Mohon memberikan vote dan komentar......
Stefan
Aku benar-benar sangat bahagia karena akhirnya Sabrina hamil lagi dan aku berjanji akan menjaga mereka berdua semaksimal mungkin. Apalagi kami pernah gagal menjadi orang tua di masa lalu tentunya hal tersebut merupakan pelajaran berharga yang tak akan pernah kami ulang di masa depan. Meskipun menjadi orang tua memang tak mudah tapi aku akan menjaga istri dan anakku meski dengan darah dan air mata. Memang sih bayangan masa lalu yang menyakitkan kerap hadir tapi sekuat tenaga harus kami tepis dan berusaha tetap berpikir positif.
Kondisi Sabrina saat ini sangat sehat meskipun kandungannya masih muda. Tentu saja aku pun berubah menjadi sosok suami siaga dan selalu pulang lebih awal karena mencemaskan istriku padahal Sabrina selalu meyakinkan diriku jika dia baik-baik saja. Alhasil pekerjaan sampinganku mulai ku bawa ke rumah dan kini murid-murid yang les matematika denganku mulai ramai dan berdatangan ke rumah juga akhir-akhir ini.
Karena baru berjalan 6 minggu, Sabrina terkadang mual dan muntah bahkan seringkali tidak bisa ikut kuliah karena keadaannya yang lemah. Namun kondisi ini tentunya tidak berjalan lama karena Sabrina selalu rutin mengonsumsi vitamin, susu dan berbagai suplemen penguat kandungan lainnya sehingga lambat laun dia mulai bisa beraktivitas lagi.
"Pulangnya nanti aku jemput, terus jangan sampai kecapekan ya!" Ucapku saat mengantar dia sampai depan kelas
"Iyaa Stefan bawel.. udah kamu gak usah terlalu cemasin aku..." balasnya jengah karena aku memang sangat protektif.
"Istri aku lagi hamil lho masa iya aku gak khawatir?"
"Udah sana kamu fokus kuliah sama riset juga.. aku baik-baik aja kok"
Dengan berat hati akhirnya aku pergi menuju ruang mahasiswa pascasarjana setelah mencium puncak kepala Sabrina. Kami memang tidak pernah lagi malu menunjukkan kemesraan di depan umum apalagi satu fakultas sudah tahu jika aku dan Sabrina sudah menikah. Lagipula kini Sabrina sudah berusia legal dan wajar-wajar saja jika kami sudah menikah.
Tentu saja menghadapi ibu hamil memang tidak mudah dan rasanya nano-nano sekali. Hampir setiap malam Sabrina selalu menyuruhku bangun dan meminta untuk dibelikan berbagai macam makanan. Beberapa hari yang lalu saja Sabrina menyuruhku membeli permen yupi pukul 2 pagi. Lalu tadi malam dia menyuruhku membeli tahu gejrot yang bahkan aku tidak tahu dimana makanan tersebut dijual. Memang calon anakku ini sangat banyak maunya tapi aku juga tak tega untuk menolak.
Mengingat masa-masa ngidam Sabrina memang cukup lucu dan menghibur. Pernah suatu ketika dia memintaku memasak mi instan malam-malam tapi dia juga yang menyuruhku untuk memakannya. Padahal boro-boro makan mie instan, aku hanya ingin tidur pulas karena agendaku di siang hari yang padat. Tapi dengan penuh kesabaran aku tak pernah mengeluh karena ini keinginan calon anak kami.
.......................
Tidak terasa kandungan Sabrina sudah genap 9 bulan. Perjuangan kami dalam menjaga jabang bayi tersebut memang tak mudah. Tapi aku juga tak sabar ingin segera menjadi seorang ayah dan berkali-kali membaca ilmu parenting agar bisa menjadi ayah yang baik bagi anakku kelak. Terlebih peran ayah sama pentingnya seperti peran ibu dan aku tak mau asal-asalan dalam mendidik anak-anakku kelak.
Tapi prosesi persalinan tentu membuat Sabrina sedikit khawatir karena memang memerlukan perjuangan yang luar biasa. Oleh sebab itu aku terus menghibur dan meyakinkan dirinya semua akan baik-baik saja. Padahal aku sendiri pun tentu saja merasa was-was apalagi ini pertama kalinya aku mendampingi Sabrina yang akan melahirkan.
