Ayo dukung dengan memberi vote dan komen!!
Sabrina
Melihat Stefan berbaring di ranjang rumah sakit sangat membuatku sedih. Bahkan aku takut jika dia tidak bangun lagi dan meninggalkanku. Bagaimana bisa aku menjalani hidup tanpa dirinya? Aku yang sebatang kara ini hanya memiliki Stefan kalau dia harus pergi juga aku tidak akan sanggup menghadapinya.
Saat larut dalam tangisan akhirnya aku tertidur di sisi ranjang milik Stefan karena lelah terus menangis. Namun tak lama aku merasa ada yang mengusap pipiku lembut dan setelah aku bangun Stefan tersenyum padaku dengan hangatnya. Tak tahan aku pun langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu.. aku tahu Stefan memang tidak akan meninggalkanku... dia sudah berjanji akan menjagaku seumur hidupnya sampai kita menua.
Melihatnya sadar dan kondisinya semakin membaik tentu membuatku merasa bahagia. Sehingga tanpa sadar aku ingin selalu berada di dekatnya bahkan sampai membolos sekolah selama berhari-hari. Tentu saja Stefan menegurku karena dia memang tidak suka dengan seorang yang malas. Dia terlalu disiplin dan itu membuatku tunduk meskipun aku masih ingin berada di dekatnya.
Esok harinya aku memutuskan untuk sekolah, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Jefan dan dia.. lagi -lagi bersikap seolah tidak mengenalku. Mungkin kesalahanku memang tidak bisa dimaafkan meski aku berharap masih bisa berteman lagi dengannya walau tidak mungkin. Rasanya sedih sekali karena kini kami begitu jauh seperti tidak saling mengenal.
"Anak-anak karena minggu ini kita berbarengan dengan waktu ujian kelas 3 saya harap kalian tidak ribut ya!" Ucap Bu Ranti tegas.
Herannya SMA Pelita Dunia tidak meliburkan kami yang berada di kelas 2 dan 1 meski sedang berlangsung ujian kelas 3. Kata kepala sekolah supaya kami tidak bermalas-malasan di rumah. Meski begitu tentu belajar jadi kurang kondusif karena para guru malah fokus pada kelas 3. Bahkan beberapa kali untuk mata pelajaran sepeti fisika dan biologi tidak ada guru yang mengajar.
...............................
Sore hari Stefan menelepon dan menyuruhku untuk menunggu di depan halte agar tak ada siswa lain yang melihat. Aku tidak tahu dia mau membawaku kemana yang jelas Stefan tampak terburu-buru sekali. Jelas aku sangat penasaran karena tak biasanya Stefan menjemputku sepulang sekolah.
"Stefan... kita mau kemana?" Tanyaku padanya yang sedang menyetir.
"Kita akan mengantar Rossy ke bandara.. dia bilang akan menetap di Aussie" balas Stefan pendek.
Tampaknya Rossy memang bersungguh-sungguh ingin pergi ke Aussie. Tapi aku tidak tahu apa alasannya, bukankah dia bilang Damian harus berdekatan terus dengan Stefan?
Saat tiba di bandara Rossy dan Damian melambaikan tangannya. Selain itu Damian berlari menuju Stefan dan mereka berpelukan. Kini saat aku melihat mereka tidak merasa cemburu lagi karena yakin Stefan tidak akan berpaling dariku meski ada Damian.
Setelah mereka berpelukan ku rasakan Rossy mencolek tanganku sambil tersenyum. Sepertinya Rossy ingin membicarakan sesuatu denganku.
"Sabrina maafkan aku.. sebelum berangkat ke Australia aku cuma mau bilang kalau Stefan bukan ayahnya Damian... aku memang kekanak-kanakan.. semoga kamu mau memaafkanku" ucapnya panjang lebar dan membuatku merasa kaget.
"Semoga kamu dan Damian bahagia selalu disana..." balasku bersungguh-sungguh.
Meski aku memang sempat membenci Rossy tapi akhirnya dia mau mengaku jika Damian bukan anak Stefan walau hampir terlambat. Rasanya aku tidak merasa emosi sama sekali saat tahu kebenaran ini. Aku sudah berada pada titik iklas jika memang Stefan ayahnya Damian sehingga saat mendengar berita ini aku hanya berdoa yang terbaik saja, tidak marah ataupun kesal karena sudah dibohongi oleh Rossy.
