40 - Being mathematics student

377 22 0
                                        

Mohon memberikan dukungannya berupa vote!!








Sabrina

Aku merasa sangat lega dan bahagia karena akhirnya bisa lulus SMA dengan nilai yang cukup bagus. Bahkan aku tak menyangka bisa mendapat nilai yang bagus juga untuk pelajaran matematika karena selama ini aku merasa bodoh dalam pelajaran tersebut. Tentu saja Stefan pun cukup kaget karena nilai matematikaku yang bagus seolah ini merupakan keajaiban Tuhan yang diberikan padaku. Entahlah mungkin saja aku mempunyai bakat dalam matematika hanya saja aku tak sadar.

Tentu saja selama ini aku mengerjakan semua soal ujian dengan jujur dan bersungguh-sungguh. Bahkan semua yang Stefan ajarkan aku ulang-ulang terus sampai benar-benar memahami. Mungkin memang matematika itu tak terlalu buruk dan aku hanya perlu mengenalnya lebih jauh. Kadang kita sudah ketakutan duluan hanya karena melihat angka-angka padahal jika ditelaah lebih jauh tidak sesulit itu.

Karena sudah lulus SMA tentu saja Stefan langsung bertanya aku akan kuliah dimana dan dia sudah menyiapkan dana yang cukup untuk kuliah. Sejujurnya aku bingung apa jurusan yang akan ku pilih apalagi aku merasa biasa-biasa saja dalam semua pelajaran. Meskipun aku akui sangat menyukai bahasa inggris tapi entah mengapa aku cukup ragu dalam memilih jurusan sastra inggris untuk kuliah entah apa alasannya.

"Seminggu lagi tes masuk perguruan tinggi akan dilaksanakan, lebih baik segera kamu pilih mau kuliah dimana dan jurusan apa" tanya Stefan setelah makan malam.

"Hm.. kamu benar Stefan tapi aku masih bingung apa jurusan yang akan ku pilih"

"Terus kamu mau kuliah dimana?"

"Di Universitas Jaya Abadi biar bisa bareng kamu hehe" kalau bisa terus bertemu Stefan kenapa tidak kan?

"Dasar!! Yaudah kalau gitu sekarang tinggal milih kamu mau kuliah di jurusan apa..."

"Fyuh.. baiklah..."

Lama aku memikirkan jurusan apa yang akan dipilih, saat tengah malam akhirnya aku mantap memilih 2 jurusan ini. Ya.. di Universitas Jaya Abadi memang memberikan kita kesempatan untuk memilih 2 jurusan dan aku berharap salah satu jurusan itu bisa meloloskan calon mahasiswa yang mendaftar. Entah mengapa aku memilih 2 jurusan yaitu sastra inggris dan matematika. Mungkin aku memang sudah gila karena memilih matematika dan malah berharap bisa masuk di jurusan sastra inggris. Ada rasa sayang jika nilai matematika itu tidak ku gunakan.

Jika aku baru akan melaksanakan ujian masuk, lain halnya dengan Stefan. Dia sudah resmi menjadi mahasiswa pascasarjana Universitas Jaya Abadi dan tentu saja dia memilih jurusan matematika. Stefan mulai mendaftar kuliah saat aku ujian sekolah dan dia memang alumni disana sehingga mudah saja untuk lolos.

Karena sudah bukan guru SMA Pelita Dunia lagi, kini Stefan sesekali mencari uang tambahan dengan mengajar privat pelajaran matematika. Entahlah Stefan selalu begitu bersikeras mencari uang yang banyak karena dia bilang seorang suami harus mencari nafkah untuk istrinya. Padahal ayahnya sendiri merupakan pengusaha di bidang kuliner dan restorannya memiliki banyak cabang yang tersebar di Jakarta tapi Stefan tidak mau membantu dan malah mencari uang dengan mengajar les. Katanya dia belum ada ketertarikan membantu usaha ayahnya untuk saat ini.

Tapi kondisiku yang sempat keguguran membuatku merasa bersalah hingga merasa tak layak lagi hidup di dunia. Namun Stefan meyakinkan jika ini bukan kesalahanku dan urusan anak merupakan rezeki dari Tuhan. Jika kami kemarin gagal menjadi orang tua, masih ada kesempatan di masa yang akan datang. Beruntung masalah ini tidak ku biarkan berlarut-larut dan kini mulai fokus untuk mengenyam pendidikan tinggi.

