3. Kebetulan tak terduga

6.6K 377 7
                                        

1 Bulan kemudian.

16.35

Hari yang mulai berganti dari warna biru menjadi indahnya warna keemasan di akasa yang membentang luas membuat Shailen bahagia karna menyukai nuansa senja.

"Pin lu bisa bikin kopi kan?." Yang di ajak bicara hanya menatap temannya.

"gw mau belanja kopi di toko biasanya." ucapnya memasukkan barang-barang yang di butuhkan.
"kalo ada pelanggan lu layanin dulu ya."

"emang belom tutup jam segini?" melihat jam tangan.

"belom."
"biasanya sih jam 8 baru tutup." Phoenix pun mengangguk mengiyakan.

Shailen pergi dengan bersepeda menggunakan headset mendengarkan lagu favorit nya untuk menuju ke tujuan, membawa tas dengan ponsel nya di taruh dalam saku celana.

Shailen pergi dengan bersepeda menggunakan headset mendengarkan lagu favorit nya untuk menuju ke tujuan, membawa tas dengan ponsel nya di taruh dalam saku celana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di tengah perjalanan tali tas nya putus jatuh ke tanah. saat Shailen ingin putar balik mengambil tasnya dia kehilangan keseimbangan dan menabrak tanaman pagar.

ketika menoleh kembali tasnya telah berada di tangan orang lain.

"hei tas gw." teriaknya.
"balikin atau gw teriakin maling lu ya."

Orang tersebut buru-buru masuk ke mobil pick up L300 nya dan berlalu meninggalkan Shailen.

"syalan apes banget hidup gw anj." umpatnya kesal pada dirinya sendiri.

Uang yang akan di gunakan untuk belanja kebutuhan toko telah raib di bawa orang lain. Di kayuh sepedanya kembali ke toko dengan perasaan kesal namun di tengah jalan ketika hampir sampai kedai dia melihat bocah kecil berjongkok merunduk menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.

"hei." gadis itu mengangkat kepala nya.

"kenapa?" tanya Shailen lembut menoleh ke kanan ke kiri melihat sekitar.
"mama nya mana?"

gadis itu menggeleng dengan polosnya dan kembali menangis.

"eh eh jangan nangis." Shailen panik.

"abaaaang." ucapnya dengan bibir bergetar.

"abangnya mana?" bocah itu kembali menggeleng.

"mau ikut nunggu disana sama kakak?" tunjuknya ke arah kedai dan bocah itu menoleh ke arah yang di tunjuk, diam lalu mengangguk.

"naik." Shailen menyuruh anak manis itu naik ke boncengannya namun di tolak.

"tidak apa-apa."
"nanti kakak pegangin."

Setelah di rayu bocah kecil itu mau duduk di boncengannya, Shailen menuntun dan memegangi bocah tersebut takut jika kaki nya akan terkena jeruji roda sepeda nya.

Mereka berdua telah sampai di depan kedai, berjalan bersama dengan bergandengan tangan membuka pintu kedai dan di sambut suara lonceng di atas pintu, sedangkan seseorang yang berada di dalam menatap heran kedua orang yang baru masuk.

UNDERCOVER | JOONGDUNKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang