#28 - jealousy, jealousy

40.4K 2.8K 196
                                        

Mas Ethan
Udah di bandara?

Kama
Iya. Udah

Mas Ethan
Kabarin kalau mau take off

Kama
Iya

Mas Ethan
Udah makan?
Makannya jangan sampai telat. Nanti asam lambung kamu kambuh.

Kama
Iya, Mas Ethan

Mas Ethan
Kangen aku ga?

Kama yang baru saja mengetik huruf 'Y' sontak berhenti dan menghapusnya cepat. Dia berdecak, memilih untuk tidak membalas. Bukan hanya karena malas meladeni jailnya Ethan, melainkan juga kedatangan Emir yang membawakan green tea cream frappe blend untukknya membuat gadis itu langsung menyimpan ponsel.

"Kamu nggak chatingan sama Mama, kan?" tuduh Emir curiga. "Awas aja ya sampai ngadu."

"Nggak, Mas Emir." Jawab Kama sebal. "Memang aku pernah cepu?"

Emir terkekeh. Mengacak puncak kepala Kama. "Pintar. Kalau ngadu, aku jailin kamu sampai nangis."

"Dih, emang aku anak kecil yang masih nangis kalau dijahilin?" sungut Kama lantas menyedot green tea-nya. Dari sudut matanya dia memandangi Emir yang tersenyum miring sambil mengusap dagunya yang kasar karena belum bercukur. Tiba-tiba Kama jadi teringat ucapan Ethan yang mengatakan jika dirinya adalah cinta pertama Emir.

Sebenarnya Kama masih tidak percaya. Itu mungkin hanya analisis sok tahu Ethan. Sejak dia mengenal Emir, pria itu tidak pernah serius dan selalu saja mencari kesempatan untuk menganggunya. Terkadang Kama merasa Emir lebih muda darinya saking kekanak-kanakannya pria itu. Apalagi, dia tidak pernah merasa ada perhatian khusus yang Emir berikan padanya. Bertahun-tahun mengenal Emir, tak sekali pun Kama merasa Emir menyukainya lebih dari seorang adik.

Ethan pasti salah menduga.

"Kenapa liatin aku?" sadar diperhatikan Emir menoleh lalu menyeringai. "Ganteng, ya?"

Kama berdecak. Memutar bola matanya. "Di Jakarta Mas Emir tidur dimana?"

"Di apart kamu lah," jawab pria itu santai.

"Huh?"

"Dimana lagi? Nggak mungkin rumah Mama. Mau tidur di hotel juga mahal. Sayang duitnya."'

"Mas Emir kan kaya!" Kama meluruskan punggungnya. Bisa-bisanya dia mengeluhkan soal duit di saat penghasilan per tahun lebih dari 1 M.

"Kata siapa?" pria itu tersenyum main-main. "Duitku habis buat jalan-jalan."

"Mas, yang serius dong jawabnya!"

"Yang nggak serius siapa, Kama Sayang?" balas pria itu sambil menjawil hidung Kama dengan telunjuknya. "Kamu harus nampung aku. Titik. Nggak pake koma."

Kama mendesah. Ketika melihat kedatangan Ode. Dia langsung memberi usul lain. "Mas Emir tidur di apart Ode aja!" Gadis itu berpaling pada Ode. "Lo mau kan, De? Nampung Mas Emir selama di Jakarta?"

"Mau-mau, aja. Tapi lo better di apart Kama aja, Mas." Ucap Ode. "Nih, anak kayaknya harus kudu dijagain yang benar biar nggak nakal."

"Ode!" Kama melotot. Jelas tahu maksud dari sindiran pria itu.

"Emang kamu nakal apa?" Emir berpaling pada Kama. Tatapan jahil sudah berganti dengan keseriusan. "Jangan bilang nakal sama Ethan?"

Kama panik. Tapi berusaha untuk tidak menampakkan. "Kenapa Mas Ethan, sih?! Yaudah, Mas Emir boleh tidur di tempatku. Tapi janji bakal behave. Nggak boleh ada keributan apapun, dan dengan siapapun."

Feel My HeartbreakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang