We will see," Emir kemudian mengarahkan pandangan ke depan ketika Ethan sudah selesai memasang peralatan tinjunya.

"Gue sebenarnya mau kita menyelesaikan masalah ini dengan bicara." Ethan berkata sambil mengambil posisi. "Tapi lo memang nggak bisa diajak bicara. As always."

Emir mendengus. Mengangkat kepelan tangannya yang dominan di dekat mata lalu yang akan ia pakai untuk menyerang di dekat dagu. "Let's talk after I beat you up."

Mereka tidak bisa dibilang sedang bertanding atau pun sparing karena Emir sama sekali tak mengikuti aturan dan hanya ingin melumpuhkan Ethan dengan serang-serangannya. Nicholas menahan napas saat Emir mengayun tangannya menuju rahang Ethan—yang untungnya dapat Ethan hindari dengan gesit.

Daripada melakukan serangan balasan, Ethan lebih banyak menggunakan teknik bertahan. Namun sekeras apapun dia menghindar dari pukulan Emir dan bertahan dari serangan sang adik—tetap saja, Ethan tak mampu mengalahkan kecepatan, ketajaman, dan kepadatan dari pukulan yang tepat sasaran.

Feel My HeartbreakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang