42- Pregnant I

784 21 0
                                        

Mohon memberikan vote nya!!!!





Sabrina

Menjadi seorang mahasiswi dan istri tentu saja tidak mudah dalam menjalaninya. Aku harus bangun pagi untuk memasak dan menyiapkan pakaian Stefan, belum lagi aku juga harus mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian hingga mengepel lantai. Meski ada maid di rumah kami, namun mereka hanya datang di sore hari dan itu pun hanya membersihkan rumah serta memasak saja. Alhasil di pagi hari aku harus memasak sendiri apalagi suamiku agendanya tergolong padat karena dia harus menjadi asisten dosen, mengajar les sekaligus fokus di perkuliahannya. Aku pun merasa heran karena Stefan bisa menjalaninya dengan baik.

Stefan tidak pernah mengeluh dan mencela masakanku. Dia bisa makan apa saja dan tidak pilih-pilih bahkan sesekali dia membeli sarapan sendiri untuk dimakan kami berdua jika aku tak sempat memasak. Stefan bukan merupakan sosok suami patriarki dan dia sangat pengertian.

Stefan bilang aku tak perlu memaksakan diri dalam melayaninya. Bahkan dia tak mau aku kelelahan dan menginginkan agar aku tetap fokus kuliah saja. Tapi sekarang aku sudah dewasa dan ingin menjadi istri yang baik untuk Stefan. Sudah cukup aku bersikap kekanak-kanakan di masa lalu dan ingin menebusnya di masa sekarang.

Perkuliahan berjalan dengan sangat lancar dan aku bisa mengikutinya dengan baik. Walaupun sesekali kepala ini merasa pusing karena banyaknya rumus yang harus dipecahkan. Tapi aku tidak menyerah dan selalu mendekam di perpustakaan untuk belajar. Namun saking asyiknya belajar aku sampai pernah lupa waktu dan pulang pukul 9 malam. Alhasil Stefan buru-buru menjemputku dan wajahnya sangat khawatir. Jika sudah berambisi dengan sesuatu aku memang cenderung lupa akan segalanya.

Kami sering bertemu di kampus entah itu saat perkuliahan atau berpapasan di jalan. Semua orang juga sudah tahu jika aku itu istri Stefan sehingga beberapa diantaranya sering bersikap sinis padaku. Bahkan ada yang menyindirku keganjenan atau memiliki wajah yang terlalu biasa untuk Stefan yang tampan. Terserah saja mereka mau mengataiku apa karena mereka toh tidak membiayai hidupku.

Tentu aku juga sama sekali tak peduli karena ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dulu saat pertama kali pernikahan rahasia kami bocor. Aku mulai terbiasa dengan orang-orang yang membenciku dan menganggapnya sebagai angin lalu saja. Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita bukan?

"Sabrina lo dicariin tuh sama Pak Stefan" ucap salah satu teman sekelas saat aku berada di perpustakaan.

"Oh ya? Oke makasih ya atas infonya!"

Saat ini setelah jam makan siang biasanya aku berada di perpustakaan untuk belajar. Aku berubah menjadi sosok yang kutu buku tapi aku tidak peduli. Bahkan ini lebih baik daripada menjadi pusat perhatian yang jelas membuatku tidak nyaman.

Setelah beres-beres peralatan belajar dan sampai ruangannya dia langsung menarikku untuk duduk di sebelahnya. Stefan memberiku banyak buku dan semuanya merupakan buku selama dia kuliah S1 dulu.

"Aku dapet ini di gudang kampus dan buku-buku ini sangat penting buat kamu kuliah"

"Buku ini keliatan cukup usang" ucapku sedikit keheranan.

"Karena memang sudah lama...."

"Oke... kalau gitu makasih ya aku bakal belajar lebih rajin lagi. Aku balik ke perpus dulu ya suamiku bye bye!

"Belajarnya disini aja...." Stefan mencegahku pergi dan mulai terlihat manja.

"Kalau aku disini nanti gak bakal fokus soalnya ada kamu" ucapku meminta pengertian.

"Yaudah tapi jangan lagi pulang telat ya!" Ucapnya mulai menyerah.

"Siap bos!!"




............................




