24. Pahlawan

4.1K 258 13
                                        

3 Bulan kemudian.

Laki-laki dengan mimik muka datar tegas menakutkan kini tengah menahan emosi membanting semua barang yang ada di mejanya menghampiri asisten pribadinya mencengkeram rahangnya kuat.

"kau bilang bocah tengik itu telah kabur membawa Blue Diamond hmm?" ucapnya menahan geram.
"tapi mengapa dia belum juga menyerahkannya padaku..!!!!!" Joseph benar-benar murka meninggikan suara dan asisten pribadinya hanya mampu memejam tak dapat menjawab karna cengkraman di rahangnya yang sangat kuat.
Joseph menghempaskan rahang tegas milik asistennya tersebut menangkup kedua pipinya melahap rakus bibirnya kasar menyalurkan emosi yang meluap.

Asisten tersebut meremas bahu Bossnya bukannya melepas Joseph justru mendorongnya ke tembok menempelkan badannya rapat-rapat menelusupkan lidahnya menelusuri isi mulut pria yang sedang berada di bawah kungkungannya.

Joseph melepas ciuman mereka dengan nafas yang sama-sama memburu.

"pergilah." usir Joseph kepada asistennya dia membenarkan sedikit kemejanya lalu keluar dari ruangan.

•••

Seorang laki-laki sedang duduk di sebuah ruang terbuka di tempat yang seorangpun tidak mengetahuinya. 

Menikmati kopi nya dengan di temani pikiran yang melalang buana.
Meraih ponsel yang beberapa bulan ini dia matikan daya untuk mencari ketenangan diri. Menghidupkan kembali ponsel tersebut dan langsung di berondong notifikasi namun satu pesan yang baru di kirim 2 hari yang lalu menarik perhatiannya.

"haaaaah." Shailen menghela nafas kasar.
"bajingan ini mulai membuatku muak."
"sampai sehelai rambutnya rondok, aku tidak akan mengampunimu." ucap Shailen sendirian beranjak pergi menuju kamarnya untuk mengotak-atik laptop miliknya.

(Di sisi lain)

Javeed berada di penjara dalam sedang bermain dengan seorang pengawal yang lengah menjaga peri kecilnya.

"beruntunglah aku tak langsung membakarmu hidup-hidup saat tau Asya di culik karna kecerobohanmu."
Javeed keluar menuju kediaman utamanya.

"gimana bang?"
"markas Joss sudah ketemu?" tanya Javeed melihat Fallen di ruang tamu, Fallen menggeleng.
Entah mengapa insting mereka sangat kuat mengarah bahwa Josephlah dalang di balik hilangnya Asya.

"tidurlah Jav."
"sejak Asya hilang kamu tidak tidur, menyusuri jalanan tanpa memperdulikan kesehatanmu."
Javeed terpancing emosi dengan ucapan Fallen. Badan yang kurang istirahat membuat emosinya tidak stabil.

"baang.!!!!"
"ini Asya bang, Asya yang hilang!!!!" ucap Javeed dengan nada tinggi penuh emosi.
"gimana Jav bisa tidur sedangkan satu-satunya harta berharga yang Jav punya hilang di culik orang."
Javeed lemas duduk bersandar memijit pelipisnya untuk meredakan kepalanya yang pening.

Pier duduk di samping Javeed mengusap bahu abangnya untuk menenangkannya.

"Asya pasti ketemu bang."
Javeed diam, kepalanya benar-benar berputar, satu per satu orang yang dia sayang meninggalkannya.

•••

Seorang Laki-laki dengan mimik muka santai namun menyimpan amarah yang siap meledak tengah berdiri di depan gedung kosong yang menjadi markas sebuah kelompok besar.
Menggenggam tongkat baseball yang di tumpukan di bahu nya menatap datar gedung tua tinggi di depannya. Berjalan santai tanpa takut menerobos masuk ke markas yang pemiliknya sedang tidak berada disana.

 Berjalan santai tanpa takut menerobos masuk ke markas yang pemiliknya sedang tidak berada disana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
UNDERCOVER | JOONGDUNKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang