Sabtu, 22.05
seorang pria muda sedang menyusuri lorong dengan derby shoes yang melekat apik di kaki jenjangnya menghasilkan detak menggema di seluruh gedung, tangan kanannya di selimuti sarung tangan latex hitam menyeret kapak dengan bercak darah kering di gagang nya bersamaan dengan tangan kiri yang sedang bermain spinning dengan belati kesayangannya sesekali menyeringai dan terkekeh mengingat pikiran liarnya yang menyenangkan. Jiwa yang tak kenal ampun jika sudah mengajak lawannya bermain.
dia bawa langkah gontai nya menuju pintu di ujung lorong.
"ready to play with me?" ucapnya sendirian terkekeh membayangkan ekspresi gembira lawan bicaranya.
"mari rayakan keabadianmu di surga dengan permainan menyenangkan tuan." ucapnya setelah memasuki ruangan berisi satu pria paruh baya yang menggigil ketakutan.
"sudah ku katakan aku paling benci teritorialku di usik tikus kecil sepertimu."
"am...ammpun"
"aaaa....ampunii ak..akkuu" ucapnya tergagap ketakutan.
Di lemparnya belati di tangan kiri nya merasa gemas dengan ekspresi orang di sebrangnya.
aaaarrrggghh!!! menancap tepat di sebelah bahu kiri.
"merdu sekali nyanyianmu tuan." Javeed terkekeh.
"sayangnya aku meleset."
"mungkin jika ku gunakan tangan kanan akan tepat di jantungmu." lanjutnya.
Dia buka sedikit kerah jas nya, meraih belati yang kedua. Namun sebelum di lempar dering ponsel nya berbunyi nyaring memenuhi ruangan di rogoh saku celana nya dan melihat nama yang terpajang "peri kecil" senyumnya merekah menoleh ke arah pengawal menggerakkan kepala ke arah lawan.
pengawal yang paham maksud boss nya berlari untuk membekap mulut pria paruh baya tersebut, di gesernya simbol berwarna hijau.
"hei cantik." ucapnya ramah dengan senyum merekah indah.
"..."
"abang lembur dek."
"kenapa asya belum tidur hmm?"
Javeed terkekeh mendengar jawaban seseorang yang dia beri nama peri kecil tersebut.
"baiklah abang pulang."
Di putusnya sambungan telpon tersebut tatapan yang tadinya ramah penuh sinar bahagia secepat kilat kembali berubah menjadi tatapan tajam menyebarkan rasa menggigil kepada lawannya seperti dua orang berbeda dalam satu wajah.
"urus dia."
"aku akan pulang."
"baik Boss."
Keluar ruangan dengan langkah santai bibirnya menukik sedikit ke atas membayangkan peri kecil nya menyambutnya dengan senyum lebar.
Dia tancap gass Ferrari hitam gaharnya menembus hawa sejuk gelapnya bentala menuju rumah megah bernuansa classic modern yang selama ini menjadi tempatnya menghilangkan penat.
•••
22.56
Dia lepas atribut sarung tangan nya. Baru saja memasuki pintu utama seorang gadis kecil yang cantik berlari merentangkan tangan ke arahnya dan dengan senang hati dia sambut.
Di gendong dan di usap lembut surai panjangnya
"tidurlah abang temani" ucapnya menyandarkan kepala adiknya di bahu.
•••
Minggu 09.00
Kakak beradik yang saling menyayangi ini sedang berada di taman belakang bermain piknik-piknik an.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDERCOVER | JOONGDUNK
Romance[BELUM REVISI] Seorang Mafia berdarah dingin terkenal dengan sifat kejam tanpa ampun namun mempunyai sisi lembut hanya kepada adiknya. Jatuh cinta dengan pemilik kedai kopi karena pertemuan yang dia anggap menarik. 18🔞 BxB BxBshipper