"Sayang aku berangkat ya.. nanti aku pulangnya jam 8 malam jadi kamu makan duluan aja.."

"Iya kalau gitu hati-hati.."

Stefan memang mengajar privat setelah magrib dan baru pulang pukul 8 malam. Dia mengajar anak SMP, SMA bahkan para alumni yang berjuang untuk masuk ke perguruan tinggi hampir setiap hari. Setelah itu Stefan mencium keningku lembut dan aku mencium tangannya sebelum dia berangkat. Melihat kegigihan Stefan dalam mengejar cita-cita dan menafkahiku tentu saja membuat semangatku untuk kuliah semakin besar.

Apalagi waktu ujian masuk perguruan tinggi tinggal beberapa hari lagi sehingga aku mulai semangat belajar bahkan sampai lupa waktu. Aku ingin membuat Stefan bangga dan diam-diam masih menulis novel terbaru juga di sela-sela kesibukanku belajar.




..................







Tak terasa akhirnya waktu ujian pun hadir dan aku mulai memasuki ruang ujian setelah melambaikan tangan pada Stefan. Aku memang tidak terlalu berharap banyak dan hanya mengerjakan soal sebisanya. Apapun hasilnya aku akan menerima dengan lapang dada dan merasa cukup puas sudah sampai ke tahap ini. Kalau gagal mungkin aku bisa mendaftar di perguruan tinggi lain saja.

Waktu ujian yang hanya 2 jam tanpa terasa sudah habis. Setidaknya aku sudah berusaha dan urusan lulus apa tidaknya aku tidak tahu. Saat keluar ruang ujian Stefan sudah menungguku dan aku segera memeluknya erat. Kini setelah pernikahan rahasia kami bocor aku tak malu-malu lagi menunjukkan kemesraan kami di depan semua orang.

"Gimana ujiannya?" Tanya Stefan tampak penasaran.

"Hm.. aku gak tahu ah sudahlah jangan dibahas.." balasku merasa mendung karena soal-soal ujiannya memang cukup sulit.

"Yaudah gimana kalau hari ini kita kencan sepuasnya?" Ucapnya mulai menghiburku.

"Aku mau Stefan!!"

Suamiku satu ini memang paling pengertian sedunia. Sepanjang hari kami jalan-jalan ke taman hiburan dan lambat laun aku tak lagi memikirkan ujian tadi. Apapun hasilnya nanti aku harus tetap mensyukurinya dan kalaupun gagal aku masih bisa mencoba tes di tempat lain bukan?

Tak terasa waktu pengumuman ujian pun datang dua minggu kemudian. Tentu saja aku merasa gugup sekaligus cemas melihat hasilnya. Bahkan aku malah menyuruh Stefan membuka hasilnya di website universitas Jaya Abadi dan aku sendiri tak mau melihatnya. Apapun hasilnya aku iklas walaupun merasa gugup dan berdebar juga.

"Sabrina..."

"Gimana hasilnya Stefan??" Tanyaku sangat penasaran.

"Hm... kamu harus sabar ya.." balasnya pelan.

"Ah jadi aku gak lolos ya?" Tanyaku mulai bersedih hati.

"Kamu lolos di jurusan matematika sayang... selamat ya!!"

Ucapan Stefan membuatku kaget bukan main. Padahal aku yakin sekali takkan bisa lolos di jurusan matematika, tapi hasil malah berkata lain. Lucu sekali hidupku ini, aku yang dari dulu mengatakan tak cocok dengan matematika malah bertemu lagi dan kuliah di jurusan ini. Stefan yang melihatku kaget dan tak percaya langsung menyodorkan laptop nya.

Aku merasa lega dan bersyukur ternyata bisa kuliah apalagi satu jurusan dengan Stefan. Kabar membahagiakan ini tentunya harus kami rayakan sehingga Stefan mulai menghubungi teman-temannya begitupula aku. Kami membeli makanan cukup banyak supaya bisa dinikmati bersama-sama. Semoga aku bisa menjalani kuliah dengan lancar dan bebas hambatan meski aku yakin kuliah di jurusan matematika tentu tidaklah mudah.



Bersambung......

PermataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang