Akhirnya kita sampai juga diujung cerita, terimakasih untuk dukungan kalian. Semoga cerita ini bisa menghibur kalian semua dan sampai jumpa di cerita cerita yang lain👋👋
Stefan
Saat kami dalam perjalanan menuju rumah sakit, Sabrina terus mengeluh karena kesakitan dan aku hanya bisa menghiburnya supaya dia bersabar. Bahkan aku sudah menyuruh supir untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi supaya segera sampai rumah sakit. Tapi kepanikanku semakin besar saat melihat Sabrina terkulai tak sadarkan diri dengan darah yang mulai mengalir di kakinya.
"Sabrina.. bertahanlah aku mohon..."
Aku hanya bisa berdoa dan memeluk Sabrina erat. Sesampainya di rumah sakit Sabrina langsung dibawa ke ruang operasi dan aku terkulai lemas duduk di depan ruangan. Rasanya aku sangat ketakutan dengan kondisi Sabrina bahkan aku tidak menyadari jika pakaianku sudah bersimbah darah.
"Stefan.."
"Ibu ayah..."
Kedua orang tua bergegas mendatangiku dengan wajah khawatir. Bahkan mereka datang ke rumah sakit dengan pakaian yang sangat santai karena khawatir dengan keadaan menantunya.
"Bagaimana kondisi Sabrina?"
"Dia sedang dioperasi bu... tadi dia tak sadarkan diri" ucapku lesu dan terus mengusap wajah karena merasa cemas.
Tanpa mengatakan apapun lagi, ibu hanya memeluk dan menenangkanku. Dia juga memintaku untuk segera mengganti baju yang bersimbah darah. Tapi tetap saja aku merasa risau, jangan sampai terjadi sesuatu dengan Sabrina. Bagaimana aku bisa menjalani hidup jika tanpa dirinya? Tidak... tidak aku harus optimis Sabrina baik-baik saja.
Selama 4 jam operasi caesar dilaksanakan, dokter memberitahu kami jika bayi kami dalam keadaan sehat dan berjenis kelamin perempuan. Tapi kondisi Sabrina malah kritis dan saat ini Sabrina berada di ruang ICU. Hal ini karena dulu Sabrina pernah keguguran sehingga proses persalinannya jadi sulit.
Sontak kakiku rasanya lemas sekali, bagaimana bisa begini.. padahal aku sudah membayangkan masa depan yang indah bersama Sabrina dan anak-anak kami kelak. Kalau aku harus kehilangan Sabrina jelas aku tidak bisa menjalani hidup yang keras ini...
"Dokter apa saya boleh bertemu istri saya?"
"Boleh tapi anda tidak bisa berlama-lama di ruang ICU"
Setelah itu aku langsung mendatangi ruang ICU dengan memakai APD dan ku lihat Sabrina tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat dan aku benar-benar tidak bisa melihatnya begini. Dengan segera aku mencium tangannya yang dingin dan hanya bisa menangis. Sabrina kamu sudah berjanji akan bersamaku sampai hari tua nanti.. aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri. Anak kita sangat membutuhkanmu sayang...
....................
Setelah satu jam lamanya dengan berat hati aku meninggalkan Sabrina sendiri di ruang ICU dan pergi menuju ruang bayi. Anakku terlihat sangat cantik dan menggemaskan seperti ibunya. Lagi-lagi air mataku jatuh dengan derasnya.. bagaimana bisa aku menjalani hidup tanpa istriku? Apalagi anak kami pasti sangat membutuhkan ibunya.
"Anakmu cantik sekali Stefan.. kamu harus sabar dan tetap berdoa semoga Sabrina bisa segera sadar..."
Sejak tadi ibu memang menunggu cucunya dan dalam beberapa jam ibu memutuskan untuk membawa anakku pulang karena kondisinya sangat sehat. Aku setuju dan meminta tolong supaya ibu mau menjaga anakku untuk saat ini.
"Ibu aku takut.. bagaimana kalau Sabrina pergi meninggalkanku selamanya?"
"Apapun takdir Tuhan itulah yang terbaik, kamu harus yakin keajaiban itu ada tapi jangan lupa juga berserah diri pada-Nya..."