Tanpa terasa aku sudah menjadi mahasiswi selama kurang lebih 6 bulan lamanya. Aku juga sudah mendapatkan IP yang lumayan bagus di semester 1 dan cukup merasa puas. Tapi akhir-akhir ini kondisiku mudah lelah dan tidak bisa berlama-lama di kampus. Bahkan aku seringkali merasa sakit di perut bagian bawah.

Entahlah aku tidak tahu kenapa kondisiku menjadi begini. Sambil melamun di kamar tiba-tiba aku ingat kondisi saat ini sangatlah mirip dengan kondisiku saat hamil dulu. Apalagi aku belum mendapatkan menstruasi di bulan ini, apakah aku memang hamil?

Dengan rasa cemas dan berdebar akhirnya aku memberanikan diri untuk mengeceknya. Ternyata hasilnya positif dan aku merasa sangat senang. Dengan tergesa-gesa aku menyuruh Stefan pulang ke rumah saat ini juga. Aku sudah tak sabar untuk memberitahukan kabar bahagia ini dan Stefan pasti sangat senang akan menjadi ayah lagi.

"Sayang kamu kenapa kok nyuruh aku cepet-cepet pulang? Aku kaget sama cemas banget lho!" Ucapnya sambil tergopoh-gopoh masuk ke kamar kami.

"Stefan aku punya kado buat kamu..."

Dengan segera aku mengambil tangannya dan memberikan test pack ini padanya. Awalnya dia tak mengerti tapi saat melihat ada garis dua di alat tersebut Stefan terlihat antusias dan menciumi seluruh wajahku dengan brutal. Selain itu kini usiaku sudah 19 tahun dan sudah cukup matang untuk menjadi seorang ibu.

"Kamu hamil lagi?" Tanyanya antusias.

"Iya..."

Setelah itu dia memelukku dan terus mencium pipiku berkali-kali. Akhirnya Tuhan mempercayakan lagi malaikat kecil pada kami dan aku bertekad akan menjaganya semaksimal mungkin untuk kali ini.

Berita ini membuat orang tua Stefan sangat senang dan akhirnya mereka mempekerjakan banyak maid agar standby di rumah kami. Stefan awalnya menolak ide ini tapi akhirnya dia luluh karena takut kehamilanku kenapa-kenapa lagi. Meski begitu tetap saja Stefan tampaknya merajuk karena dia terus diam tidak mengatakan apapun dan hanya menghela nafas panjang.

"Kamu marah hm..?" Ucapku sambil memegang tangannya yang besar.

"No.. aku cuma sedikit risih banyak orang yang akan tinggal bersama kita" ucapnya terlihat kesal.

"Cuma 3 orang aja kan?"

"Too many..."

Sambil tertawa ringan aku mulai membujuknya dengan mencium puncak kepala Stefan berkali-kali. Dia mulai tersenyum dan kembali mencium bibirku intens namun pelan. Namun posisi berdiri sangat menyulitkan karena tubuhku yang pendek sehingga Stefan membawa tubuhku di meja rias dan dia kembali menciumku dengan posisiku yang sedang duduk. Aku membuka mulutku agar kami bisa berciuman semakin dalam. Stefan langsung melesakan lidahnya dan menciumku terlalu intens. Sebelum dia menyentuhku lebih jauh akhirnya aku melepaskan tautan bibir kami duluan. Stefan terus menatapku dalam dan aku tersenyum sambil mengusap pipinya.

"Kamu harus puasa Stefan sampai kandunganku 4 bulan"

"Selama itu?" Ucapnya tampak tidak terima.

"Tentu saja.. "

Sambil menghela nafas panjang akhirnya Stefan hanya menganggukan kepala dan kami kembali berpelukan. Demi bayi kami tentu saja kami harus berkorban apalagi masa lalu yang menyedihkan membuatku sedikit ketakutan. Tapi aku tak mau terus terjebak dalam masa lalu dan mencoba terus berpikir positif. Jelas kehamilan ini harus dijaga dengan baik bukan?

Akhirnya kami tidur sambil berpelukan dan sesekali Stefan mengusap perutku lembut. Dalam posisi aku setengah tidur, Stefan menciumi perutku dan membisikan kata-kata cinta pada bayi kami. Aku hanya tersenyum sampai akhirnya tertidur pulas dalam kehangatan pelukannya.



Bersambung.....

PermataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang