POV PHOENIX
Setelah Phoenix meninggalkan lokasi semalam dia pulang ke condo Shailen, menunggu sahabatnya namun sampai pagi pun Shailen tidak pulang. Dia memutuskan pulang ke condo nya untuk nanti memeriksa Shailen ke kedainya.
~~~
06.45
Javeed benar-benar tidak tidur semalaman. Matanya tidak merasa lelah sedikitpun meskipun telah bersandingan dengan alkohol, semalaman dia habiskan waktunya dengan bermain billiard ataupun dart board tiba-tiba suara notifikasi pesan masuk terdengar Javeed meraih ponselnya membaca pesan dari kepala pelayan yang berisi informasi bahwa orang-orang yang membawa Shailen ke penjara dalam telah berada disana.
Javeed melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya menuju penjara dalam untuk menemui orang-orang yang di maksud.
Masih dengan pakaian semalam yang melekat di tubuhnya dia menuju ruangan khususnya yang berada di lantai dua. Ia kenakan sarung tangan hitamnya dan membawa beberapa barang.
~~
Langkah pelannya menjamah lantai penjara dalam yang sejuk terkena hawa pagi, gemerincing suara rantai yang di seret membuat alunan indah di pendengarannya. tangan kanannya pun tak ingin kalah menyeret tongkat baseball menghasilkan dentuman merdu menggigit gagang belati cantiknya untuk membenarkan posisi rantai di genggamannya menambah kesan tersendiri dengan kepala pelayan yang setia mengikuti di belakangnya.
Dia berhenti sejenak.
"pergilah." ucapnya masih dengan tatapan lurus ke depan.
"dia akan bingung ketika bangun jika tidak ada siapa-siapa di sampingnya."
"layani dia seperti melayani aku dan Asya." ucap Javeed sedikit menolehkan kepalanya ke samping tanpa berbalik.
"baik tuan." jawab kepala pelayan merundukkan badan lalu pergi.
Javeed kembali melangkahkan kakinya beberapa meter berhenti di ambang pintu sebuah ruangan menatap nyalang satu persatu anak buahnya dengan bibir tersenyum membuat ketiga orang di dalam ruangan itu ketakutan.
"am...ampuni kami bo..booss." ucap salah satu dari mereka.
"ssssssttttt." Javeed meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya membuat rantai di tangannya kembali merangkai nada indah.
"bukan nyanyian seperti itu yang ku mau." dia menjeda ucapannya.
"katakan siapa yang ingin lebih dulu berpesta?" Javeed terkekeh melangkahkan kakinya menuju ketiga orang tersebut.
"am..pun tuan."
"ka..mi hanya melakukan pe..perintah seperti biasanya."
"apakah semalam aku mengatakan untuk membawanya ke penjara dalam seperti biasanya?"
"aaah memang bodoh aku ini."
"pelupa sekali."
Jarak mereka sudah cukup dekat tanpa ragu Javeed ayunkan tongkatnya menghantam kepala salah satu dari mereka. Tersungkur terlihat darah mengalir melewati pelipisnya dan dua orang yang lain semakin gemetar melihat itu.
Javeed tancapkan belatinya di tangan orang yang berada di tengah dan dia hantamkan rantai di genggamannya ke kepala orang terakhir.
Javeed benar-benar berpesta menggila bersama ketiga anak buahnya. Kemeja yang tadinya berwarna putih bersih kini penuh bercak merah darah.
Kegiatannya terhenti ketika matanya tiba-tiba gelap tertutup telapak tangan seseorang yang datang dari arah belakangannya.
•••
POV SHAILEN
Shailen baru saja bangun. Mata liarnya melihat sekeliling yang terasa asing baginya.
"anda sudah bangun tuan?" tanya seorang pria paruh baya berpakaian pelayan namun sedikit berbeda dari pelayan biasanya.
Shailen mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDERCOVER | JOONGDUNK
Roman d'amour[BELUM REVISI] Seorang Mafia berdarah dingin terkenal dengan sifat kejam tanpa ampun namun mempunyai sisi lembut hanya kepada adiknya. Jatuh cinta dengan pemilik kedai kopi karena pertemuan yang dia anggap menarik. 18🔞 BxB BxBshipper
