18% Not Different

171 18 4
                                        

Pada pinggiran parkiran itu, Khanza, Hema, Kanda, Tirta dan Aji berada disana. Khanza mendesis kesakitan saat pipinya yang luka itu diolesi obati merah oleh Hema. Begitu juga dengan Hema yang juga ikut meringis melihat luka diwajah adiknya itu seolah ikut merasakan luka itu. Perlu diketahui juga, walaupun tampang keduanya ini sama-sama seperti berandal, Hema dan Khanza itu jarang sekali bertengkar. Mereka termasuk rukun dan saling menyayangi untuk ukuran saudara laki-laki.

“Yang ini juga luka.” Tunjuk Khanza pada pelipisnya yang sempat terbentur pot.

Hema menggelengkan kepalanya sambil berdecak melihat ada darah yang mengering disana lalu mengambil kapas bersih untuk menuangkan obat merah, “Ngapain juga ikut-ikutan! Udah bener nongkrong makan bubur aja, sekalian pas pulang  nungguin anaknya Mas Aji!”

“Ya kalian juga ngapain?” Balas Khanza nyolot, “Bilangnya mau kondangan tapi malah pergi bawa pasukan! Mana ada kondangan bawa pistol kaya Bang Apsel tadi?!” ia lalu menaikan dagunya pada Kanda yang kebetulan tengah menggeser pintu mobil, “Ni juga, Mas Kanda sampe keluar kamar dan bawa harta kesayangannya. Kalian nyari apa sih di rumahnya Noah?”

Disitu Hema hanya membuang napas pelan dan masih membersihkan darah di pelipis Khanza, “Lo masih kecil gak usah ikut-ikutan. Bahaya, nanti lo kenapa-kenapa. Biar gue aja.”

“Ya harusnya lo kasih tau dong alasannya.”

“Kalian gue kasih tau juga gak bakal percaya.”

“Percaya kayanya. Kan masih bocah. Gampang dikibulin.” Tahu-tahu Aji sudah berjongkok didepan Tirta sambil mengambil alih kapas ditangan bocah itu dan membantu mebersihkan luka ditulang pipinya, “Sini, Mas bantu obatin.”

“Emang ngapain sih?”

Hema lantas terdiam sejenak memandang Khanza. Laki-laki itu tahu betul bagaimana sikap Khanza padanya. Adiknya itu tidak akan membiarkan dirinya berjalan terlalu jauh. Katanya Khanza ia hanya ingin terus beriringan dengan Hema. Khanza juga tidak suka jika ada rahasia diantara mereka. Alhasil Hemapun membuang napas panjang sambil membuang kapas kotor itu, “Gue lagi nyari emas.”

Saat itu juga Khanza langsung memasang wajah tak paham, “Hah?”

Hema tau ini akan sedikit rumit untuk dijelaskan, namun jika tetap disembunyikan nyawa adiknya pun juga bisa dalam bahaya. Lagipun, Hema dan teman-temannya sudah terlanjur ketahuan. Mustahil Khanza tidak menganggap ini serius, mengingat Aji saja sampai totalitas menyamar tadinya.

Hema lantas menutup obat merah yang baru ia gunakan itu dan mengembalikannya dikotak, “Intinya gue sama orang-orang lagi ngincer emas yang ada dibawah sekolah lo.  Di bawah perpustakaan, dan itu cuma bisa diambil pake satu kunci, yaitu tombol yang ada di rumahnya Noah itu.”

Semetara itu Khanza yang kepalanya habis terbentur pot semen itu masih melongo mendengar penjelasan Hema. Harusnya yang otaknya kegeser adalah dirinya, nuka Hema. Kalau Afsel dan Bisma yang cerita begini, Khanza mungkin akan percaya sambil mewajarkan mereka dan bilang, “Ya wajar, kepalanya pernah dipukul galon sama Mas Agam. Mungkin otaknya merosot sampe dengkul.”

Tapi kalau Hema yang bicara seperti ini, ini agak sulit dipercaya.  Hema masih bisa dibilang normal dibanding teman-temannya. Maksudnya otak Hema itu masih nalar walaupun bergaul dengan Bisma dan Afsel. Lalu bagaimana bisa Hema buat cerita ada emas dibawah sekolahnya?!

Disitu Khanzapun hanya meletakkan punggung tangannya didahi Hema lalu meletakkan lagi dibokongnya, “Lo mabuk ya Hem? Apa sakit?”

Lalu Tirta yang dahinya baru saja dipasang plester itu terkikik lalu memandang Aji, “Ceritanya persis cerpennya Asoka. Kalian pasti ngarang kan?”

Namun Aji langsung bangkit sambil berkacak pinggang memandang Khanza dan Tirta yang malah tertawa mendengar cerita Hema, “Ya menurut lo aja? Kalo gue ngarang ngapain Mas Agam sampe ikut-ikutan lo kira Mas Agam segabut itu ngeladenin kita-kita?” 

THE TIM Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang