"Kami menemukan Blackthorne."
Mereka sempat melupakan kuda Royce yang lari tunggang langgang karena diracun. Sayangnya kuda Royce terbujur kaku. Blackthorne tewas dengan mata terbelalak, lidah ke luar dan sekujur tubuhnya terasa kaku serta dingin. Royce berada di samping kudanya, menunduk muram. Pria itu mungkin menangis karena kehilangan sahabatnya yang paling setia. Para prajurit tak berani mendekat, hanya Sorcha yang berada di sisi Royce melindungi pandangan prajurit agar tidak melihat pemimpin mereka menangis. Setelah Royce puas bersama kudanya untuk yang terakhir. Pria itu menyuruh para prajurit mengubur Blackthorne dan memberi makamnya dengan tanda kayu salib. Blackthorne dianggap sebagai salah satu prajurit pemberaninya.
Sedang Annelis mondar-mandir di gerbang Kastil menunggu kedatangan Royce padahal prajurit sudah mengabarkan kalau Royce dan Eden selamat tapi kekhawatirannya tidak berkurang. Roul sudah di penjara bahkan sekarang terbukti kalau kakaknya berniat membunuh Royce.
"Kita bisa menunggu mereka di Kastil. Kepanikanmu ini mengundang perhatian penduduk. Mereka akan menyangka kalau Royce tidak baik-baik saja." Mendengar nasehat Echidna, Annelis malah mengigiti kuku.
"Aku benar-benar khawatir. Mereka lama sekali. Ini sudah gelap. Hujannya juga dari tadi sudah reda. Aku ingin menyusul mereka."
"Tidak perlu. Kau bisa teresat apalagi kau tidak pandai berkuda. Kau malah akan membuat masalah baru. Sebaiknya kita kembali ke kastil."
Annelis hanya bisa mengangguk patuh, menerima uluran tangan Echidna untuk kembali tapi baru beberapa langkah nyala obor kelihatan dari kejauhan. Royce dan Eden telah kembali.
Sorcha malu sekali harus berkuda menyamping bersama Royce. Pria itu mengungkit hal yang terjadi di antara mereka. Royce khawatir kalau ia berkuda dengan posisi biasa, bagian intimnya akan terasa sakit. Sorcha langsung memerah saat diingatkan hal itu.
Ketika mereka turun karena sudah tiba di Kastil. Annelis langsung menyambut mereka. Gadis itu memeluk Royce sambil menangis. Sorcha merasa telah mengkhianati wanita yang baik padanya ini, ingin melangkah pergi tapi Royce memegangi pergelangan tangannya.
"Maafkan kakakku, aku tidak tahu kalau dia akan mencoba membunuhku dengan racun yang ku simpan."
"Semua ini bukan salahmu. Aku selamat tapi kudaku mati. Racun itu digunakan Roul untuk membunuh kudaku."
"Ya Tuhan, maafkan aku Royce kalau aku tidak menyimpan botol itu. Kudamu pasti masih hidup."
"Roul jahat dan itu bukan kesalahanmu. Kalau kau tidak menyimpan racun, Roul pasti akan mendapatkannya dari tempat lain."
Annelis mengerti, lalu ia memandang Eden sebelum memeluknya juga.
"Terima kasih telah menyelamatkan Royce. Terima kasih...Eden."
Sorcha tak sanggup menjawab. Rasa terima kasih Annelis akan menjadi rasa benci ketika tahu apa yang terjadi padanya dan Royce.
**
Royce langsung turun ke penjara bawah tanah bersama Sir Gerald. ia ingin menemui Roul, ingin melihat muka sang penjahat secara jelas sekaligus memberi hukuman pada sepupunya itu dengan berat.
"Kau selamat?" sialan memang. Roul berucap seolah berharap dirinya mati.
"Iya. Kenapa kau takut?"
"Syukurlah. Sekarang aku bisa bebas. Perkataanku terbukti benar."
Royce menyunggingkan senyum culas sebelum meludah ke tanah. Roul manusia tidak tahu malu.
"Mana ada manusia bebas setelah mencoba membunuhku."
"Kau bicara apa Royce. Kita diserang oleh Eden dan aku dilukainya. Dia hanya pura-pura menolongmu agar terlihat baik."
"Tutup mulutmu yang busuk itu! Kau mencoba membunuhku. Kau tahu aku berada di tebing malah hendak menebasku dengan pedang!"
"Kau bicara apa?" Dan Roul masih tetap berpura-pura bodoh.
"Kau mencuri racun milik Annelis lalu memberikannya pada Blackthorn. Kalau Eden tidak datang, kau mungkin telah berhasil membunuhku!"
"Sepertinya ada kesalahan di sini." Wajah Roul pucat pasi. Pria ini mulai ketakutan.
"Blackthorn mati mengenaskan karena kau racuni. Kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Royce tegas dengan tatapan membunuh.
"Tolong ampuni aku Royce. Blackthorn hanya binatang sedang aku sepupumu, saudaramu."
"Potong kakinya yang terluka dan lempar dia ke luar Agrapia. Selamanya Roul tidak boleh menginjakkan kaki di Agrapia. Tanah yang dimilikinya harus dirampas dan menjadi milik anak keturunan Annelis!"
Roul langsung menjerit dengan hukuman yang sepupunya beri. Tak ia sangka kalau Royce akan setega ini. Bagaimana masa depannya kalau kakinya terpotong satu.
"Jangan lakukan ini padaku Royce. Jangan lakukan! Aku tidak akan mengulangi perbuatanmu, aku rela jadi pelayan atau apa pun agar kau mengampuniku!" Roul kini sudah tak punya harga diri. Apa pun akan ia lakukan demi bisa diampuni.
"Karena kau sepupuku. Aku hanya memotong kakimu dan menjadikanmu gelandangan setelah membunuh Blackthorne! Keputusanku tidak bisa diubah. Aku yakin Annelis juga tidak akan meminta pengampunan untukmu. Annelis sekarang tanggung jawabku dan kau tidak akan bisa mengganggunya lagi!"
Royce bisa lebih menjadi binatang tergantung musuhnya. Roul manusia paling licik dan serakah hukuman potong kaki terlalu ringan untuk pria itu. Walau Roul terus meraung, menangis darah sekalipun. Pria itu tak layak untuk diampuni.
Ketika ia kembali ke ruang kerjanya untuk menulis keputusan resmi tentang hukuman yang Roul terima. Annelis sudah duduk menunggunya dengan wajah sendu.
"Maaf. Harusnya aku tak di sini tanpa ijinmu."
"Apa kau ke sini untuk memohon pengampunan untuk Roul?"
"Tidak. Aku tidak peduli kau mau menghukumnya dengan hukuman apa. Dia sangat kejam dan jahat. harusnya aku menceritakan siapa Roul yang sebenarnya agar kau waspada."
"Itu sudah berlalu," jawabnya dengan muka sendu. Menghukum Roul adalah keputusan yang berat baginya. "Ada hal lain yang perlu ku bahas denganmu."
"Apa itu?" tanya Annelis bingung.
"Masalah pernikahan kita sebaiknya dibatalkan."
Annelis terkejut dan sedih mendengarnya. Royce satu-satunya harapannya dan pria ini memilih melepasnya. "Kenapa? Apa keputusanmu ada hubungannya dengan Roul. Kau takut kalau rakyatmu marah karena kau menikahi adik dari seornag penjahat?"
"Bukan Annelis. Keputusanku sama sekali tidak ada hubungannya dengan Roul."
"Lalu kenapa?"
"Aku menyukai wanita lain. Aku akan merasa bersalah ketika menikahimu tapi aku memikirkan wanita lain."
Annelis langsung nelangsa. "Ku kira kau menyukaiku. Selama ini kau sangat perhatian padaku."
"Aku berusaha membuka hati, mencoba mendekatimu. Siapa tahu perasaanku akan berubah tapi aku tidak bisa. Kalau aku nekat menikahimu, ini akan terasa tidak adil. Kau tidak mau kan setiap malam suamimu meninggalkan ranjangmu untuk tidur dengan wanita lain."
"Itu sangat mengerikan. Aku tidak bisa membayangkannya. Aku mengerti Royce. Aku juga tidak bisa memaksamu."
"Tapi jangan khawatir. Aku akan melindungimu. Kau akan ku buatkan pondok di Kastil. Kau sekarang tanggung jawabku. Harusnya ku lakukan itu dari dulu. Kau sepupuku, Annelis."
Annelis menangis haru. "Oh Royce kau tidak perlu melakukan ini semua untukku." Gadis itu langsung memeluk Royce.
"Aku perlu karena kau satu-satunya keluarga dekatku yang masih tersisa. Harusnya aku melindungimu dari kekejaman Roul. Maaf aku terlambat melakukannya. Mulai sekarang kau bagian dari Kastil Luwdon. Untuk sementara kau bisa tinggal di sini."
Sayangnya Annelis menggeleng. "Aku sudah bukan calon istrimu lagi. Aku tidak berhak berada di kamar Sella. Untuk sementara aku akan pindah ke rumah Sir Gerald."
"Akan ku perintahkan para prajurit untuk mulai membangun pondokanmu."
"Terima kasih Royce."
Royce juga mempunyai rencana lain untuk Annelis. Setelah pondok wanita itu jadi ia akan mencarikan wanita ini seorang suami dan Rupert adalah salah satu kandidat yang menyangkut di otaknya. Royce akan segera memanggil lelaki itu pulang.
**
KAMU SEDANG MEMBACA
Greywolf castle
Historische fictieSorcha, putri Baron Goldwil dari kastil Gerham di Fraline memiliki impian menjadi ratu Raja John. Sedari kecil Sorcha, diajari ibunya membaca, berhitung, menjadi nyonya rumah yang baik, diberi perbekalan ekstra tentang keterampilan mengatur negara...
