Seharusnya mendapati Samira menghubunginya tidak mengagetkan lagi. Cepat atau lambat, wanita paruh baya itu pasti tahu soal kembalinya Ethan ke Jakarta. Hanya saja, Kama sedikit tak menyangka jika dia akan dihubungi oleh mantan calon mertuanya secepat ini. Di saat baru semalam dia mengizinkan Ethan menginap di apartemennya. Dan bahkan tadi pagi mereka sempat sarapan bersama.
Kama memang masih ingin menjalin hubungan baik dengan Samira. Cuma dia tak nyaman membicarakan Ethan dengan wanita itu.
Samira sama sekali tak menutupi harapannya yang ingin Kama dan Ethan kembali bersama. Sampai sekarang, Samira masih menyayangkan pembatalan pernikahan tersebut. Tidak banyak yang tahu alasan yang sebenarnya. Begitu pun Samira yang hanya tahu jika Ethan lah yang salah karena kedepatan masih memberikan kepedulian pada mantan kekasihnya.
Samira sudah berulang kali bertanya pada sang putra; apakah dia menyelingkuhi Kama? Tapi putranya dengan tegas membantah. Dia mengaku dirinya yang salah. Cuma berselingkuh ... Ethan bersumpah tak pernah menduakan Kama dan tak akan pernah melakukannya.
"Tante, maaf ya, Kama telat. Tadi Kama meeting dulu sama brand," Kama berkata penuh sesal ketika sudah duduk di meja yang sudah direservasi oleh Samira. Mereka janjian di Sailendra Restaurant—yang mana memang restaurant favorit Samira.
"It's okay, Kama." Samira mengibaskan tangan. "Tante juga baru sampai, kok."
Kama tersenyum, menaruh tasnya di meja. Mereka menanyakan kabar masing-masing sebelum akhirnya memutuskan untuk memesan. Sambil menunggu pesanan, Samira pun bertanya. "Kamu udah tahu Ethan balik ke Jakarta?"
Kama yang memang tak pandai berbohong pun mengangguk. "Aku nggak sengaja ketemu Mas Ethan di Sency. Dia bilang, dia pindah ke Osfala Indo, Tante."
"Tante juga udah dengar. Tapi dia sama sekali nggak ngasih tau Tante." Samira merengut jengkel. Mirip sekali dengan Mika. "Tante telpon juga nggak diangkat."
"Mungkin Mas Ethan lagi sibuk, Tante."
"Sesibuk apa sih sampai ngabarin orang tua nggak bisa?" Obrolan mereka terjeda oleh pelayan restoran yang menyajikan makanan. "Yuk, kita makan dulu. Kamu pasti lapar kan habis meeting?"
Kama tersenyum. Menganggukkan kepala. Dia memang lapar karena dari pagi sampai siang ini schedule-nya cukup padat. Mereka menyantap makanan diiringi dengan obrolan-obrolan ringan. Sejak bertemu di Bali, kecanggungan Kama pada Samira sudah berkurang. Kama tertawa kecil mendengar gosip tentang anak-anak para kalangan konglomerat yang diketahui oleh Samira.
Sebagai ibu sosilita yang sukses, Kama sama sekali tidak meragukan informasi itu. Berbeda dengan Mamanya yang lebih suka ikut Papanya kemana-mana. Samira sangat menikmati hidup sebagai istri dari Rendra Garadhi Kusuma.
"Mika sama Nic besok pulang honeymoon. Awas aja pulang-pulang nggak bawa cucu," ucap Samira.
"Seharusnya sih bawa, Tan. Mika sama Nic katanya nggak mau nunda."
"Bagus lah. Tante itu dulu khawatir banget sama Mika. Kamu tahu sendiri dulu gimana pergaulan dia. Punya anak tiga, satu pun nggak ada yang nurut sama Tante, Kama. Tapi untungnya, Tante dapat menantu yang pada baik-baik. Tante kadang heran, kenapa kamu sama Nic bisa mau sama anak-anak Tante? Padahal kelakuan mereka nggak ada yang benar."
Kama tersenyum kecut. Agak getir karena Samira masih menganggap Kama menantunya padahal ia dan Ethan berpisah sebelum sempat menikah.
"Cause they know what they want, Tante. Mereka nggak ragu buat bersikap apa adanya. Which is, mereka pasti dapat kepercayaan diri itu dari Tante. Jadi, aku nggak heran mereka sukses di bidang yang mereka suka. As we can see, nggak ada satupun anak Tante yang gagal dalam karir mereka, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Feel My Heartbreak
Romance[Completed] Dua tahun setelah pernikahannya batal dengan Ethan, Kama mendapatkan undangan pernikahan dari Mikaela--sahabat sekaligus adik kandung Ethan--yang akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Nicholas setelah enam tahun mereka berpacaran. Kam...