Akhirnya mereka pergi dan kami melambaikan tangan. Aku yakin Rossy juga sudah memberi tahu Stefan jika Damian bukan anaknya namun Stefan tetap menyayanginya.
Setelah sampai rumah kami langsung bersih-bersih dan mengganti baju dengan outfit yang lebih santai. Aku masih kepikiran sebenarnya siapa ayahnya Damian, namun aku tidak boleh ikut campur karena ini memang bukan urusanku. Semoga saja Damian bisa bertemu ayah kandungnya cepat atau lambat.
Saat melamun Stefan mengelus kepalaku dan aku balas tersenyum padanya. Untuk saat ini lebih baik aku fokus pada Stefan saja bukan malah memikirkan orang lain.
"Sabrina.. selamat ulang tahun" ucap Stefan sambil memberiku hadiah.
Aku benar-benar kaget jika hari ini ternyata hari ulang tahunku.. padahal aku sendiri lupa tapi Stefan masih mengingatnya dan membuatku terharu. Sambil menangis aku memeluknya erat dan mengatakan dalam hati tidak akan lagi membuat hatinya terluka.
"Terima kasih Stefan..."
Saat ku lihat ternyata Stefan memberiku kado sebuah dress cantik. Aku yakin dress ini harganya mahal dan harusnya Stefan tidak perlu sampai mengeluarkan banyak uang untukku. Sambil mengusap air mataku Stefan mendudukanku dipangkuannya dan mencium bibirku lembut.
"Happy eighteen Sabrina" bisiknya dan setelah itu dia kembali menciumku.
Aku merasakan ciumannya sangat lembut dan membuatku terbuai. Namun entah bagaimana caranya sekarang aku sudah sampai kasur dan Stefan masih menciumku handal.
Setelah kehabisan nafas akhirnya ciuman kami terlepas. Stefan berkali-kali mencium keningku, sangat manis sekali. Sepertinya di masa lalu aku menang undian lotre karena mendapatkan suami yang sempurna seperti Stefan.
"Tidurlah.. aku disini gak kemana-mana" ucapnya lembut dan kami pun tidur sambil berpelukan dengan nyenyak.
..............................
Pagi harinya aku melihat dia sedang berenang. Stefan bilang harus banyak berolahraga agar persendiannya kembali kuat terlebih dia sehabis kecelakaan. Aku hanya memperhatikannya sambil senyam-senyum seperti orang bodoh. Ah.. Stefan memang sekeren itu dan semakin hari aku semakin mencintainya. Sungguh beruntung sekali aku mendapatkan suami yang sempurna seperti Stefan.
Saat tengah melamun tiba-tiba Stefan menarik tubuhku yang berada di tepi kolam bajuku tentu saja basah semua.
"Kamu ngapain sih? Lihat bajuku jadi basah semua" ucapku sebal dan dia hanya menatapaku dalam.
"Kalau basah ya tinggal dibuka.. lagian aku lebih suka kalau kamu gak pake baju" bisiknya di telingaku.
"Mesumm!!!"
Setelah itu aku memukulnya pelan dan dia hanya tertawa. Lalu tubuhku ditarik begitu saja hingga semakin dekat dengannya. Senyuman Stefan memudar digantikan oleh tatapan matanya yang berkabut.
Ku rasakan dia mulai menyentuh bibirku... awalnya ciumannya sangat manis namun lama-lama jadi kasar dan intens. Rasanya tubuhku berubah menjadi jelly saat dia menciumku. Dia terlalu hebat dalam berciuman dan kolam ini rasanya sudah tidak dingin lagi.
Setelah ciuman kami selesai dia membawaku duduk ke tepi kolam dan mencium leherku dengan lembut. Deru nafasnya yang mengenai kulitku jelas membuatku merinding, padahal ini masih pagi tapi Stefan sudah bersikap begini. Pantas saja di masa lalu Stefan bersikeras menolakku ternyata dia selama ini menahan gairahnya. Tapi usiaku saat ini sudah 18 tahun, mungkin saja Stefan tidak memiliki alasan untuk menahan dirinya lagi.
Dengan perlahan Stefan membawaku ke tengah kolam dan tanpa ku sadari kini kami semakin menempel dan kausku sudah terlepas. Kami kembali berciuman mesra dan dengan lembut Stefan membelai punggungku. Sepertinya kami akan bercinta lagi di kolam dengan perasaan yang menggebu-gebu.
Bersambung............