Kini di kehamilannya yang sudah 9 bulan, Sabrina memutuskan cuti kuliah. Meskipun itu tandanya perkuliahan Sabrina akan sedikit terlambat daripada teman-teman satu angkatannya tapi Sabrina tidak masalah. Dia ingin memprioritaskan kehamilannya dulu dan bagi Sabrina tentu keluarga lebih penting dibandingkan apapun.
"Kamu dari tadi liatin aku terus, memang wajah aku kenapa sih?"
Saat ini aku memang tengah menatap Sabrina dengan intens karena aura keibuannya semakin kuat saat dia tengah hamil. Entah kenapa Sabrina tampak dewasa meski baru berusia 19 tahun mungkin ini memang faktor dia yang akan segera menjadi ibu. Sangat berbeda seperti dulu saat masa-masa sekolah.
"Kamu cantik masa aku gak boleh liatin istriku sendiri..." balasku sambil mengusap pipinya dan dia mulai mencibir.
"Mulai deh menggombal.. cantik gimana sekarang kan aku gendut!"
"Iya kan kamu lagi hamil makanya gemoy sayang.. " ucapku tertawa.
"Stefan ke kampus gih! Kamu di rumah terus malah jadi aneh..."
Entahlah semakin hari aku memang semakin sering memuji Sabrina dan selalu blak-blakan dengan perasaanku. Tapi ini semua murni dari hati yang paling dalam bukan karena aku yang jago menggombal.
"Jadwal HPL kamu itu lusa Sabrina masa aku malah ninggalin kamu sendiri.."
"Iya deh suami paling siaga..."
Aku hanya tertawa mendengar ocehannya dan mulai mencium puncak kepalanya. Aku yakin Sabrina juga merasa berdebar karena waktu melahirkan sudah sangat dekat namun dia tidak menunjukkannya padaku. Tapi Sabrina mengaku belum merasa mulas sama sekali meski waktu HPL sudah dekat. Bahkan diam-diam dia masih mencari nama yang bagus untuk anak kami tapi tak memberitahuku sama sekali.
Aku juga mulai mencium perut buncit Sabrina dan mengajak bayiku bicara. Katanya metode ini sangat bagus supaya bayi dalam kandungan kami bisa berkembang pesat dan cerdas. Apalagi sesekali anakku menendang saat tengah mengobrol dengannya. Tentu saja aku sangat bahagia dengan situasi ini.
"Stefan kalau misalnya aku pergi duluan, kamu harus janji bakal jagain anak kita ya...."
Tiba-tiba suasana mulai melow dan Sabrina berbicara hal yang sangat tak ku sukai. Aku yakin Sabrina dan anakku akan baik-baik saja dan kami bisa merawat anak kami sampai usia senja. Tapi karena banyaknya kasus persalinan yang bermasalah membuat Sabrina terkadang melow padahal aku sudah meyakinkannya untuk terus bersikap optimis.
"No.. jangan pernah bilang kaya gitu karena kita berdua yang akan merawat anak kita sampai dewasa..."
"Kamu tahu kan kita gak tahu soal masa depan.."
"Kamu bakal sehat dan melahirkan dengan lancar Sabrina.. jangan pernah pesimis dan mengucapkan hal kaya gitu lagi!!" Ucapku dengan tegas.
"Iya deh iya.. "
Sabrina berinisiatif memelukku duluan dan ku balas sambil mencium pipinya lembut. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja dan Sabrina pun pasti bisa melahirkan dengan lancar. Rasa yakin ini membuatku kuat dan optimis semuanya akan baik-baik saja.
Aku berinisiatif untuk mencium bibirnya dengan lembut dan tulus. Cintaku padanya sangat besar namun beberapa saat kemudian Sabrina melepaskan ciumanku dan dia mulai kesakitan.
"Stefan ketubanku tampaknya udah pecah.."
Cairan putih memang mulai merembes keluar dan seketika itu juga aku langsung menggendongnya dan menyuruh supir untuk segera membawa kami ke rumah sakit. Wajah Sabrina mulai pucat dan aku mulai panik.
"Sabrina sebentar lagi kita sampai rumah sakit, tolong bertahan ya sayang...."
Bersambung......
